@101 Ikhtisor Hadits dan Riwayah Bil Ma'na (masih bahan mentah)

Ikhtisor Hadits

"Apakah boleh memendekkan sebuah hadits, menghapus sebagiannya, yang dianggap tidak berkaitan dengan tema pembahasan sebuah hadits? Ada dua pendapat

Yang pertama adalah yang dilakukan oleh Shoni' Abi Abdullah Al-bukhari, beliau banyak memendekkan sebuah hadits di banyak tempat (dalam shahihnya, penj)

Sedangkan apa yang dilakukan oleh Muslim adalah, beliau membiarkan hadits itu tertulis secara sempurna, tidak memendekkannya, dan inilah yang diperkuat oleh banyak huffadz asing, dan dibutuhkan oleh para pensyarah yang lain, agar memudahkan mereka (bagi huffadz 'ajam dan pensyarah yang lain), dalam penisbatannya kepada shahih bukhori, dan banyak nya hadits yang terpencar di banyak tempat yang betbeda yang dilakukan bukhori untuk memudahkan periwaytan hadits sesnuai dengan tema pembahasannya saja. Dan inilah mazhab (pegangan) jumhur ulama yang terdahulu (qodiiman) ataupun yang terakhir (hadiitsan)."
(Ibnu katsir, Al-ba'its al-hatsits, hal. 139, daarul kutub ilmiyyah, beirut, tahun 2004)

"Berkata Ibnu Hajib dalam mukhtashar nya: menghaspus sebagian khabar (hadits, penj) adalah boleh di kalangan jumhur, kecuali jika hal  (pemendekkan hadits) itu terjadi pada pembahasan tentang tujuan pengecualiaan atau selainnya (maka hukumnya tidak boleh, karena hal itu akan membuat sebuah hadits itu sendiri, hilang dari kredibilitas aslinya, yaitu sebagai ajaran yang sempurna yang harus disampaikan, tanpa harus menghilangkan maksud dan tujuan ataupun pengecualiaan yang ada pada matan hadits, penj)" (Ibnu katsir, Al-ba'its al-hatsits, hal. 139, daarul kutub ilmiyyah, beirut, tahun 2004)

Riwayat Bil Ma'na

(pasal 1) sedangkan periwayatan hadits bil ma'na:

Jika halnya seorang perawi tidak 'alim (mngetahui) dan tidak 'arif (memahami) mengenai apa2 yang datang dari makna tersebut, maka tidak ada perbedaan (ikhtilaf) dalam masalah ini bahwasanya hal itu (periwayatan sebuah hadit dengan makna) adalah tidak boleh lantaran  sifat perawi tersebut" (Ibnu katsir, Al-ba'its al-hatsits, hal. 136, daarul kutub ilmiyyah, beirut, tahun 2004)

Ibnu Katsir, al-Ba'its al-hatsits, (Beirut, Daarul Kutub Ilmiyyah, 1425). Hal.136

(sebagaimana kami sebutkan di atas)
"Berdasarkan kesepakatan ulama, jika seorang perawi tidak mengetahui (mumpuni) dalam masalah pelafazhan sebuah hadits, mengenai apa yang dimaksud dan ditunjukkan oleh (lafazh) tersebut, tidak teliti terhadap apa yang datang dari maknanya tersebut, dan tidak cekatan dalam menentukan kadar sebuah hadits (jika dibandingkan antara lafazh dan maknanya), maka tidak boleh meriwayatkan apa yang dia dengar (hanya) dengan maknanya saja, akan tetapi wajib baginya (perawi) untuk menceritakan/mendiktekan lafadz yang dia dengar (dari sebuah hadits) tanpa harus mengubahnya, ini adalah apa yang dinukil oleh Ibnu Sholah dan Nawawi dan selain mereka berdua, yang mana mereka sepakat dengan "kaidah" di atas". (Ibnu katsir, Al-ba'its al-hatsits, hal. 136, daarul kutub ilmiyyah, beirut, tahun 2004)

Kemudian mereka pun berbeda pendapat tentang boleh nya periwayatan dengan makna jika hal itu dilakukan oleh seorang yang 'alim dan mengerti di bidangnya, dan banyak juga yang melarangnya dari banyak kalangan ulama Hadits fiqih dan ushul. Diantara mereka ada yang hanya membatasi pelarangannya hanya kepada hadits yang marfu' (yang sampai kepada nabi) saja, dan membolehkan selainnya. Ini adalah pernyataan imam Malik ( (Ibnu katsir, Al-ba'its al-hatsits, hal. 136, daarul kutub ilmiyyah, beirut, tahun 2004))

Dan sebagian meraka (para ulama) ada yang berpendapat bahwa 'pengubahan kalimat' itu hanya boleh diganti dengan sinonimnya saja.

Sebagian meraka (ulama) ada yang berpendapat bahwa hal itu (periwayatan dengan makna) boleh dilakukan jika seorang prawi lupa terhadap lafadznya dan hanya ingat maknanya saja, karena wajib bagi dia (perawi) untuk menyampaikan hadits tersebut (tablig).

Dan disamping itu, ada juga yang berpendapat bahwa dibolehkan melkukan hal tersebut (riwayah bil ma'na) jika seorang perawi telah hafal lafadznya, yang dengannya (hafal lafadzhnya) dia bisa mengubahnya, yanpa harus melalupakan isi hadits tersebut, ibnu katsir menambahkan "dan perkataan yang ke 3 terakhir ini yang sangat ganjil dalam pandanganku""

(Ibnu katsir, Al-ba'its al-hatsits, hal. 137, daarul kutub ilmiyyah, beirut, tahun 2004)

Sedangka Abu Bakar al-Aroby menyatakan dalam poendapatnya, bahwa hal ini (periwayatan bil ma'na) hanya boleh diakukan oleh para sahabat saja, tidak untuk elain mereka, dikatakan dalam kitab Ahkamul Qur'an jilid 1 hal. 10 :ssungguhnya perbedaan (khilaf) ini (dalam hal periwayatan dngan makna) hanya terjadi pada masa sahabat saja, akan tetapi untuk selain mereka maka tidak dibolehkan menggantikan lafazh sbuah hadits dengan makna, dan sesungguhnya jika kita melakukannya, kita bukanlah orang yang tsiqoh (terpercaya, seperti terpercayanya seorang sahabat dalam meriwayatkan sebuah hadits, yang mustahil bagi mereka untuk berdusta) dalam mengambil sebuah hadits, sesungguhnya di zaman kita ini telah banyak mengganti apa yang telah dinukil (dari para sahabat, penj), dan mengganti sebuah huruf (dari sebuah hadits) sesuai pandangan dan kemauannya saja, maka yang terjadi akan keluar sebuah hadits yang keluar dari ke'asliannya (penj), akan tetapi berbeda halnya dengan seorang sahabat, yang mana mereka mempunyai dua alasan besar (untuk dibolehkannya bagi mereka meriwayatkan hadits dengan makna), yang pertama adalah karena mereka memliki kefasihan dan balagoh yang tinggi, yang mana (keduanya) itu adalah mempunyai sisi penting dalam kualitas sebuah bahasa Arab (penj), dan bahasa mereka pun masih selamat (masih murni sebgaimana murninya bahasa Rasul), alasa kedua adalah karena mereka semua para sahabat menyaksikan langsung perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad saw. , mereka menyaksikan kemudian menyimpulkannya dengan makna, dan itu pun mencakup keseluruhan dari apa yang dimaksud oleh Rasulullah. Apakah kalian tidak menyaksikan (mendapati) dalam banyak hadits mereka berkata (para shabat): "Rasulullah saw.  menyuruh untuk begini..." bahwasanya Rasulullah saw. Melarang untuk melakukan ini...." dan mereka para sahabat tidak meyebutkan lafazhnya? Dan sesungguhnya itu adalah khobar yang shahih, dan oenukilan yang lazim, dan tidak seyogyanya jika masih ada yang meragukannya dan membutuhkan penjalasannya terhadapnya" (Ibnu katsir, Al-ba'its al-hatsits, hal. 137, daarul kutub ilmiyyah, beirut, tahun 2004)

Komentar

Google + Follower's