Search Box

Memuat...




D

Selaku penghayat ajaran Islam ke-Indonesiaan, Soekarno amat cekatan mengkritisi nasib ajaran Islam dan pengaplikasiannya di lapangan. Bukan hanya karena ia lahir dan tumbuh besar di tanah yang menampung umat Islam terbesar di dunia tersebut, komprehensifitas ajaran Islam yang kemudian bertolak dari realita lapangan itulah yang membuat ia tercambuk untuk menumpahkan gugatannya tersebut dengan bijak dan cerdas.

Salah satunya adalah lewat Surat-Surat Islam dari Endeh, refleksi yang merupakan bagian dari buku beliau berjudul Di Bawah Bendera Revolusi yang tersohor itu.

Surat-Surat Islam dari Endeh menghimpun 12 buah surat. Surat-surat yang bersisi pergolakan sikap Soekarno menyikapi Islam ke-Indonesia-an itu dilayangkan kepada Tuan A. Hassan selaku Guru “Persatuan Islam” di Bandung.

Di dalamnya diurai bagaimana Soekarno amat memerhatikan kondisi Muslim Indonesia, praktik kesehariannya, karakter ideologinya, seraya tak lupa mengkritik kecacatan yang dikandungnya, menggugat kebobrokan yang acapkali membuat naluri kepedulian Soekarno terbakar begitu hebat. Proses surat-menyurat tersebut belangsung pada rentang waktu antara tahun 1934-1936.

Jalin-jemalin komunikasi pembelajaran antara Sang Proklamator Kemerdekaan RI dengan Tuan A. Hassan tersebut melahirkan pandangan keilmuan yang unik dan menarik. Sungguh tidak salah kalau kita banyak menggali mutiara perenungan Soekarno tersebut untuk kita jadikan refleksi kehidupan kita di masa mendatang.

Toh beliau pernah bertuah, “Jasmerah, Jangan Meninggalkan Sejarah!”

Gagasan-gagasan Soekarno terkait kondisi Islam saat beliau diasingkan oleh Belanda di Kota Endeh, NTT, dengan guru spiritual-nya Tuan A. Hassan di Bandung membicarakan banyak hal. Hampir semua bernada perlawanan, namun juga disajikan usul dan saran brlian.

Dalam tulisan beliau, yang pertama kali disinggung adalah prilaku pengeramatan tokoh yang berlebihan yang dilakukan umat Islam. Pelaku Pengkultusan individu yang oleh beliau akrab disebut “Sajid” tersebut dinilai berpotensi menggiring Islam menuju kemunduran berpikir. Nilai tauhid yang runtuh lantaran ritual tersebut sudah pasti bakal mengundang bencana-bencana yang besar.

Keberadaan kitab hadis Bukhari-Muslim sebagai kitab himpunan hadis shahih, meski menurut beliau, atas petunjuk pengenal Islam asal Inggris, keotentikannya masih diperdebatkan, yang menjadi pedoman Muslim di seantero dunia melatari praktik keagamaannya, juga mengusik benak beliau.

Keberadaan hadis-hadis lemah yang melatari semangat Muslim menjalani kehidupan dunia, semisal bunyi hadis bahwa dunia milik Nasrani dan akhirat milik islam, juga anggapan bahwa umat beriman harus lembek dan patuh ibarat kerbau yang ditusuk hidungnya, dinilai bertolak dari tuntutan zaman modern.

Dan Bukhari-Muslim, usai dicap sebagai pengoleksi hadis-hadis lemah tersebuts, turut bertanggung jawab atas hal ini. Hadis, bagi beliau, adalah sumber anti rasionalisme, penggagas kejumudan. Bahwa hadis ternyata produk yang melibatkan banyak campurtangan manusia, hal ini patut dicurigai. Tak ada yang absolut pada diri manusia.

Umat Islam harus pandai mengilmiahkan pesan-pesan yang disampaikan hadis. Misalnya adalah hadis tentang Mi’raj Nabi Saw.

Penutupan pintu ijtihad dan penggalakkan taklid yang sudah mengakar di tubuh umat Islam hanya akan meredupkan nyala Api Islam. Sikap pendewaan terhadap fikih membuat Umat Islam laksana bangkai, tak bernyawa.

Anggapan bahwa Ijtihad adalah tanah yang sangar untuk dijejaki, juga statemen bahwa tak akan ada yang mampu menandingi kehebatan Imam Empat, yang kemudian mengharuskan kita untuk taqlid, hanya akan merampas kebebasan berpikir semata.

Taqlidisme dan Hadramautisme ialah biang keladi yang pantas dihakimi soal sebab kemunduran Islam.

Demikian di Endeh, namun seiring bergulirnya waktu, mereka mulai berusaha melenyapkan kekonservatifannya. Hal demikian berkat kiriman buku berkala oleh Persatuan Islam Bandung.

Kealpaan kita membaca sejarah umat Islam, terkait faktor2 yang memperkuat dan memperlemah eksistensi umat Islam, juga keterbuaian kita atas nostalgia kejayaan masa lalu, turut menjadi alasan mengapa kita umat Islam seperti berjalan di tempat. Statis. Tak mampu membarengi zaman.

Pada seri ke delapan dari surat-suratnya, Soekarno menuturkan bahwa syarat agar Islam maju adalah dengan “Berani Mengejar Zaman”. Stop royal atas pengkafiran hal-hal baru. Berhenti membid’ahkan kecerdasan modernitas, jangan lagi silau dengan perkembangan kekinian, enyahkan sikap kekolotan untuk menerima hal baru, yang hanya akan membuat Islam stagnan.

Mari berbid’ah ria, bahkan kita dianjurkan untuk melakukannya. Mari kita ber-radio, ber-kapal udara, ber-sendok garpu, ber-kursi, ber-teknologi tinggi. Toh urusan dunia kita sudah diberi wewenang Rasulullah untuk mengelolanya. Bagaimana?

Mengutip ungkapan Kemal Ataturk, “Islam tidak menyuruh orang duduk termenung sehari-hari dalam Masjid sambil memutar tasbih. Islam is Progres! Islam ialah kemajuan!

Tanggalkan semangat kurma dan surban yang hanya akan merantai kita pada ideologi seribu tahun silam. Islam harus melek pengetahuan umum, kearifan barat, itulah arti anti taqlidisme yang sejati.

Umat Islam harus futuritis dan visioner kalau mau berhasil mengejar ketertinggalan peradaban. Kira-kira demikian sarannya.

Sosok pengagum Ibnu Saud ini berkata, saat menghadapi realia kita tak bisa tiru cara lama, karena manusia itu tidaklah diam. Watak dan ideologi akan selalu berubah seiring menuanya semesta. Kita butuh adaptasi. Kita butuh de-ide baru yang segar lagi realitis!

Perjuangan beliau dalam menentang kekolotan ini banyak menuari anggapan negatif dari khalayak, tapi biarlah, biar mereka sadar kelak! Tukasnya.


Demikian apa yang menjadi inti pembicaraan Soekarno dalam Surat-Surat Islam dari Endeh. Semoga berguna!***  

Wallahu A’lam.

(Darsun, H-1 Dirgahayu RI ke 71).
www.nonaina.wordpress.com

Seharusnya kita iri kepada pria berkaki enam tersebut. Lewat penuturannya, soal ia mesti berjalan selama setengah jam ke musholla demi melangsungkan shalat berjama’ah, tentu itu amat menyentak kita sebagai sosok yang mempunyai anggota tubuh sempurna namun enggan mensyukurinya. Tertampar kita olehnya.

Sebut saja Mas Ipung. Ia pria paruh baya yang mengalami tunas daksa. Kaki dan tangannya yang tak memenuhi standar kebanyakan manusia, membuat dirinya terpaksa harus menggunakan tongkat pemapah berkaki 4. Dengannya ia menjalani kehidupan sehari-hari, dikawani tongkat yang sudah menjadi bagian hidupnya.

Ia bertempat tinggal di Parung Panjang, Banten. Kemarin, tanggal 23 Juli 2016, baru saja ia bertandang ke rumah, bersilaturahmi dengan ayahanda dan keluarga. Sukar dilukiskan bagaimana sukarnya ia menempuh perjalanan yang kian jauh tersebut. Kendati demikian, alhamdulillah tuturnya, banyak orang selama perjalanan yang setia membantunya.

Di dalam rumah, ditemani sesuguhan ala kadarnya, ia mengisahkan soal geliat kehidupannya di rumah. Ia tinggal bersama mamak yang sudah sepuh berumur delapan puluhan. Sikapnya yang pikun membuat Mas Ipung harus waspada mendampinginya. Jangan biarkan sang Mamak memanaskan sayuran di dapur, tukasnya, karena ia nanti akan lupa memadamkan percik jago merah.

Pernah sesekali ia pergi ke mushallah, dengan anggapan bahwa mamaknya tak akan memanaskan sayur. Namun nahas, sang mamak malah memanaskannya. Pulang pulang, Mas Ipung kemudian dikejutkan dengan panci yang sudah menggosong dan kepulan asap yang pekat. Untung saja tidak merambat ke selang gas yang kemudian akan meramat menuju ledakan tak terhingga, serta untung saja atap langit rumahnya terbuat dari semen, karena kalau tidak, akan ludes rumah sekomplek, ujarnya.

Adzan Isya dikumandangkan dan kita menyudahkan pembicaraan. Di bawah kepungan gerimis kita melanjutkan aktivitas shalat berjama’ah bersama di Mushalla depan rumah. 10 meter jaraknya.

Pria berkaki 6 bangkit dari kursi menuju Mushallah. Oleh karena keterbatasannya, jarak 10 meter baginya adalah jarak yang lumayan membentang. Kalau dibiarkan berjalan tanpa payung, tentu hujan akan menertawakannya. Maka, dengan perasaan iba sekaligus terkagum-kagum, saya meraih payung dan meneduhkan Mas Ipung dari serbuan air langit yang semakin menderas.

Usai jama’ah Isya bubar, ia pamit, hendak pulang. Dengan pengiringan do’a agar kelak kita semua diberkahi Allah, senyum persaudaraan resmi menutup perjumpaan kita dengannya hari itu.

Ada pelajaran berharga yang bisa kita petik dari interaksi singkat saya dengan Mas Ipung barusan. Tuna Daksa yang ia alami memang agak mempersukar keseharian hidupnya, namun untuk melakukan kebaikan, ia tetap konsisten menjalankannya. Silaturahmi dan berjuang menolong orang lain tetap tidak dia tinggalkan.

Kalau yang seperti Mas Ipung saja bisa melakukannya, mengapa kita tidak?


www.dream.co.id

Oleh karena peran akting Dian Sastrowardoyo di Ada Apa Dengan Cinta begitu eksotis, maka diam-diam, semenjak kutamatkan AADC 1 hingga stalking-stalking biografi beliau di internet lalu diklimakskan dengan menonton seri ke 2, aku jatuh kagum padanya.

Kagum, salut, takjub yang dengan sendirinya akan merambat kepada cinta.
Aku cinta Cinta. Mbak Dian Sastrowardoyo.

Ost lagu-lagu soundtrack yang melatari jalan perfilman, puisi-puisi yang digubah oleh Rangga maupun cinta, selalu mengiang di kepala. Menyuguhkan nostalgia yang membahagiakan. Terutama wajah Mbak Dian yang manis dan imut, sikapnya yang manja, nalarnya yang cerdas, disempurnakan dengan tingkah lagunya yang menggemaskan, membuat diri ini klepek-klepek.


Berharap bahwa aku bisa mendapatkannya kelak. Tentunya dengan catatan Mbak Dian kembali muda dan seumuran dengan ku. Atau kalau tidak, semoga saja ada Dian-Dian lain yang semisal atau bahkan melebihi Dian yang asli, mbak Dian Satrowardoyo, yang kelak akan menjadi pasangan hidupku. Amien.

BIntaro, 23 Juli 2016, menjelang tidur sambil berharap bertemu dengan Mbak Dian, meski dalam mimpi. :)
www.anugrah.net

Lora Ghazi Mubarok, putra Kiai Idris Jauhari, saat acara Silaturahmi Majlis Kiai Al-Amien bersama IKBAL (Ikatan Keluarga Besar Al-Amien Prenduan) Korda Jakarta di Trimaran Seafood, Lebak Bulus, pada 30 Juni 2016 kemarin, berkata,

“Kepada alumni semua kami harap kalian terus eratkan tali persatuan dan kesatuan. Jalin kebersamaan antara satu dan yang lainnya. Ketika kalian kumpul ciptakanlah barisan, bukan kerumunan. Kerumunan bisa dibentuk hanya dengan dihadirkannya gula di tengah-tengah manusia, ia tidak teratur, berbeda dengan barisan, ia rapi, teguh, dan bisa diandalkan seperti barisan tentara yang siap tempur di medan peperangan.”

“Kami juga minta do’anya kepada kalian semua. Pada generasi ketiga ini semoga kami diberikan kekuatan oleh Allah untuk mengembangkan kualitas almamater. Karena, sejatinya, saat beliau-beliau (kiai-kiai dahulu) itu sudah tiada, kami seperti kehilangan tempat untuk berpulang. Berpulang dengan makna tempat kita-kita mencari nasehat dan pertimbangan soal apa yang akan dijalankan, mengais petuah dan masukan atas suatu kebijakan pondok yang akan diputuskan

Melalui mereka seakan ada KEKUATAN TUHAN yang mengalir kepada kita.”

Acara ini dihadiri oleh berbagai lapisan alumni yang tersebar di penjuru Jabodetabek.
Semoga ke depan IKBAL bisa lebih berstau lagi!

2 Juli 2016
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html