@ 86 Berpetualang di Negeri Seribu Piramida

(Walau Masih Sejumput Harapan)

Semua berawal dari keinginan saya untuk menimba ilmu jauh ke bumi-Nya yang luas, tempat yang saya pilih adalah bertandang menuntut ilmu ke Al-Azhar, Mesir. Walau kini semua media mengabarkan bahwa saat ini bahwa di negara itu tengah berkecamuk sebuah perang internal, namun keinginan ini begitu menggebu-gebu seperti riuhnya angin badai di dalam hati, apalagi hal itu ditambah dengan terbukanya peluang di depan mata kepala saya.

Merantau guna mencicipi pengalaman hidup adalah hal yang begitu manis untuk dinikmati, menilik dimana saya ketika lulus SD sudah dilempar dari Tangerang ke Madura (dipondokkan), dan lagi kemarin ketika saya dan kawan sekelompok Niha’ie saya berkunjung ke rumah Musyrif disana kami diberi suguhan kata-kata penyemangat hidup, bunyinya seperti ini “segala sesuatu tergantung bagaimana kita menikmatinya, MUMPUNG masih muda, PERGILAH sejauh-jauhnya…!”  hal inilah yang  membuat saya semakin termotivasi bahwa semakin lama perantauan saya harus semakin jauh dan kian menantang, nah untuk saat ini saya pilih ke jazirah Mesir sana.

Orang yang mau ber-jauh-jauh- an dengan orang tua sebenarnya bukan bererti bahwa ia tak sayang orang tuanya, hal ini hanya saja lebih menandai bahwa sebenarnya dengan langkah yang kita (para perantau) pilih ini merupakan sebuah gagasan yang “keren” untuk meringankan beban orang tua kita di rumah, mereka jadi yakin bahwa kita bisa hidup tanpa terlalu membutuhkan “bantuan” mereka, yah walau sebenarnya untuk mencapai itu semua terkadang butuh banyak pengorbanan dan ratap air mata yang harus tumpah di pipi, tapi itulah HIDUP, selalu dan semakin manis jika didalamnya terdapat berbagai rintangan yang menghadang.


Begitulah juga yang saya rasakan dalam batin dekat-dekat ini, ketika saya menginjakkan kaki di bumi “Fachri” sana, mau tidak mau saya harus melepas kontak finansial dengan orang tua saya dirumah, saya harus bekerja ekstra untuk bisa membiayai hidup saya di tanah rantau sana…

Namun saya sangat meyakini bahwa jika saya terbiasa dengan ihwal seperti itu lama kelamaan saya akan ditempa dengan sifat mandiri yang matang dan energik, sehingga saya kelak saya bisa melanjutkan sisa-sisa potongan kehidupan saya dengan nyaman dan aman.

Yah begitulah kisah acak-adul saya yang sebenarnya belum sempurna terjadi dan kebetulan masih dalam perencanaan belaka, semoga saja semua menjadi kenyataan dan saya bisa menjadi manusia yang berjiwa mandiri dan mampu membanggakan kedua orang tua dan keluarga dirumah.

Kalau ada sumur diladang boleh kita menumpang mandi, kalau ada umur yang panjang bolehlah saya menulis kembali (yah, supaya antum bisa kembali bertemu dengan tulisan saya yang ‘enerjik’ ini, hehe…)

Wassalam, Salam Blogger Salam Perantauan…!

Komentar

Google + Follower's