@77 Takwa, Hadiah Dari Tuhan


Seandainya aku mengetahui bahwa ada diantara amalanku yang diterima oleh Allah meskipun hanya sebesar biji sawi, maka itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Subhaanahu Wata'ala berfirman, 'Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.' (al-Maaidah : 27)

(Fudhalah bin 'Ubaid)

 Meraih gelar Muttaiqen memang sebuah prestasi yang amat gemilang yang bisa dirasakan oleh seorang muslim, menengok dari hasil yang didapatkanyaitu berupa Jannatun-Naim , kita juga harus membanting tulang untuk mendapatkannya, menguras pikiran dan melawan hawa nafsu yang makarnya tak terbilang.
Merujuk pada apa yang disampaikan Fudhalah diatas, yang mana ia salah seorang ahli hadits, kita seakan trenyuh pada ungkapan tersebut, bagaimana bisa kita membandingkan pahala sebesar biji sawi yang diterima oleh Allah dengan seluruh isi dunia plus kilau gemerlapnya, hal ini tentu saja ada yang memberlakukan kualitas pernyataan tersebut, betapa ia menyatakan bahwa walau sedikit amal yang ia diterima oleh Allah, namun sungguh betapa bijaksana Al-Qur’an yang memaparkan bahwa Allah hanya menerima amal hamba-Nya yng bertaqwa, hal ini tentunya  yang bisa membuat kita semua merasa bahwa dunia yang kita huni dan seisinya ini serasa tiada berarti apa-apa jika dibandingkan dengan sebuah Ketaqwaan yang melekat pada diri kita.

Subhannalah, selain jaminan bahwa Allah akan menerima seluruh amal ibadah seorang Muttaiqen , mereka pun akan mendapatkan jaminan keselamatan di dunia ini, Dia akan memberikan jalan keluar terhadap masalah yangkita dera, memberikan rizki dari arah yang tak bisa disangka2, dan yang terakhir tentunya, dimana ini merupakan buah hasil yang amat besar yang bisa dirasakan oleh hamba-Nya yang soleh yaitu berupa Surga dan kesempatan untuk menatap langsung Allah Jalla Jalalahu ­beserta Rasulullah dan para Malakut wal Anbiya lainnya.

Subhanallah, hal ini sekali lagi merupakan hal yang amat didambakan oleh siapaun yang cinta kepada Rabbnya, namun untuk mendapatkan ‘tittle’ tersebut, sekali lagi butuh perjuangan yang yang penuh aral melintang, penuh onak yang  menerjang dan perjalanan yang cukup melelahkan...

Bukankah tiada kesenangan kecuali setelah berpayah-payah dahulu...?

Komentar

Google + Follower's