Postingan

Etos Kerja Maksimal Sebagai Bentuk Ibadah Sosial

Dalam Islam ibadah terbagi menjadi dua bahagian, ibadah yang bersifat vertikal, yang merujuk kepada hubungan antara hamba dan Tuhan, dan ada juga ibadah horizontal, yang memperkarakan relasi antara manusia dan sesamanya. Biasa kita sebut pula dengan ibadah sosial. Di antara bentuk ibadah sosial adalah bekerja dengan sungguh dan serius menekuni dunia pekerjaan. Etos kerja yang berkualitas menjadi tanda kemaksimalan ibadah seorang hamba. Contoh nya Nabi yang berjuang bekerja baik sebagai pedagang sebelum menjadi Nabi atau dengan mendakwahkan risalah Allah setelah diutus menjadi Rasul. Salah seorang sahabat Nabi, Salman al-farisi, setibanya di Madinah demi melangsungkan hijrah, langsung bertanya kepada masyarakat sekitar agar ditunjukkan pasar. Baginya bekerja merupakan keharusan yang ditunaikan sebagai hamba yang bersyukur. Allah berfirman : و قل اعملوا فسيرالله عملكم و رسوله و المؤمنون و ستردون إلى عالم الغيب و الشهادة فينبئكم بما كنتم تعملون... التوبة : 105و أن ليس للإنسان إلا ما سعى.…

Merespon Ekstremisme Kaum Jihadis Mesir

Jumat siang (24/11) peristiwa menghebohkan terjadi di tanah Mesir. Pasalnya, pada sebuah masjid di Sinai Utara, Mesir, ketika ibadah shalat jumat tengah dilangsungkan aksi teror yang mencekam terjadi. Sebagaimana dilansir oleh portal berita BBC Indonesia (http://www.bbc.com/indonesia/dunia-42113527 ), korban jiwa yang bergelimpangan mencapai 235 jiwa dan 120 orang lainnya luka parah. Ibadah Jumat yang semestinya menjadi ruang bagi umat Islam untuk bertatap muka merayakan silaturahmi mingguan dikacaukan oleh aksi ekstrem dari segelintir penganut paham radikal. Islam Mengutuk Aksi TerorismeSebagai agama yang memiliki misi menyebarkan Rahmat bagi semesta alam, Islam jelas mengutuk aksi radikal sebagaimana yang terjadi di Mesir dan Negara-negara lainnya. Allah menegaskan di beberapa firman-Nya mengenai besarnya dosa membunuh sesama orang beriman. (Lihat surat al-Nisa : 93)Nabi Saw mengatakan : Dari Abu Bakrah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: “S…

Femininitas Asmaul Husna

Asmaul husna atau nama2 Indah yang disandarkan menjadi sifat2 keagungan Allah, menurut Nasaruddin Umar, 80% subtansinya mengandung unsur femininitas, memuat makna kelembutan dan Kasih sayang. Feminin atau feminitas, sebagaimana dilansir dari wikipedia berasal dari bahasa Perancis, femininine adalah sebuah kata sifat, adjektif yang berarti "kewanitaan" atau menunjukkan sifat perempuan. Sifat-sifat yang dimaksud biasanya adalah kelembutan, kesabaran, kebaikan, dll.Pemaparan yang disampaikan oleh rektor Institut PTIQ Jakarta dalam acara prosesi wisuda sarjana PTIQ 18 November 2017 tersebut dipertegas dengan sebuah perumpamaan menarik. Kata beliau, di antara contoh feminisme (kandungan unsur kelembutan dan kasih sayang) Allah yakni sebagaimana yang tersurat dalam firman-nya, "bismillahirrohmanirrohim" dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Redaksi yang digunakan adalah rahman (pengasih) dan rahim (penyayang)  yang keduanya menunjukkan makna feminisme…

Resonansi

Alkisah, ada dua orang kawan yang menempuh satu tujuan melalui jalan yang berbeda. Yang satunya menempuh jalan A, melintasi pasar penjualan minyak Wangi, yang satunya menempuh jalan B, menyusuri pabrik tempaan besi. Si A berjalan melenggang melintasi ratusan gerai parfum yang terbentang sepanjang jalan, sesekali ia mampir bercakap dengan sang penjual dan tak jarang membeli parfum terbaik yang dijajakan. Si B khidmat memacu langkah di antara ratusan pabrik pembuatan besi yang terurai sepanjang rute perjalanan. Sesekali ia bercakap dengan pandai besi, menuju perapian tempat besi dipilin dan dibentuk, tak jarang ia mencobanya dengan tangan sendiri. Sesampainya di tujuan mereka berjumpa dan menemui tuan rumah. Sang tuan rumah tergugah dengan aroma semerbak si A, dan betapa tersentaknya ia tatkala merangkul si B, ketika mengetahui tubuhnya yang merupakan aroma pekat hangus perapian. Demikianlah ilustrasi berprosesnya pembentukan karakter kita. Resonansi. Proses pemantulan. Teman yang serin…

Pelepasan Wisudawan Berprestasi dan Berakhlak Mulia

Dalam acara pelepasan wisudawan fakultas Ushuluddin PTIQ Jakarta dengan tajuk "Pelepasan Wisudawan Berprestasi dan Berakhlak Mulia" yang dihelat di Aula Institut PTIQ Jakarta, Kamis 16 November 2017, beberapa dosen menyampaikan pesan dan kesan yang teramat menyentuh sanubari kami selaku calon wisudawan. Waktu 4 tahun bukanlah waktu yang singkat, tertuang kekayaan pengalaman dan pelajaran yang bisa dikais di dalamnya. Atas prinsip itu, beberapa dosen yang hadir ketika itu; Dr. Husnul Hakim (Demisoner Dekan Ushuluddin),  Andi Rahman, MA (Dekan Ushuluddin), Lukman Hakim, MA (Ketua Jurusan Prodi Ilmu Quran dan Tafsir), Dr. Ahmad Ubaydi Hasbillah (Dosen Hadis), Ansor Bahari, MA (Dosen Pemikiran Islam),  Pak Solihin (Demisioner TU Ushuluddin),  Pak Amiril (TU Ushuluddin), turut menyampaikan pesan serta kesan mereka selama menggeluti dinamika proses KBM di kampus bersama calon wisudawan Fakultas Ushuluddin yang akan memakai toga pada 18 November mendatang. Dr. Husnul Hakim mengatak…

Alokasi Daya Kreativitas

Dr Ibrahim el-Fiky, motivator internasional asal Kanada mengatakan bahwa manusia, pada umumnya, menciptakan 60.000 pikiran setiap harinya. Itu artinya, semenjak bangun hingga tidur kembali, akal yang tertanam di kepala manusia senantiasa bergerak melahirkan produk2 pikiran baik yang kit sadari atau tidak. Tentu tak semuanya baik, maka tergantung bagaimana kita mengaturnya sedemikian rupa sehingga ia bisa menjadi bermanfaat. Seorang yang memiliki dan senantiasa melatih dirinya untuk bersikap positif, maka yang 60.000 itu akan membantu meningkatkan eksistensi kepositifannya. Dan sebaliknya. Salah satu produk pemikiran adalah tulisan. Manusia yang mendistribusikan pikirannya ke dalam dunia jurnalistik biasanya akan gatal ketika dalam sehari tangannya tidak menulis sesuatu. Baik itu lewat status hingga menggarap artikel berbobot tinggi. Namun, secara garis besar, semua itu harus diarahkan dan dikelola dengan baik. Bagaimana caranya? Tahan hasrat untuk melimpahkan ide di status facebook, t…

Pidato Kebudayaan dan Peningkatan Mawas Diri

Pidato kebudayaan yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, merupakan agenda tahunan yang cukup menyita perhatian banyak orang. Pasalnya, perayaan yang dihelat setahun sekali ini rutin mengundangkan tokoh-tokoh kenamaamaan untuk menyampaikan ide dan gagasan brilian dalam merespon khasanah kebudayaan dan realitas yang tengah berkembang. Dimulai pada tahun 1980, beberapa tokoh seperti Mahfud MD, Rocky Gerung, Karlina Supelli, Azyumardi Azra, Syafii Maarif, dan banyak tokoh-tokoh lain tampil sebagai penyaji pidato kebudayaan. Tema yang diusung pun merupakan tema yang bersifat tawaran solusi atas problematika kebudayaan dan realitas yang ada. Jumat malam kemarin (10/11/2017) untuk pertama kalinya saya berkesempatan untuk mengikuti pidato kebudayaan di teater Jakarta, Taman Ismail marzuki. Pembicara kali itu adalah Roby Muhammad, seorang ilmuwan dan entrepreneur lulusan Colombia University, dengan mengangkat sebuah tulisan berjudul "Nostalgia M…

Google + Follower's