@74 Menulis Butuh Kebebasan


Menulis memang hal yang termudah yang bisa dilakukan seorang manusia, siapapun pasti bisa mengerjakannya dengan ringan tanpa beban, terserah ia mau menulis apa dan bagaimana, ia mempunyai kekuasaan penuh terhadap apa yang akan ia tulis. Bahkan ia bisa dikatakan gagal dalam menulis sebuah karya, jika ia melakuikannya dengan terpaksa dan keberatan, satu hal yang wajib dimiliki oleh seorang penulis adalah sebuah “kebebasan”, dimana dengannya kita membisa menggubah sebuah karya yang bebas terbentang di antara deretan aksara yang ia lahirkan.

Dan, syukur Alhamdulillah, saat ini saya mulai mempunyai rasa “bebas” itu, rasa yang semoga saja akan mengantarkan saya menuju gerbang kesuksesan dan kedamaian. Saya akan mencoba dengan lapang dada dan tangan terbuka, membiarkan resonansi pantulan dari apa yang saya kerjakan berbalik mengalir deras ke kehidupan saya, ke dalam tulisan saya.

Salah satu sarana yang akan menghantarkan saya ke jalan itu adalah dengan terbukanya peluang untuk nge-blog, setiap hari saya memikirkan bagaimana supaya diary online itu bisa terisi dengan deretan aksara indah, yang mana dengan itu bisa mengundang banyak pengunjung untuk berlama-lama sekaligus bernostalgia di blog saya, itu yang saat ini saya pikirkan.

Dulu, saya pernah bercita-cita untuk menjadi seorang penulis, mendapatkan uang tips dari pekerjaan tersebut, sehingga saya bisa dengan santai bisa melakoni pekerjaan yang ringan namun berbuah hasil yang memuaskan. Itu dulu, sekarang saat saya menyadari arti sebuah tulisan lebih dalam lagi, saya mendapatkan mutiara yang melimpah, yang mengabarkan bahwa tulisan tidak selalu untuk menghasilkan pundi-pundi berlian, lebih dari itu kenapa banyak penulis yang sukses disana, mereka tiada lain ikut menjiwai jalannya sebuah huruf dalam suatu karya, tiada paksaan maupun kata keberatan ketika ia melangsungkan proses penulisan, tiada harapan yang paling besar ketika menumpahkan kata-kata ke atas kertas dalam benaknya ecuali k karena ia ikut terjun menikmati keindahan dan keeksotisan sebuah aksara yang melenakan jiwa. Mereka ikut melanglangbuana bersama kata-katanya!

Allah, Maha Suci Engkau yang menganugerahi kami otak dengan kapasitas besar untuk sekedar merenungi semua ayat-ayat-Mu. Kami sadar, ketika kau menyuruh manusia untuk pertama kalinya untuk membaca, membaca dan membaca, kami semua kiranya bisa mengambil ibroh dari perintah tersebut, betapa dalam sebuah pekerjaan yang bernama “membaca” itu akan membuka jendela dunia yang lebih besar dalam benak manusia , di mana semua aksara di dunia ini memiliki energi tersendiri untuk menyita hati sang pembaca untuk merenungi, dan bukankah suatu kebetulan jika bersamaan dengan itu Kau turunkan Al-Qur’an sebagai pelengkap pustaka bacaan, bahkan bukan hanya pelengkap, dengan terang dan jelas Kau terangkan lewat lisan Rasulullah “bahwa siapa saja yang memegang teguh Al-Qur’an dan As-Sunnah maka dalam hidupnya ia tak akan pernah tersesat selamanya.” Aduhai, betapa bijaksana dan agungnya kau turunkan Al-Qur’an bersama kami umat Muhammad, umat yang memang sesungguhnya sangat membutuhkan sebuah pegangan ketika dunia saat ini terlihat amburadulan.

Allahumma Ihdinas-Shiratal Mustaqiem...

Ya Allah Tunjukkanlah Kepada Kami Jalan-Mu Yang Lurus...

Komentar

Google + Follower's