@42 Lumajang, Bye-Bye...

Ini adalah malam terakhir dimana semua hari selanjutnya akan kembali berlangsung sibuk seperti halnya suasana perkantoran, kembali beraktivitas di lingkup yang tersohor kedisiplinan dan ranah hukumnya (Go To Boarding School). Terakam jelas ribuan langkah dan nostalgia yang lahir begitu saja ketika nafas usai bertegur dengan aroma segar wilayah pedesaan, ketika mata berhasil mengendus pesona mahligai gunung Bromo dan Semeru, ketika kaki melenguh riang menginjak lembutnya persawahan di suatu desa bernama Selok Gondang.

Ditambah lagi gemericik rinai hujan yang kerap menemaniku menjalankan potongan kehidupan ini, aku akan berkata kepada siapa yang dengan tulis membaca kisah singkat ini, betapa semua menjadi hal yang terindah dalam hidup ini. Berlibur bersama keluarga di Lumajang merupakan momen yang memiliki nilai tersendiri dalam benak ini, bersama menyaksikan keelokan alam yag begitu ramah dan bersahabat, berjalan beriringan menyusuri sejuknya area pegunungan, bertandang ke rumah kawan sambil bercerita indahnya menjadi santri Al-Amien Prenduan .

Berkesempatan mengunjungi kerabat yang sudah 6 tahun tidak berjumpa menjadikan hati begitu riang, mencoba mengenali satu demi satu potongan wajah yang telah lama kabur ditelan masa, bersenda-gurau dengan sanak-saudara dan handai taulan, menyaksikan beberapa kembang desa yang tengah mekar berhamburan di ranumnya hawa pegunungan, oohh... sungguh bangga dirasa, nyaman di relung jiwa.

Berfoto-berkameraan adalah hal yang wajib untuk mengabadikan momen indah ini, untungnya walau tak ada kamera resmi (yah, maksudnya kamera yang bukan dari Hp) ada Blackberry yang cukup mendukung kualitas hasil fotonya. Berpose bersama di atas sungai, di kaki pegunungan, di kolam pemandian alam Selokambang, di beceknya tanah persawahan, di tengah rimbunnya pepohonan, di tengah tenangnya danau Ranu Pakis, di bawah curahan hujan deras kota Lumajang, di santainya duduk di atas perahu bebek saat ingin mengarungi danau Ranu Pakis, beraksi di betis Gunung Puji (hehe, diatasnya kaki gunung...) lokasi dimana seluruh denyut sinyal hape berhenti berdetak, ya... semuanya berhasil diabadikan lalu ditempatkan menjadi satu disini...

Belum lagi ditambah kisah cinta monyet yang sedang diidap oleh saudara kita berinisial A, yang tengah merasakan panorama surga "katanya" saat bertemu dengan seorang berinisial R (yang pada akhirnya kita ketahui bahwa sang cewek adalah iparnya sendiri..., hehe... cinta memang buta..!!!). Bertemu dengan Mbak Jun yang suka ngomel dengan alur Jawa kental, Mbak Rahma yang banyak menyimpan misteri kehidupan kaum Adam, Muhammad Akrom yang tengah merajut suatu untaian benang istimewa dari kekasih idamannya, Mas Umar si kakak yang usai mendapatkan pasangan hidupnya dengan Mbak Iis nya yang jelita di tengah kilauan mentari Selokgondang... dan masih banyak lagi yang tak bisa dikasih link-nya seperti Lek Buadi (Tuan Rumah), Bu Siti (Nyonya Rumah), Jeki (anaknya Mbak Jun, 8 thn), Kalista (anaknya Mbak Jun, 3 thn), Sasha (cucunya Lek Buadi, 7 thn), semuanya yang bikin liburan ini terasa ramai dan lebih bermakna, menjadikan momen ini menjelma bulir pengalaman yang sulit dilupakan.

Meninggalkan Lumajang merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan, mengingat banyaknya rekaman gerik dan kiprah saya di liburan semesteran ini yang banyak menghiasi hati ini (termasuk bertamasya ke Ranu Pakis yang penuh kemilau danaunya di bawah siraman mentari, Pemandian Alam Selokambang yang air alamnya begitu dingin laksana es, dan masih banyak lagi tempat yang saya singgahi ... ).

Dan pada akhirnya bukanlah perpisahan yang harus kita sesali, akan tetapi mengapa kita harus bertemu saling merajut mimpi..? bukankah tiada hal yang kekal dalam kehidupan ini kecuali ketidak-kekalan itu sendiri, sama seperti halnya liburan kita saat ini... pada ujungnya semua harus berpasrah diri melepas segala kenangan yang ada, biarkan pengalaman tersebut bersemayam indah di kelopak jiwa, jadikan ia sebagai hal yang menyenangkan kala terdetik di lubuk hati...

Bye-Bye Lumajang...


Komentar

Google + Follower's