Selasa, 27 Desember 2016

Sekelumit Kisah Nabi Muhammad Saw oleh Paatje Agus Salim (8 Oktober 1884- 4 November 1954)



“Ia ada setiap kali dibutuhkan: di Volksraad, ketika sejumlah pribumi merasa sudah menjadi Belanda; di tangsi Pembela Tanah Air, yang kesulitan menerjemah istilah militer dalam Bahasa Jepang ke Bahasa Indonesia; di Badan Persiapan Kemerdekaan RI, saat kubu nasionalis dan kubu Islam nyaris mustahil bersepakat tentang dasar-dasar negara; dalam perundingan dengan Belanda di Linggarjati, lalu di atas geladak Renville; dalam hampir setiap masa genting negeri ini, sejak masih berupa embrio hingga pertengahan 1950-an. Indonesia beruntung punya...AGUS SALIM.[1]
***
Di bulan yang sama ketika tulisan ini diturunkan, Agus Salim, Pahlawan Kemerdekaan RI, genap 62 tahun sudah menghadap sang Pencipta. Sepak terjangnya dalam membidani kelahiran Republik ini sudah banyak diangkat oleh banyak peneliti yang berkecimpung di bidangnya. Kesimpulan besarnya adalah bahwa Agus Salim adalah orang Indonseia yang begitu istimewa. Yang tentu, tak pantas untuk dilupakan!

Prof. Dr. Ali Mustafa mengatakan, “Sebuah tulisan akan kekal sepanjang masa walaupun penulisnya terkubur di bawah tanah.” Demikian Agus Salim, lewat karya-karya yang diwariskannya, kita berusaha membaca lebih dalam kehidupan beliau. Memahami untuk meneladaninya.

Di antara 22buku yang dilahirkanAgus Salim serta 12 buku yang diterjemahkan, salah satu buku yang cukup tenar adalah buku berjudul Pesan-Pesan Islam terbitan Mizan. Buku ini adalah hasil kompilasiyang digagas oleh Dyon Soenharjo, cucu beliau, terkait materi beliau selama mengajar di Concell University, Amerika Serikat.

Kali ini kita akan menyinggung sekilas tentangKelahiran Muhammad & Perjalanan Dagang Ke Suriah pada buku Pesan-Pesan Islam karya Agus Salim tersebut.[2]

Ada dua pendapat mengenai kelahiran Nabi Muhammad Saw, ada yang mengatakan bulan 29 Agustus 570 M (Ramadhan, 50 hari pasca peristiwa Abrahah) ada juga yang mengatakan April 570 M (Rabi’ul Awwal).Pendapat kedua mengacu pada keserasian tanggal wafat Nabi pada 12 Rabiul Awal, juga berdasarkan kalkulasi hitung mundur usia Nabi. Keduanya terjadi pada tahun Gajah, bertepatan dengan tahun ke-40 pemerintahan Khosyrus Annusyirwan. Belum ada yang pasti benar antara keduanya.

Ada dua hadis yang mengatakan Nabi lahir pada tahun Gajah.

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضي الله عنهما - قَالَ: " وُلِدَ رَسُولُ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - عَامَ الْفِيلِ[3]
عن قَيْسِ بْنِ مَخْرَمَةَقَالَ: «وُلِدْتُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفِيلِ[4]

Selazimnya adat Arab, Nabi dibawa ke pedalaman untuk disusui. Keaslian dan kemurnian bahasa pedalaman adalah pertimbangan utama Nabi dibawa ke pedusunan, tujuannya agar Nabi memiliki tutur yang indah di kemudian hari. Halimah as-Sa’diyah dari Bani Sa’ad adalah nama perempuan beruntung yang berkesempatan melakkan tugas mulia itu. Tentu, dengan kisah perjumpaannya dengan Muhammad yang cukup menarik.

Muhammad tetap berada pada pengasuhan Halimah hingga beberapa tahun. Sampai pada tahun ke-4, Muhammad dibelah dadanya oleh Jibril untuk dibersihkan. Didasari kekhawatiran yang sangat bahwa Muhammad telah dirasuki Iblis, oleh Halimah Muhammad dikembalikan ke Aminah.

Disebutkan pula periwayatan saat Nabi dilahirkan memancarkan cahaya, dalam cahaya itu bisa dilihat benteng Basra dekat Damaskus. Serta riwayat mengurai peristiwa dibelahnya dada Nabi Saw.[5] Agus Salim juga menukil hadis bahwa seluruh utusan Allah pernah menjadi penggembala Kambing.[6]

Ibunya meninggal saat Muhammad berumur 6 tahun ketika tengah dalam perjalananpulang menuju kampung halaman. Ibunya wafat di Abwa. Setelah itu ia diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Tatkala kakeknya menutup nafas, Muhammad tengah berumur 8 tahun. Kemudian ia diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.

Kisah Kematian Abdul Muthallib dan tradisi meratapi calon mayat dibareng pujian-pujian. Hal ini selaras dengan tradisi Minang. Hingga lahir aliran kesenian tersendiri. Namun, pasca Perang Padri 1841, bersamaan dengan nyanyian-nyanyian ibadah lain, tradisi ratapan itu sirna oleh gelombang gerakan paham pembasmi bid’ah.

Belakangan, pasca berdirinya republik, harapan pelestarian itu muncul lagi.

Kisah perjumpannya dengan Bahira di perjalanan menuju Basra, Suriah. Mukjizat yang sudah tampak, juga sanggahan Muhammad atas sumpah demi Latta dan Uzza yang dilontarkan rahib,menguatkan tanda kenabian Muhammad Saw.Demikian pula peringatan agar menjauhi Yahudi oleh sang rahib.

Soal kenabian Muhammad, kata Salim, telah diramalkan dalam Injil, namun penyiarannya dianggap kontroversial oleh Voice Of America.

Pada Perdagangannya Ke Suriah Nabi menjelaskan kisahnya yang bermain dalam keadaan tanpa cawat, lantas datang suatu bisikan yang menyuruh Nabi untuk mengenakan kembali pakaiannya. Nabi pun memakainya. Persoalan ini memiliki hikmah bahwa Islam mengajarkan budi luhur. Islam menjunjung kehormatan diri.

Pada perang Fijar, meski belum baligh, ia diizinkan untuk berperang. Bertugas sebagai penjaga kesediaan anak panah.

Persinggungannya dengan Khadijah binti Khuwailid, dari mitra kerja menjadi mitra berkawan sepanjang hidup, merupakan satu hal yang romantis.Demi menghindari anggapan umum kaum Arab saat itu, Khadijah-lah yang kemudian melamar Nabi.Keduanya hidup langgeng selama 27 tahun. Melahirkan 2 putra : al-Qosim dan Abdullah, dan 4 putri : Zainab, Ruqoya, Umi Kaltsum, dan Fatimah.

Pernyataan seorang rahib bernama Jurjis bahwa Muhammad adalah Nabi merupakan penegasan bahwa bangsa Nasrani dan Yahudi tengah menanti kedatangan Nabi. Menunggu kedatangan al-Masih. Hal itu juga yang terjadi di daerah kelahiran Agus Salim. Menunggu tibanya Ratu Adil, dan ternyata orangnya adalah Tjokroaminoto, sahabatnya.

Terahkhir adalah ketika Nabi berusia 35 tahun, soal perselisihan mengenai siapa yang pantas untuk meletakkan hajar aswad ke ka’bah. Dengan cerdas, beliau menyiasatinya dengan pembawaan batu menggunakan kain dengan empat sisi, yang kemudian tiap sisinya dipegang oleh orang-orang yang bertikai tersebut. Demikian pula dengan pemasangan batu tersebut, di pegang tiap tepi dan dilesakkan ke tempat yang dimaksud secara bersamaan. Hal ini mengisyaratkan kebijakan Nabi Muhammad Saw dalam memutuskan sebuah perkara.

Demikian sekilas paparan mengenai kelahiran Rasulullah Saw dan kisah perdagangannya ke Suriah ala Paatje Agus Salim, sang poliglot yang rela hidup sederhana, jauh dari kaya, lantaran rajin mengkritisi kolonial Belanda. Meski demikian, beliau tidak lupa bahagia.

AGUS SALIM DAN KAJIAN HADIS

Mengulas pertalian beliau dengan kajian hadis Nabi Saw, hal ini yang menjadi salah satu topik penting untuk dipanggungkan. Dalam seri buku Tempo yang mengulas Edisi Bapak Bangsa, tepatnya pada buku berjudul Agus Salim : Diplomat Jenaka Penopang Republik, disebutkan di sana bahwa “Agus Salim pernah kehilangan iman dan susah payah merebutnya kembali hingga menemukan Islam untuk Indonesia: Islam yang tidak terikat adat kebiasaan, tapi dapat menggerakkan bangsa untuk menentukan nasib sendiri.”[7]

Hal ini terjadi karena sistem pendidikan kolonial yang, menurut beliau, amat mendiksriminasi masyarakat pribumi dan berpotensi membuat siswa Hindia Timur semakin menjauhi Islam.Bahkan, dalam satu kesempatan beliau pernah berkata kepada istrinya, Zainatun Nahar, agar ia banyak membaca memperkaya wawasan agar kelak mampu menjadi guru yang hebat bagi anak-anaknya.

Kata-katanya bukan tong kosong, terbukti kemudian, keseluruh anaknya yang berjumlah 8 orang hanya 1 saja yang mencicipi pendidikan formal. Ia adalah anak terakhir Agus Salim bernama Mansur Abdur Rachman Ciddiq yang mencecap pendidikan formal. Itu pun terjadi pada masa kolonial Belanda sudah raib dari bumi Indonesia. Meski tak mencicpi pendidikan formal, soal kualitas kecerdasan dan kematangan hasil didikan rumahan ini, ketujuh saudara Mansur tidak bisa diremehkan.

Kembali kepada bahasan awal, bahwa Agus Salim pernah digiring menjauh dari imannya lantaran sistem pendidikan Belanda yang ia cecap itu adalah benar. Namun, agaknya beliau perlu berterima kasih kepada Snouck Hurgronje, orientalis yang memiliki misi besar menjauhkan siswa Hindia Timur dari Islam, yang juga guru kesayangan Agus Salim inilah yang ternyata berjasa mengantarkan beliau ‘merengkuh’ kembali imannya yang sempat tercecer.

Melalui usul Snouck Hurgronje kepada pemerintah Belanda ia resmi didaulat sebagai amtenar (pegawai pemerintah) di Konsulat Belanda di Jeddah, Arab Saudi, pada 1906-1911. Sambil menyelam minum air, di Jeddah ia beguru kepada banyak ulama, mendalami Islam. Salah satunya adalah paman beliau sendiri yang merupakan ulama terkenal Indonesia yang juga imam mazhab syafi’i di Masjidil Haram, Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1852-1915)

Pada kesempatan itu, pembelajarannya tentang Islam digalakkan. Berbekal sikap kritis dan kesenangannya berdiskusi, ia memeras banyak ilmu dari ulama terkemuka tersebut. Salah satunya adalah bidang pengetahuan hadis. Hal ini yang merubah pandangan hidupnya kehidupan.

Jika kemudian pada usia senja beliau dikenal sebagai pengampu mata kuliah Islam Rasional di Concell University, sejauh terkaan saya, itu adalah kepiawaian beliau menggabung kekayaan materi ketimuran yang beliau dapat di Arab Saudi yang kemudian dipadu dengan kecanggihan teori barat yang didapat semasa belajar di sekolah Belanda.

Mengenai kesan beliau mengajar di Amerika, beliau amat bangga karena Amerika merupakan corong dakwah yang jitu, yang mampu menjadikan pesan-pesan ke-Islaman lebih mendunia. Lewat ke-adigdaya-annya, Amerika berpotensi mendulang keberhasilan melayangkan pengetahuan keislaman yang lebih dibanding negara lain.

Meski seperguruan dengan pendiri organisasi Muhammadiyyah, KH. Ahmad Dahlan, dan pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari, Agus Salim memiliki haluan pemikiran yang berbeda. Sebagai contoh tatkala mereka merespon pemikiran Abduh yang berkembang saat itu. Ketiganya memilki sikap yang beragam.

Dalam satu laporan Tempo, diwartakan, “Haji Agus Salim meminta Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari mendidik santri agar tidak mendewakan guru. Lebih suka berdiskusi ketimbang menggurui.”

Ciputat, 26 November 2016





[1]Tim Tempo, Agus Salim:Diplomat Jenaka Penopang Republik, Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia, 2016, hal. 159
[2]Pesan-Pesan Islam, hal 43-66
[3] Suhaib Abdul Jabbar, al-Jami’ As-Shohih Lis-Sunan Wal Masanid, jil. 14, hal. 212
[4] Al-Hakim, Mustadrok ala Shahihain, jil. 2, hal. 659. Hakim : Hadis ini diriwayatkan dengan syarat Muslim
[5] Suhaib Abdul Jabbar, al-Jami’ as-Shahih Lis-Sunan Wal Masanid,jil. 1, hal. 436. Bab Dalalil Nubuwwah SAW qoblal bi’tsah.
[6]Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, hadis no. 2262
[7] Bunyi cover belakang buku

Senin, 26 Desember 2016

Melawan Kesewenang-Wenangan!

http://www.qureta.com/post/melawan-kesewenang-wenangan

MEMBACA PERADABAN

Manusia, dalam pepatah Arab disebutkan bahwa tidak ada anugerah teragung yang diberikan Tuhan kepadanya melebihi akal dan adab. ما وهب الله لامرئ هبة أشرف من عقله و ادابه.. Akal beserta nalar yang diberikan oleh Allah berfungsi sebagai filter sorot pandang manusia dalam kehidupan dunia. Melalui akal manusia mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Dengan akal pula manusia mampu mempelajari sejarah dan darinya bisa lebih arif Membaca Peradaban.

Pasca-Modern, demikian bisa kita sebut masa sekarang untuk sekadar melukiskan betapa gegap gempita perubahan-perubahan yang terjadi dewasa ini. Ditopang kecerdasan teknologi dan canggihnya temali teori, wajah modernitas kian teguh dan menguarkan aura kejumawaannya.

Dalam konteks ini, manusia yang bijak adalah manusia yang menjejak bumi. Manusia kontekstual. Ia harus lihai menyaksikan dan memahami watak peradaban dimana dia tinggal. Di masa yang sangat menguntungkan untuk perubahan positif namun berpotensi pula memperparah wacana negatif, kita dituntut untuk sigap merespon perubahan. Charles Darwin pernah berujar, “Bukan yang terkuat yang mampu perubahan, melainkan yang mampu adaptif merespon perubahan.” Bahkan ada sebuah buku self improvement berjudul “Berubah atau Punah.”

Mari, mulai sekarang kita berusaha menjadi lebih bijak menyambut gemuruh perubahan modernisasi ini. Harapan ke depan adalah, dengan arifnya teknologi dan canggihnya sirkulasi informasi, tercapai pula kemaslahatan maksimal cita-cita kebangsaan dan keberagamaan kita.
Selamat berkhidmat! Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti!



Perbandingan Kritik Sejarah dengan Kritik Hadis

PENDAHULUAN

Anggapan bahwa istilah kritik hadis lahir dari luar islam adalah keliru. Karena dalam dunia hadis sudah dikenal jauh-jauh hari istilah kritik-mengkritik, hal ini sebagaimana dituturkan oleh Imam Ibnu Abu Hatim al-Rozi (W. 327 H). Kritik hadis adalah upaya untuk menyeleksi hadis sehingga dapat diketahui mana hadis yang shahih dan mana hadis yang tidak shahih. [1]

Kritik adalah sebuah teguran. Dan ia tidak melulu berkonotasi negatif. Kritik bahkan, pada beberapa konteks, ia bisa bermakna sebuah dorongan menuju kebaikan. Kritik bisa bermakna tanda cinta.

Ujian dari Allah yang ditimpakan kepada hamba-Nya adalah sebuah teguran. Kritik.Merupakan suatu yang sudah dimaklumi, kepada orang yang kita kasihi, jika ia tengah berjalan menuju marabahaya, tentu kita akan memperingatkannya. Bukan karena benci, tapi karena khawatir ia akan celaka.

Demikian dalam kajian hadis, bahasa kritik adalah membuktikan bahwa kita memerhatikan kajian sunnah Rasulullah Saw tersebut. Dikaji dan dipahami, dibersihkan dan dihilangkan segala penyelewengan yang masuk di dalamnya, untuk kemudian diimpelementasikan ke dalam tingkah keseharian. Dilangsungkan dalam aktivitas keberagamaan.

Masih pada tataran kajian yang sama, yakni melacak kredibilitas kualitas periwayatan sebuah berita, sejarah juga memiliki standar kritik dalam disiplin keilmuan-Nya.

Baik metode kritik dalam hadis maupun kritik dalam sejarah, keduanya menarik untuk kita kaji. Bagaimana bentuk keduanya? Bagaimana perbandingan keduanya? Mana yang lebih berkualitas? Bisakah dipadukan?

Pada makalah ini akan kami kupas sekelumit perbandingan antara kritik hadis dan kritik sejarah.


PEMBAHASAN

Berdasarkan pengamatan ahli, antara hadis dan sejarah, dalam ranah kritik, ditemukan satu rumpun kajian yang sama, yakni keduanya memusatkan kajian pada penentuan kualitas sumber berita periwayatan dari masa silam.[2]

Bentuk kerjanya adalah dengan melakukan pelacakan kualitas sang penyampai berita/narator, berikut keabsahan materi sejarah yang di bawa. Hal ini menjadi penting karena untuk mencari acuan pandangan, seorang tak bisa lepas dari warisan masa lalu, berupa peninggalan budi, etika, dan benda, yang menjadi patokan berkehidupan kita di masa kini.

Keduanya memiliki tujuan yang sama. Mencari keotentikan sumber pegangan sebuah landasan.

Tujuan mendalami perbandingan antara dua metode ini, kritik hadis dan sejarah adalah untuk mencari yang terbaik antara kedua metode, agar nanti bisa diberlakukan simbiosis mutualisme dalam ranah pemantapan teori penerimaan sebuah berita.

Apakah memungkinkan Hadis mengambil metode yang dipakai dalam sejarah terkait metode selektifikasi sebuah berita, atau malah sebaliknya.[3]

Kritk Menurut Sejarawan

Dalam kacamata sejarah, kritik sejarah bermakna mengulas unsur-unsur yang telah terjadi di masa lalu. Unsur-unsur itu dalam bentuk kongkritnya adalah jejak-jejak kehidupan masa silam. Tercakup di dalamnya segala hal peristiwa yang terjadi, dinamik dan romantisme yang terjadi di dalamnya. Jika semua unsur itu ada, maka sejarah dinilai utuh.

Jika tidak maka ada cacat di dalamnya. Maka dari itu, dalam kajian kritik sejarah ada sebuah ungkapan masyhur, “jika unsur-unsur masa lalu menghilang, maka lenyaplah sebuah sejarah.”[4]

Langkah-Langkah Sejarawan dalam Menghimpun Data

Dalam mengemas data-data sejarah, sejarawan setidaknya memiliki dua langkah sebagai berikut,pertama. peneliti mengumpulkan seluruh data-data sejarah yang dapat diperoleh. Kedua, setelah data berhasil dikumpulkan, peneliti mengadakan kritik, filter, dan pemurnian atas konten sejarah tersebut, demi membuktikan keabsahan dan otensitas sebuah sejarah.

Periode pertama dalam menyikapi data sejarah adalah memastikan keabsahannya.Mengulik dari berbagai perspektif kesejarahan soal objek yang tengah dikaji. Kemudian dilakukan penelitian ulang mengenai data terhimpun dari perspektif yang lain demi tercapainya keotentikan sebuah data yang mapan. [5]

Rangkaian Filterisasi Data Sejarah

Seorang ahli kesejarahan, Hasan Ustman, berkata mengenai tahap-tahap penyaringan sebuah data, “Usai data dikumpulkan, peneliti diharuskan memahami periodisasi penulisan. Karena semakin jauh waktu terjadinya peristiwa dengan penulisan sejarah maka akan semakin mengurang kualitas data. Karena ingatan tak bisa diandalkan. Ia berpotensi menghilangkan detil-detil khusus, meski ia memliki komitmen kejujuran yang kuat dan mudah mengingat masa lalu.”

Apa yang dikatakan Hasan Utsman merupakan sebuah gagasan yang patut direnungi dan diaplikasikan dalam penelitian di lapangan. Tradisi menghafal data menggunakan memori ingatan merupakan posisi rawan, menulis adalah sebuah solusi untuk mengabadikan ide dan gagasan.

Maka dari itu perlu diperhatikan dimana ia mencatat data tersebut. Apakah di tempat kejadian atau di tempat yang jauh, yang ia bawa catatan tersebut dalam ingatan. Dan itu jelas mempengaruhi kadar kualitas sebuah berita.

Walhasil, ketika praktik memastikan keotentikan zaman dan tempat dimana data sejarah usai ditulis dan dikumpulkan, maka peneliti baru mengadakan analisa.[6]

Dalam menganalisa, ada dua cara yang harus dilakukan bagi seorang peneliti,

  1. Naqd Batini Ijabi, menganalisa unsur sejarah dengan tujuan mendalami makna lafazh dan maksud dari penulis atas apa yang ia tulis
Pada konteks ini kita diperintah untuk mengkaji sejarah dari segi linguistik. Kajian kebahasaan yang lebih memeirntah pada penelisikan teks materi sejarah.

Unsur-unsur yang dikaji dalam Naqd al-Bathini al-Ijabi meliputi :

  1. Perubahan bahasa pada seiring berbedanya masa.
Perlunya dipahami dengan zaman penulis. Bahasa mempresentasikan budaya, demikian ungkap tokoh. Dari sana maka penting kiranya memahami bahasa tempat sebuah data direkam, karena ia akan menggambarkan sosio-kultural sebuah berita.
  1. Perubahan makna bahasa seiring berbedanya dialek.
Demikian karena pada setiap daerah memiliki kekhususan pelafalan bahasa (dialek). Hal ini menjadi penting mengingat kesalahan mengkontekskan dialek akan berimbas pada penyimpangan makna yang diusung.

  1. Perbedaan uslub bahasa yang digunakan seiring berbedanya penulis.
Menulis adalah aktivitas penyampaian gagasan. Dalam gaya penyampaian itu, terdapat subjektivitas yang berkelit-berkelindan. Seorang penulis bergenre perlawanan berbeda citarasanya dengan penulis berjiwa diplomat. Maka perlu diadakan pemeriksaan lebih dalam mengenai makna data sejarah tersebut.

  1. Diperlukannya penafsiran lanjutan atas konteks umum pembicaraan penulis mengenai sejarah.
Dalam penganalisaan data tak boleh ada kata-kata yang masing menggantung. Menyoal data sejarah adalah menyoal kepastian berita, penetapan tanggal dan pelaku sejarah tak boleh keliru.

Kajian akan dianggap menuai hasil yang komprehensif jika makna yang dikandung dalam teks sudah tersingkap dengan jelas.[7]

Langkah berikutnya adalah yang kedua, Naqd al-Bathini as-Salby.

Naqd al-Bathini as-Salby adalah praktik inti untuk menyingkap hakikat data sejarah dan menjauhkan kepalsuan darinya semaksimal mungkin.
Menurut Syaril Lanjelo, intelektual ternama, tujuan dilakukan langkah ini adalah agar tercapainya dua hal :

  1. Pemastian kejujuran dan keadilan pengarang/penulis
Otentik tidaknya sebuah berita banyak bergantung pada keotentikan sang pembawa/penyampai berita. Hal ini dikarenakan sebuah berita mampu dan berkesempatan dibaca oleh pembaca yang notaben-nya mereka berdiam beberapa generasi setelahnya.

Maka pendalaman atas sang penyampai berita amat signifikan demi keselamatan data berita.

  1. Pemastian kejujuran pengetahuan dan totalitas esensi yang terkandung di dalam karya tersebut.
Selain mengulas narator, objek yang dibawa juga penting untuk diteliti lebih saksama. Hal ini mungkin, dalam praktik pengkroscek keabsahannya, bisa disandingkan dengan keakuratan data-data lain yang menyinggung tema yang sama.[8]

Pemastian Kejujuran dan Keadilan Penulis/Pengarang

Untuk tujuan ini, Syaril Lanjelo menuliskan beberapa hal yang harus diperhatikan oleh sang penulis sejarah
  1. Penulis sejarah dilegalkan berbohong karena satu sebab.Maka dari itu perlu ditegaskan beberapa hal :
a)     Apa tujuan penulis dalam mengkodifikasi data sejarah.
Tujuan adalah kepentingan. Atas dasar kepentingan apa sejarawan mengumpulkan sejarah. Bertentangankah antara tujuan luhur sejarawan  dengan kepentingan profan. Hal ini perlu dtegaskan mengingat sejarah kerapkali dilumuri dengan distorsi pihak-pihak tertentu.

b)     Dari parsialitas tema, tujuan apa yang kira-kira hendak diangkat
Besarnya tema pembahasan hanya membuat hasil menggantung. Dari skala besar sebuah tujuan, butuh pengkhususan demi sebuah keterangan hasil pengolahan data.

c)     Apa keuntungan buat pribadi penulis
Jangan sampai tendensi individualis merangsek menuju tujuan ditulisnya sejarah. Hal ini tentu akan mengotori keluruhan sebuah berita mengenai peristiwa masa lalu. Ketika ini dilegalkan, maka sejarah tak lagi patut untuk dilirik dijadikan panutan, dan tak elok pula untuk terus kita perbincangkan.[9]

  1. Perlunya mengetahui apakah penulis melakukan pendustaan, dan adakah hal-hal memberatkan di atas kemampuannya yang kemudian menyebabkan dia untuk melakukan demikian?
  2. Potensi adanya kecenderungan penulis atas suatu golongan tertentu.  Apakah lantaran demikian penulis menyajikan data palsu demi mendukung golongannya?
  3. Apakah sikap kebohonganya mempengaruhi penulisan fakta dan menyandarkan sesuatu untuk kepentingan pribadi?
  4. Apakah ia terpengaruhi oleh maksud pemerintah saat itu?
  5. Apakah ia menulis dengan uslub yang disetujui pemerintah dengan mengesampingkan uslub hakiki dalam penulisan sejarah, meninggalkan sebagian dan mengambil sebagian lain di tempat lain.[10]
Seandainya semua pertanyaan sudah terang, maka sejarawan bisa memastikan soal kejujuran dan keadilan penulis sejarah, atau sebaliknya.
Kemudian, dalam memetakan pembahasan mengenai kepastian kejujuran materi sejarah, menurut Syaril Lanjelo, ada dua hal yang dibahas :

  1. Bagaimana seorang peneliti memanfaatkan kondisi fisik dan akalnya yang sehat dalam mengkaji data, yang dengan demikian ia dapat memberikan informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan
  2. Apakah seorang peneliti memenuhi syarat penelitian dan kecakapan nalar sehingga dapat menyajikan hasil olah lapangan yang bagus.[11]
Ini semua adalah keseluruhan apa yang bisa dilakukan seorang sejarawan dalam mengumpulkan data dan mengkritisi penulisnya demi memastikan keotentikan penulis dan materi yang didapat.

Keseluruhan asas tersebut, jika diringkas menjadi seperti ini :
  1. Mengumpulkan segala data yang bisa ia dapat
  2. Memastikan otensitas data
  3. Analisa data dan praktik naqd al-batini al-ijabi untuk memastikan keabsahan makna dari lafadz dan tujuan yang dimaksudkan oleh penulis
  4. Naqd al-bathini as-Salbi terdiri dari dua komponen : memastikan kejujuran dan keadilan pencatat sejarah serta memastikan kebenaran data yang disampaikannya.[12]

Komparasi Dua Metode

1.   Mengumpulkan data secara keseluruhan.[13]
Keduanya memiliki kesamaan metode. Mengumpulkan data secara komprehensif membuat hasil kajian atas data-data yang terhimpun lebih matang. Lebih menemukan perbandingan dan nilai yang disimpulkan.

2.     Antara Hadis dan Sejarah keduanya sama-sama menuntut keabsahan dan keotentikan sebuah nash.[14]
Meski demikian, syarat-syarat yang diajukan dalam kritik hadis jauh lebih kuat dan lebih lengkap dari sekadar kritik sejarah.

Dalam penelitian, keduanya sama-sama mengulas seputar jenis kertas dan tulisan yang terdapat dalam sebuah teks. Anggapan awal bahwa hadis alpa dalam hal ini terbantahkan. Lebih jauh, bahkan hadis lebih unggul dalam hal ini.

3. Analisa nash agar ditemukan maksud lafazh dan pengarang.[15]
Muhaddis dalam hal ini banyak memainkan penelitian2 parsial, terperinci, hal ini tidak terjadi di kalangan sejarawan.

4. Melakukan    kritik dari sisi negatif pembawa berita demi tercapainya kredibilitas periwayat.[16]
Dalam hal ini, sekali lagi hadis lebih unggul, karena syarat diterimanya periwayatan, seorang perawi haruslah bersih dari segala keburukan.

Perbedaan Antara Keduanya

Pondasi tataran keilmuan dunia hadis dibangun dari kejujuran, kredibilitas, keberagamaan, akal, kesadaran, dan kematangan.
Berbeda halnya dengan standar baku yang dibangun dalam disiplin ilmu sejarah. Dimana seorang dianggap aman manakala ia membawa berita yang benar dalam penyampaian sejarah, meskipun dalam hal lain ia kerap melakukan kebohongan

Hal ini yang menarik untuk kita pertegas kajiannya. Dalam ranah sejarah, kebohongan yang bersifat individual yang dilakukan dalam keseharian tidaklah menjadi penghalang bagi keotentikan periwayatan berita ketika berita yang dibawa dianggap telah otentik.

Jika kaidah ini yang tetap dipertahankan, maka akan terjadi kerancuan periwayatan nantinya. Seorang yang dibiarkan leluasa berbohong dalam kesehariannya, dalam artian tak ada undang-undang yang memberlakukan persangsian atas kebohongan yang ia lakukan, maka dikhawatirkan akan keterusan dan kebablasan dipakai saat melakukan periwayatan.

Hal ini tentu berbeda dengan kaidah yang ditetapkan dalam metode kritik hadis. Jika ia ketahuan dalam kesehariannya pernah melakukan kebohongan, maka dalam periwayatannya pun kekeredibelannya dipertanyakan. Hal ini karena satu, dalam kajian hadis, materi yang dibawa adalah hal yang sakral dan tidak bisa dilakkan intervensi.

Seandainya dalam kajian sejarah juga melakukan demikian, maka sebuah berita sejarah akan terawat orisnilitasnya tanpa campur tangan orang-orang yang berkepentingan.
Sehingga hal demikian jelas akan mengurangi kualitas periwayatan.

Keunggulan Metode Kritik Hadis

Sehingga, dalam hal ini, metode yang dikemukakan oleh hadis lebih unggul ketimbang sejarah.  Hal demikian karena dalam kritik hadis ditemukan keketatan yang tidak ditemukan dalam krtik sejarah. Jadi kritik sejarah, belum, bahkan tidak akan, mampu menyaingi kualitas kritik hadis.[17]

Sebagai jawaban dari pertanyaan di pendahuluan, berdasarkan hasil pemeparan di atas, maka metode yang dipakai oleh hadis bisa menjadi penyempurna dalam kajian kritik sejarah.




[1]Ali Mustafa Yaqub, Kritik Hadis, (Jakarta:Pustaka Firdaus, 2011), hal. xiv
[2]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 91
[3] Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 91
[4]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 91
[5]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 92
[6]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 93
[7]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 93-94
[8]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 94
[9]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 94
[10]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 95
[11]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 95
[12]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 95-96
[13]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 96
[14]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 97
[15]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 100
[16]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 100
[17]Musthafa A’zhami, Manhaj an-Naqd Indal Muhadditsin, (Saudi : Maktabah al-Kautsar, 1990), hal. 102

Minggu, 20 November 2016

Menista Agama

"Menista Agama" menjadi trending topic di kisaran Oktober-November-Desember 2016 di jagad daring ataupun realita kehidupan Indonesia.

Pasalnya, seorang gubernur DKI, Basuki Tjahya Purnama, yang sekaligus mencalonkan sebagai kandidat PILKADA DKI 2017 nanti, mengatakan bahwa masyarakat Jakarta yang tidak setuju kepada dirinya sejatinya telah dibohongi pake al-Qur'an surat al-Maidah ayat 51.

Permasalahan ini semakin merebak mengingat isu PILKADA DKI 2017 coba dilibatkan.  Penistaan ini kemudian dicampuri dua unsur : penjelek2an agama & pelabcaran kampanye hitam (black campaign) dari pihak musuh.

Buah dari ini adalah permintaan rakyat Indonesia, bukan saja Jakarta, yang katanya sangat religius itu, agar memenjarakan Ahok atas kasus penistaan ini.

Pemerintah rupanya lamban merespon gejolak masyarakat dalam hal ini. Kasus tak diusut secara matang, masyarakat kembali meradang.

Pada 4 November 2016, dengan komando FPI, dihelatlah aksi Bela Islam yang melibatkan puluhan ribu umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia melakukan demonstrasi damai ke Istana Negara menjumpai Presiden RI menuntut agar Ahok dipenjarakan.

Pucuk dicinta Ulam gak tiba.

Pak Presiden, ketika banyak masyarakat berbondong2 menuju Istana meminta kejelasan, malah asyik ke Bandara untuk memeriksa keadaan di sana. Entah penasehat presiden yang mana yang menginstruksi beliau agar beranjak saja meninggalkan Istana, fenomena ini menyisakan rasa kecewa di hati masyarakatnya, mengapa Presiden tak hadir ketika rakyat membutuhkan penjelasannya.

Dampaknya adalah sedikit kerusuhan pada akhir demonstrasi damai hari itu. Hal itu kemudian dibantah oleh sejumlah ulama sebagai ulah penunggang2 kepentingan yang tak bertanggungjawab.

Tak puas akan respon pemerintah waktu itu, Umat Islam mengadakan Aksi Bela Islam jilid 2 keesokan harinya.

Melalui berbagai ajuan ke Bareksrim, perdebatan dua belah pihak di media, beserta tuntutan rakyat banyak, Ahok akhirnya dikenai status Tersangka atas kasus penistaan agama.

Lalu.

Entah lewat motivasi apa, mungkin menyaksikan Ahok, meski sudah dijatuhi status Tersangka namun belum dipenjarakan, Umat Islam, yang entah dalam hal ini dokomandoi pihak mana, kembali akan menggagas Aksi Bela Islam jilid 3 yang akan diselenggarakan 2 Desember nanti.

Kita perhatikan saja bagaimana selanjutnya nanti ~ ~ ~

Dalam menyikapi ini semua, kita perlu tafakur soal kata menista. Apa yang dilakukan oleh Ahok, terlepas dari berbagai agumen pro-kontra dari berbagai pihak, jika dilihat dari teks "dibohongi" yang digunakan oleh Ahok itu adalah satu jenis penistaan. Penistaan yang tekstual.

Maka kemudian, di sisi lain, di seberang pemahaman tekstual, ada diskursus penistaan dari segi subtansitf. Penistaan nilai2 keagamaan, yang dilakukan bukan hanya melalui perkataan, melainkan lewat sikap keseharian.

Penistaan ini menurut saya yang lebih berbahaya. Ia bukan saja menyoal kulit, tapi juga menyinggung isi dari ajaran yang ada. Dan, umumnya, masyarakat atau orang lain tak memahami adanya pneistaan ini.

Seseorang memahami ajaran ini, namun malah melanggarnya...
Seseorang paham bahwa berkata tidak baik adalah cela, tapi ia mengonsumsinya dengan lahap...

Dan lain sebagainya.

Hanya kepada Allah kita mengharap pencerahan-Nya....

PTIQ, 21 November 2016, 10:45