@16 Nafsu, Musuh Terbesar Manusia



 Tak bisa dipungkiri lagi bahwa nafsu merupakan salah satu musuh terbesar yang pernah tercatat dalam perkembangan sejarah manusia itu sendiri. Lihatlah bagaimana sang Adam sukses dibuat hengkang dari kenikmatan surgawinya, itu semua tidak terlepas dari satu hal yang bernama hawa nafsu, siapa pula yang mendalangi kinerja nafsu sesat tersebut? Jawabannya sudah jelas, bahwa setan dan para dedengkotnyalah yang bertanggung jawab dalam mengkoordinator semua gerak-gerik busuknya.
Saking besarnya peranan nafsu dalam perkara membinasakan umat manusia, Rasulullah Saw. saja ketika usai mengalami peperangan besar melawan kaum Quraisy, beliau berkata kepada para sahabatnya “Roja’na min jihadil asghori ila jihadil akbari” yang artinya “kita baru saja menuntaskan jihad kecil, dan akan beralih ke jihad yang lebih besar”. Jihad yang lebih besar disini berarti memerangi hawa nafsu dalam diri kita, simaklah betapa Rasulullah menempatkan ‘perang terhadap hawa nafsu’ di atas perang kepada kaum bersenjata sekalipun. Perang melawan hawa nafsu memang suatu hal yang dahsyat, yang hanya seseorang dan hatinya saja aktor utamanya.    
                    
Kini, sering kali kita menyaksikan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai pemimpin kepribadiannya, mengikuti serta mematuhi segala apa yang dikehendaki oleh hawa nafsu itu sendiri. Aduhai, bukankah hal tersebut sangat akan membinasakan kita, entah sebagai seorang makhluk biasa, terlebih atas nama sorang yang mengaku hamba Allah Ta’ala. 

 Islam seringkali menganjurkan kepada kita agar menjadikan hati dan akal yang sehat sebagai perangkat yang mensensor seluruh amal perbuatan kita, sehingga kelak akan muncul benih-benih unggul yang tersemai di belahan bumi manapun, bermekaran semerbak mengharumkan tiap sektor kehidupan kita ini.

  Falidzalika, maka dari itu, wahai ikhwanul muslimin sekalian, mari kita melatih diri untuk memerangi hawa nafsu hingga akar-akarnya, sapu bersih tipu daya setan yang menipu dengan memperbanyak berdzikir kepada Zat yang Maha Kuasa serta mempertebal iman dan takwa kita! Ingatlah apa yang dikatakan Imam Ali “barang siapa yang harinya lebih baik dari kemarin maka ia termasuk orang yang beruntung”.


Komentar

Google + Follower's