@57 Peran Hati Dalam Kehidupan Kita

Posisi hati dalam menetapi tampuk kehidupan kita adalah hal yang terpenting, sebuah organ yang disinyalir adalah pusat tempat segala kinerja kita bertolak, tempat dimana baik buruk seseorang dinilai secara mutlak. Jangan sampai kita mengacuhkan hal ini malah kita menjadi rusak tak terkendali, membiarkan segala apa yang kita lakukan berlandaskan nafsu birahi semata, karena sesungguhnya orang hebat akan tercipta lantaran diri mereka mampu dengan lugas menguasai gelinjang hatinya yang kian bergemuruh.

Hati dalam agama kita (Islam), merupakan bagian yang penting dalam proses kita untuk menjadi makhluk yang langgeng dunia dan akhirat, dalam sebuah hadits saja Rasulullah pernah berujar:




Hati memang merupakan benda yang amat tersembunyi di dalam tubuh kita, tak ada yang mengetahui baik-buruk kita yang sesungguhnya kecuali pemilik hati itu sendiri dan tentunya Allah Sang Pembuat hati itu. Kalau kita menyaksikan orang bisa tersenyum dengan sumringah, jangan kita lepas prasangka bahwa ada dari mereka yang hatinya telah hancur berkeping-keping, dengan sangat pintar seorang manusia bisa saja membohongi mereka sesamanya dengan aura lahiriah yang terlihat baik dan mantap dipandang.


 Hati juga banyak mengisi relung kosong pembicaraan sastra dunia, dimana banyak karya tulis atau bahkan seni gambar yang menjelaskan kedalaman dan kemisteriusan organ kita yang satu ini, menguraikan bahwa masalah hati merupakan masalah yang sangat kompleks dalam kehidupan kita. Pun telah banyak kata-kata mutiara yang membahas masalah hati, salah satu yang masyhur adalah sebuah ungkapan “Dalamnya Lautan masih bisa diukur, tapi dalamnya hati siapa yang tahu?”


 Jangan sangka, kedalaman hati itu rupanya membuat kita makin waswas dengan kualitas dan kuantitasnya, dimana Rasulullah juga telah menegaskan bahwa di dalam tubuh manusia ada sebongkah daging yang jika ia baik, maka seluruh organya akan baik, dan sebaliknya jika ia buruk, maka seluruh jasadnya akan mengikuti geliat buruknya itu.


Dalam banyak perumpamaan hati manusia yang baru lahir ibarat sebuah kertas putih yang kosong tak ada goresan tinta sedikitpun, namun seiring perjalanan hidup yang banyak mengundang maksiat, waktu demi waktu hati kita ibarat sebuah kertas putih polos yang terkena tetesan tinta berwarna gelap, kalau kita semakin meremehkan kejadian berikut (menyaksikan kehormatan diri kita direnggut tanpa sebuah perlawanan), berusaha acuh tak acuh dalam menanggapinya, maka siaplah kita menyesal dengan penyesalan sedalam-dalamnya ketika kita menyadari hati kita (kertas putih tadi) telah menjadi hal yang gelap tak terkira, semua hitam tertindih noda, iya kalau kita masih berharap akan ada cahaya Tuhan yang akan menyirnakan kegelapan itu, kalau tidak . . . . hendak kemana kita melepas sauh, akan ditaruh dimana wajah kita ketika datang hari pengadilan itu . . . ?

Mari kita putihkan kembali hati kita dengan perbaikan-perbaikan moral dan akhlak kita masing-masing, benahi diri dan raih prestasi setinggi mungkin di mata Ilahi . . . 

Google + Follower's