@80 Ada harga Untuk Sebuah Kebahagiaan


Kemarin hari jum’at saya jalan-jalan ke pantai, bersama murid syu’bah (pra-SMP), ditemani dengan 9 siswa dan 2 ustadz lainnya, kami bernostalgia bersama, hal ini diadakan dalam rangka selesainya ujian MID Semester yang sempat melilit pikiran semua santri maupun gurunya, seluruh isi pondok sangat sibuk jika datangnya ujian.

Mulai dari awal pemberangkatan kami semua bergurau-ria, tiada batas antara guru dan muridnya, semua berbaur menjadi satu, melebur saling melepas penat yang sempat bersemayam di otak sepuluh hari belakangan. Berfoto-foto mengabadikan momen berharga ini dengan kamera yang kebetulan berwarna pink, mencari pose yang pas buat dijepret kamera, semuanya merasa bahagia dengan perjalanan ini.

Singkat cerita, sampailah kami di pantai (bukan pantai, tapi laut luas yang banyak karangnya di dasar laut), namun kami semua para penghuni pondok terlanjur terbiasa dengan istilah berikut. Maka dimulailah ber-hura-ria itu, menyeburkan diri ke ‘pantai’, saling siram dan basuh, bertemu ubur-ubur, adu cepat renang, dan masih banyak lagi. Semua berjalan tanpa terasa dan yang pasti akhirnya berujung pada terciptanya beberapa luka yang hinggap di sekujur tubuh, kaki tangan tak luput di sapu karang dan kerikil, ada yang berdarah-ada yang hanya terasa perihnya-bahkan ada yang bercampur antara keduanya, sakit memang terasa sakit, namun kami telah mendapat harga yang pas untuk semua itu, kami memperoleh kebersamaan yang membahagiakan, kami puas bahwa segala penat yang hinggap kemarin kini sirna disapu derai tawa dan gurau canda.

Yah, memang seperti itu hukum kehidupan, terkadang kita harus terluka dulu untuk mendapatkan sekelumit kebahagiaan, harus menebusnya dengan sebuah luka yang menunggu untuk kita datangi.

Wama-l-Ladzzatu Illa Ba’da-t-Ta’bi... Tiada Kelezatan Kecuali Ia Datang Setelah Kesusahan...

Komentar

  1. Dimanapun dan kapanpun kita bisa mendapat kebahagiaan jika kita menginginkannya...

    BalasHapus

Posting Komentar

Google + Follower's