@93 Tentang Halal, syubhat dan Haram


Tentang  Halal, Haram dan Syubhat

Islam merupakan agama yang sempurna dan diturunkan dari Zat yang Maha Sempurna, semua syari'at dan tata cara berkehidupan di dunia ini telah dilukiskan oleh agama ini dengan sebaik-sebaiknya.

Sejarah telah mencatat bagimana hebatnya pengaruh Islam dalam pengalihan tembok sejarah, dimulai dari 14 abad silam ketika muncul sosok 'Al-Amin' yang hidup di tanah gersang Arab, di tengah sebuah komunitas dan suku yang sungguh tak berperadaban (perang saudara, menyembah berhala, meminum khamr, mengawini ibu tiri, mengubur anak perempuan), dan di tengah sebuah penduduk padang pasir yang sepanjang sejarah tak pernah dikenal dunia, hal ini senada dengan apa yang terkutip dalam buku Ahmad Deedat "Dari kebiadaban yang hina ini, Muhammad mengangkat mereka, dalam kata-kata Thomas Carlysle, 'Menjadi pembawa obor penerang dan pelajaran. Bagi bangsa Arab ini adalah kelahiran dari kegelapan menuju cahaya. Untuk pertama kalinya Arab menjadi hidup karenanya. Masyarakat penggembala yang miskin, mengembara tidak dikenal di padang pasir sejak penciptaan dunia. Perhatikan, tidak dikenal menjadi terkemuka di dunia, yang kecil telah tumbuh menjadi dunia besar. Dalam satu abad kemudian Granada telah berada di tangan Bangsa Arab dan Delhi di tangannya yang lain. Pandangan sekilas dalam keberanian, kemegahan, dan cahaya kecerdasan, Arab menyinari bagian yang besar dari dunia" (1), Allah, Muhammad, dan Islam telah mengubah semuanya!

Islam datang dengan sejuta keajaiban dan keberkahan, agama terakhir yang diturunkan pada abad ke 5 Masehi ini menjadi sebuah keyakinan yang begitu mengakar bagi para penganutnya, ini semua terlihat ketika bagaimana semua sahabat yang 'mukhlis dan mu'min"~semoga Allah meridhoi mereka~ itu berjuang mati-matian membela agama ini, mereka rela mati syahid demi menegakkan 'kalimatullah', pedang yang berkilat tajam, panjang dan siap menebas leher siapapun yang berani mendekatinya tak menciutkan mental mereka, dentuman genderang musuh dan hingar bingar nya teriakan musuh tak membuat mereka mundur ke belakang lalu tidur di atas ranjang! Tidak, semua ini adalah bukti kebenaran agama ini, tanda yang nyata bahwa agama ini adalah kepunyaan yang Maha Kuasa! Mereka semua yakin dan tahu bahwa di balik syari'at dan hakikat agama ini terdapat sejuta hikmah dan keagungan tersendiri yang diturunkan oleh Allah kepada kekasihnya Muhamad Saw. Sebagai jalan penerang hingga akhir zaman, tak pelak jika dikatakan oleh Ahmad Deedat dalam 'The choice' nya bahwa dalam waktu kurun waktu setahun Islam telah menjamah tanah Granada, Spanyol.(2)

Allah Swt berfirman:

"حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيم"ٌ

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (3)

Namun, di antara semua kesempurnaan agama ini, ketika yang halal itu sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas, menyembul sebuah masalah yang sangat sakral dan tidak diketahui banyak orang, yaitu masalah Syubhat.

Perlu diketahui disini, bahwa syubhat itu dalah sesuatu yang berada antara halal dan haram, maka anjuran Nabi adalah agar kita menjauhinya,

"Nu'man Bin Basyir bererita bahwa dia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "perkara yang halal telah jelas dan yang haram telah jelas pula. Antara keduanya ada beberapa perkara yang diragukan yang tidak diketahui hukumnya oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menjauhi perkara-perkara yang diragukan itu berarti dia memelihara agama dan kesopanannya. Barangsiapa mengerjakan perkara yang diragukan, sama saja dengan pengembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang, dikhawatirkan dia terjatuh ke dalamnya. Ketahuilah semua raja mempunyai larangan da ketahuilah pula larangan Allah adalah segala yang diharamkan-Nya. Ketahuilah dalam tubuh ada segumpal daging. Apabila daging itu baik maka baik pula tubuh itu semuanya. Apabila daging itu rusak, maka binasalah tubuh itu seluruhnya. Ketahuilah, daging tersebut adalah hati" (Muttafaq 'Alaihi) (4)

Ibnu Hajar menambahkan " yang dapat dipahami dari kata 'katsir' (banyak) Adalah bahwa yang mengetahui hukum itu perkara tersebut hanya sebagian kecil manusia, yaitu para mujtahid. Namun terkadang syubhat itu timbul dalam diri para mujtahid jika mereka tidak dapat men-tarjih ~ (menguatkan) salah satu antara dua dalil." (5)

Maka dari itu sangat dianjurkan bagi kita agar menjauhi perkara tersebut, agar kita tidak laksana seorang pengeembala yang menggembala ternaknya di pinggir jurang, karena siapa yang menjamin bahwa 'gembalaan' kita tidak jatuh ke jurang lalu tewas kemudian...?

Kemudian beliau Ibnu hajar menambahkan " 'istabro'a' (memelihara 'agamanya') maksudnya disini adalah, agamanya selamat dari kekurangan dan periakunya selamat dari celaan, karena orang yang tidak menghidari hal-hal syubhat, maka dia tidak akan selamat dari perkataan orang-orang yang mencelanya. Hadits ini menjelaskan, bahwa orang yang tidak menjauhkan diri dari syubhat dalam pencaharian dan kehidupannya, maka dia telah menyerahkan dirinya untuk dicemoh dan dicela" (6)

Jadi masihkan kita gemar untuk melakukan hal yang syubhat? Terlebih kita  justru melakukan hal yang jelas-jelas telah di haramkan dalam Islam?

Dan mengenai isi hadits di atas yang berkenaan dengan masalah hati, ada sebuah kutipan menarik dalam kitab 'fathul baari'' karya Al-Asqolani ini,

"Hadits ini mengandung peringatan akan pentingnya hati, dorongan untuk memperbaikinya dan isyarat bahwa nafkah yang baik memiliki efek baik terhadap hati, yaitu pemahaman yang diberikan oleh Allah. Pendapat tersebut dapat dijadikan dalil bahwa akal berada di hati berdasarkan firman Allah, "mereka mempunyai hati yang dengan itu dapat memahami." Dan dirman Allah, "sesungguhnya dalam semua itu terdapat peringatan bagi orang yang memiliki hati." Para ahli tafsir mengartikan hati dengan 'akal'. Adapun disebutkannya hati, karena hati adalah tempat bersemayamnya akal." (7)

Jadi, dari penjelasan di atas marilah kita merenungi lebih dalam kualitas dan kuantitas bobot hati kita sudahkah kita membersihkannya dengan 'dzikrullah, sudahkah kita sirami ia dengan kalimat 'laa ilaha illa Allah', atau malah kita nodai dia dengan dosa dan tingkah laku buruk kita...?

Dan sebagai penutup, akan saya kutip disini sebuah syair yang membahas masalah "syubhat" ini,

"Pondasi agama menurut kami adalah kalimat-kalimat yang disadarkan kepada sabda khairul barriyah (manusia yang paling baik),
Tinddalkan yang syubhat dan berzuhudlah kemudian biarkan yang tidak ada di depan matamu lalu berbuatlah dengan niat" (8)

Wallahul Haadi Ila Ahdas-Sabiil...

Wassalaamu 'ala man ya'tashim bihablillah..

___________________

1. Lihat "The Choice" karya Ahmad Deedat, hal. 15
2. Ibid
3. (Al-Ma'idah:3)
4.  AL-Lu'lu' Wal Marjan, II, hal 153, hadits no. 1028
5. Fathul baari', I, hal. 232 , dalam bab "keutamaan orang yang memelihara agamanya"
6. Fathul bari', I, 233, dalam bab "Keutamaan Orang Yang Memelihara Agamanya"
7. Fathul Baari, I, hal. 236-237, dalam bab "Keutamaan Orang Yang Memelihara Agamanya"
8. Al-Asqolani, Fathul Baari, I, hal. 237, dalam bab "Keutamaan Orang Yang Memelihara Agamanya"

Komentar

Google + Follower's