@132 Ketentuan Halal Haram Syubhat (Makalah Kuliah)



BAB I
PENDAHULUAN

Sebagaimana kita ketahui, islam merupakan agama yang paling sempurna di antara agama-agama yang lain. Allah telah menganugerahkan kepada umat manusia yang terakhir ini sebuah agama yang begitu lengkap dengan ajaran-ajaran dan pelajaran yang mulianya. Diantara berbagai nikmat yang Allah berikan kepada umat ini adalah sebuah penjelasan kepada manusia tentang yang mana yang baik dan yang mana yang buruk untuk dilakukan, dari sini muncul sebuah ungkapan yang begitu familiar di telinga umat muslim sekalian istilah Halal, Haram dan Syubhat.

Berangkat dari sana, selanjutnya pemakalah akan memaparkan secara detail makna ketiga istilah di atas, sambil diperkuat dengan hadits serta komentar beberapa tokoh islam mengenai hal ini. Selamat mendengarkan dan merenungi...




 BAB II
PEMBAHASAN

A.   Halal

Halal (Etimologis) : berasal dari kata حل-يحل-حلا yang berarti membebaskan, melepaskan, memecahkan, membubarkan dan membolehkan.[1]

Halal (Terminologis) : segala sesuatu yang boleh dikerjakan menurut syara’.[2]
Halal menurut Prof. Dr. Wahbah Zuhaili, adalah “sesuatu yang syara’ memberikan kebebasan kepada seorang mukallaf untuk melakukannya atau meninggalkannya. Contohnya adalah makan dan minum”[3]

Kemudian beliau menambahkan bahwa hukum dari segala sesuatu adalah mubah selama tidak ada larangan atau pengharaman mengenai hukum tersebut. Hukumnya adalah tidak ada pahala maupun dosa jika mengerjakannya, ataupun meninggalkannya. Kecuali dalam kasus tertentu misalnya makan dan minum, jika meninggalkan perkara tersebut malah akan membinasakan kita, maka hukum mengerjakannya juga wajib, dan meninggalkannya juga haram demi menjaga nyawa.
Ibnu Munir berkata dalam Manaqib Syaikh Al-Qabari, bahwa “mubah adalah pembatas antara hamba dengan yang makruh”[4]

Menurut Yusuf al-Qardhawi, seorang pemikir islam dan ahli fikih asal Mesir, yang berhak atau berwenang mengahalakan sesuatu adalah Allah Swt. Hal ini sesuai dengan beberapa dalil yang ada dalam al-Qur’an maupun al-hadits, lihat At-Taubah : 31, Yunus : 59 dsb, ataupun dalam hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, yang menyebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw. Ditanya tentang hukum samin, keju dan keledai hutan. Rasulullah saw bersabda “yang disebut halal itu ialah yang dihalalkan oleh Allah swt” hadits serupa diriwayatkan oleh al-Hakim dan al-Bazzar.

Segala sesuatu yang dihalalkan oleh Allah swt. merupakan hal yang memiliki makna tersendiri bagi hamba-Nya, baik bagi fisik maupun mental. Menurut Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah, ulama fikih mazhab Hanbali, Allah swt tidak semata-mata mengharamkan sesuatu kecuali di balik itu Allah swt menghalalkan yang lainnya sebagai solusi akibat larangan itu, dan sebaliknya. Misalnya, Allah swt menganjurkan berdo’a istikhoroh sebagai ganti diharamkan-Nya mengundi nasib dengan azlam (mengundi nasib dengn anak panah). Allah swt menghalalkan perkawinan untuk memenuhi kebutuhan biologis laki-laki dan perempuan sebagai ganti dari haramnya berbuat zina. Begitu juga Allah swt menghalalkan berbagai makanan yang baik (thayyibat) sebagai ganti dari haramnya makanan yang diharamkan.[5]

Kombinasi antara yang halal dan haram dalam syariat islam menunjukkan bahwa dalam islam akan selalu ditemukan berbagai solusi dari segala kesempitan atau kesulitan yang dihadapi umatnya. Islam sungguh bukan hanya menjadi sebuah tuntunan moral saja, akan tetapi melebihi itu semua, ia telah menjadi buku pegangan peradaban yang mulia, yang akan membawa seluruh umat yang berpegang teguh dengannya menjadi pribadi yang berakhlaqul karimah dan bisa mencapai Izzul Islam Wal Musliin (kejayaan islam dan muslimin)

Prof. Dr. H. Alaiddin Koto, MA. membagi mubah atau halal menjadi tiga bagian:
1)      Perbuatan yang ditetapkan secara tegas kebolehannya oleh syara’, dan manusia diberik kebebasan untuk melakukan atau tidak melakukannya. Misalnya, meminang wanita dengan sindiran-sindiran yang baik (QS. Al-Baqoroh {2} : 225)

2)      Perbuatan yang tidak ada dalil syara’ menyatakan kebolehan memilih, tetapi ada perintah untuk melakukannya. hanya saja, perintah itu hanya berdasarkan qarinah-menunjukkan mubah atau kebolehan saja, bukan untk wajib. Misalnya, perintah berburu ketika telah selesai melaksanakan ibadah haji. (QS. Al-Ma’idah [5]:2)

3)      Perbuatan yang tidak ada keterangannya sama sekali dari syar’i tentang kebolehan atau ketidakbolehannya. Hal ini dikembalikan kepada hukum baraat al-ashliyyah (bebas menurut asalnya). Oleh sebab itu, segala perbuatan dalam bidang muamalat menurut asalnya adalah dibolehkan selama tidak ada dalil yang melarangnya. Untuk itu, ulama ushul fiqih membuat kaidah “menurut asalnya segala sesuatu itu adalah mubah”.[6]


B.   Haram

Haram : dari kata الحرام artinya sesuatu yang dilarang mengerjakannya.[7]
Haram juga bisa berarti “sesuatu yang dituntut oleh syara’ untuk ditinggalkan dengan tuntutan yang jelas dan pasti, menurut mazhab Hanafi, haram ialah sesuatu yang perintah meninggalkannya ditetatpkan berdasarkan dalil qoth’i yang tidak ada kesamaran. Contoh nya adalah pengharaman zina dan pengharaman mencuri. Hukumnya ialah perkara-perakara itu wajib dijauhi dan pelakuknya dihkum.[8]

Dari segi batasan dan esensinya, Imam al-Ghazali merumuskan haram dengan “sesuatu yang dituntut Syari’ (Allah swt dan Rasulullah saw) untuk ditinggalkan melalui tuntutan secara pasti dan mengikat”. Dari segi bentuk dan sifatnya, Imam al-Baidhawi merumuskan haram dengan “suatu perbuatan yang pelakunya dicela”.[9]

Haram menurut esensinya (zat)  dibagi menjadi dua bagian,

Haram Li Zatihi : yaitu suatu keharaman langsung dan sejak semula ditentukan Syari’ bahwa hal itu haram. Misalnya memakan bangkai, babi, berjudi, berzina dan lain sebagainya. Keharaman dalam contoh-contoh ini adalah terdapat pada zat (esensi) pekerjaan itu sendiri.

Haram Li Ghairihi : yaitu sesuatu yang pada mulanya disyariatkan, tetapi dibarengioleh  sesuatu yang bersifat mudarat bagi manusia, maka keharamannya adalah disebabkan adanya mudarat tersebut. Contohnya adalah melaksanakan shalat dengan menggunakan pakaian hasil curian.[10]

Shalat pada hakikatnya merupakan perbuatan yang disyariatkan oleh Allah swt. namun dikarenakan ia membarenginya dengan hal yang bersifat mudarat bagi dirinya, yaitu mencuri, maka hukumnya Haram Lighoirihi.

Para ulama berselisih pendapat mengenai hakikat sebuah hukum tersebut (haram li ghoirihi) apakah ibadah tersebut batal atau hanya sekedar fasid (rusak) ? 

Ulama Mazhab Hanafi berpendapat dalam persoalan muamalah, karena keharamannya bukan pada zatnya, tetapi disebabkan faktor luar, maka hukumnya fasid (rusak), bukan batal. Oleh sebab itu, akad tersebut boleh dilakukan, tetapi tidak sah. Agar akad tersebut menjadi sah, maka faktor-fator luar yang menyebabkan keharaman itu harus disingkirkan. Akan tetapi, jika haram li ghairih  itu berkaitan dengan masalah ibadah, maka hukumnya adalah batal.

Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak ada bedanya antara haram li zatihi maupun li ghairihi  dari segi akibatnya, yaitu sama-sama haram. [11]

C.   Syubhat

Syubhat merupakan sebuah kesamaran yang terjadi pada hukum islam, menurut Ensiklopedi Hukum Islam dituturkan bahwasanya syubhat adalah “sesuatu yang ketentuan hukumnya tidak diketahui secara pasti, apakah di halalkan atau diharamkan. Dalam pengertian lebih luas, syubhat ialah sesuatunyang tidak jelas apakah benar atau tidak, atau masih kemungkinan benar atau salah.[12]

Sedangkan Imam al-Ghazali berkata bahwa yang dimaksud dengan syubhat adalah “sesuatu yang masalahnya tidak jelas, karena di dalamnya terdapat dua macam keyakinan yang berlawanan yang timbul dari dua faktor yang menyebabkan adanya dua keyakinan tersebut”.

Dalam pelaskanaan hukum pidana Islam, hal-hal yang bersifat syubhat tidak dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam penetapan hukum, hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah yang diriwayatkan Ibnu Majah, “Hindari suatu hukuman dengan dasar syubhat”

Kemudian dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh ’Aisyah binti Abu Bakar berkata, “Hindarkan hukuman had dari kaum muslimin selama masih mungkin. Jika ada dasar untuk terlepasnya seseorang dari hukuman, maka bebaskanlah ia. Seorang hakim lebih baik keliru dalam memberi ampunan daripada keliru dalam menetapkan hukuman.” (HR. Tirmidzi)

Yang dimaksud dengan pidana hudud adalah pidana yang diancam dengan hukuman had, yaitu hukuman yang telah ditentukan macam, bentuk dan jumlahnya oleh Allah SWT.
Imam Asy-Syafi’i membagi macam-macam syubhat menjadi tiga bagian :

1)      Syubhat pada objek suatu perbuatan, misalnya adalah kasus seorang ayah yang mencuri harta anaknya. Secara syara’ mencuri merupakan perbuatan yang dilarang, dan pelakunya harus dikenai hukuman potong tangan berdasarkan dalil al-Qur’an surat al-Ma’idah ayat 38, yang berbunyi “laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan.” Namun di sisi lain, ada sebuah hadits Nabi yang berbunyi, “ engkau dan harta-mu menjadi milik ayahmu” (HR. Ibnu Majah). Dengan demikian, ayah tidak dapat dituduh sebagai pencuri sehingga hukuman yang dikehendaki ayat di atas tidak dapat diterapkan.

2)      Syubhat pada subjek (pelaku), yaitu syubhat yang bersumber pada dugaan pelaku, yakni ia dengan iktikad baik melakukan perbuatan yang dilarang karena mengira perbuatan itu tidak dilarang. Contohnya adalah seorang suami menyetubuhi orang lain yang dikira istrinya, padahal wanita tersebut bukan istrinya (misalnya, istri mempunyai saudara kembar yang tidak dikenal suami). Dalam hal ini yang menjadi dasar syubhat itu adalah keyakinan, yaitu seorang suami yakin bahwa yang ia setubuhi adalah sitri sahnya. Menurut mazhab Syafi’i, suami dalam hal ini dapat terhindar dari hukuman hudud atas dasar syubhat.

3)      Syubhat pada hukum (yuridis), yakni syubhat yang timbul dari perbedaan pendapat ahli hukum tentang hukuman suatu perbuatan. Akibat banyak pendapat yang berbeda, seorang menjadi bingung untuk memilih salah satu pendapat.yang akan dijadikan pedoman. Misalnya, Imam Abu Hanifah memboehkan nikah tanpa wali dan imam, Imam Malik membolehkan nikah tanpa saksi dengan syarat harus siadakan walimatul ‘Ursy. Dengan demikian, para undangan yang hadir dalam acara Walimatul’Ursy itu menjadi saksi. Karena itu, percampuran antara laki-laki dan perempuan tidak dihukumi dengan zina yang dijatuhi hukuman had.[13]

Kemudian, mengenai perkara syubhat yang terjadi di luar pidana, yakini misalnya yang terjadi pada keseharian kita, maka itu kembali merujuk kepada hadits Nabi yang menganjurkan kita agar menjauhinya, karena dikhawatirkan kita akan terjerumus kepada hal yang haram.

D.   Hadits Ahkam

Sebuah hadits yang menyangkut tema pembahasan:

"Nu'man Bin Basyir bererita bahwa dia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "perkara yang halal telah jelas dan yang haram telah jelas pula. Antara keduanya ada beberapa perkara yang diragukan yang tidak diketahui hukumnya oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menjauhi perkara-perkara yang diragukan itu berarti dia memelihara agama dan kesopanannya. Barangsiapa mengerjakan perkara yang diragukan, sama saja dengan pengembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang, dikhawatirkan dia terjatuh ke dalamnya. Ketahuilah semua raja mempunyai larangan da ketahuilah pula larangan Allah adalah segala yang diharamkan-Nya. Ketahuilah dalam tubuh ada segumpal daging. Apabila daging itu baik maka baik pula tubuh itu semuanya. Apabila daging itu rusak, maka binasalah tubuh itu seluruhnya. Ketahuilah, daging tersebut adalah hati" (Muttafaq 'Alaihi) [14]

Yang halal telah jelas, begitupun yang haram, maka apa-apa yang berdiam di antara keduannya adalah syubhat. Al-Qur’an dan al-Hadits serta ijma’ ulama salaf telah menggariskan hukum-hukum islam secara lengkap dan terperinci, bahkan untuk menyiasati hukum fiqih umat setelah mereka, mereka sudah menggariskan sebuah disiplin ilmu yang akan terus relevan sepanjang zaman, yaitu Ushul Fiqh. Maka anjuran bagi kita adalah memperdalami lebih lanjut semua khazanah islam, terkhusus dalam masalah hukum, karena sebagaimana kita memaklumi, kehidupan tanpa dilandasi dengan hukum dan peraturan maka akan tampak semrawutan , maka sungguh merupakan sebuah keistimewaan jika kita (penganut agama islam) diberikan sebuah kitab suci sekaligus kitab UUD kehidupan yang paling sempurna plus diturunkan oleh Zat Yang Maha Sempurna, yaitu Al-Qur’an dan al-Hadits.

Namun, meski begitu, tetap saja ada beberapa hal yang meragukan yang terjadi dalam lingkup kehidupan duniawi kita, hal ini bisa saja terjadi lantaran banyaknya orang yang belajar ilmu-ilmu islam secara sedikit saja, tidak mengetahui secara keseluruhan hukum dan peraturan cara main agama ini, sehingga dengan itu, menimbulkan beberapa keraguan dan syubhat yang mengendap dalam tatanan hukum islam. Atau bisa saja hal itu trjadi lantaran ilmu yang belum sampai kepada kita mengenai status hukum tersebut, walau kita sudah belajar sedemikian rupa. Namun sungguh bijak perkataan Rasulullah di atas, beliau telah menetapkan dengan kejeniusannya, bahwa jika kita menjauhi keraguan itu, maka seakan-akan kita telah memiliki andil dalam memelihara agama kita sendiri, menurut pemakalah, hal yang demikian memang lebih baik untuk dilakukan, karena sesuatu yang abu-abu itu cenderung membawa kita kepada sesuatu yang sejalan dengan nafsu buruk kita. 

Wallahu A’lam.

Dalam kitab Fathul Bari, Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani berkata bahwa yang dimaksud dengan الحلال بين والحرام بين yaitu ”dalam dzat dan sifatnya sesuai dalil yang zhahir” [15], kemudian pada penggalan kalimat berikutnya, و بينهما مشبهات beliau mengartikan sebagai “hal-hal yang tersamarkan yang tidak diketahui hukumnya secara pasti”, dan pada kalimat لا يعلمها كثير من االناس yang dimaksud adalah tidak mengetahui hukumnya, فمن االتقي المشبهات artinya berhati-hati dengan perkara yang syubhat, استبرء maksudnya adalah, agamanya selamat dari kekurangan dan perilakunya selamat dari celaan, karena orang yang tidak menghindari hal-hal syubhat, maka dia tidak akan selamat dari perkataan orang yang mencelanya (لومة لائم) [16].

Sedangkan mengenai makna dari kalimat ومن وقع في الشبهات , yang dimaksud dengan kata syubhat itu sendiri adalah, hal yang makruh, karena kata tersebut mengandung unsur “melakukan” dan “meninggalkan”[17]

Dari sedikit penjelasan di atas, setidaknya kita telah mengetahui bahwa jika kita gemar melakukan hal yang syubhat, maka seakan-akan kita telah mendekati keharaman. Hal ini sejalan dengan bunyi hadits “Barangsiapa mengerjakan perkara yang diragukan, sama saja dengan pengembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang, dikhawatirkan dia terjatuh ke dalamnya. Ketahuilah semua raja mempunyai larangan da ketahuilah pula larangan Allah adalah segala yang diharamkan-Nya”, dalam artian, jika kita melakukan hal yang syubhat kita bagaikan seorang pengembala yang menggembalakan ternaknya di ujung jurang, dikhawatirkan akan jatuh dan terjerumus ke dalam jurang tersebut jika kita tak menghindarinya, dan ketahulah bahwa seluruh yang halal dan haram itu datangnya dari Allah Subhanau Wa Ta’ala.

Hadits ini menjelaskan, bahwa orang yang tidak menjauhkan diri dari syubhat dalam pencaharian dan kehidupannya, maka dia telah menyerahkan diirnya untuk dicemooh dan dicela.[18]

Kemudian Al-Hafidz berkata, “orang yang takut akan hukuman dan mengharapkan ridho sang raja, maka dia akan menjauhi tempat tersebut karena khawatir ternaknya akan masuk ke dalam daerah tersebut. Oleh sebab itu, betapapu ketatnya pengawasan seseorang terhadap binatang gembalaanya, menjauh dari tempat itu adalah lebih selamat baginya. Sedangkan orang yang tidak takut, akan menggembalakan ternaknya di dekat tempat tersebut tanpa ada jaminan bahwa tak ada satupun ternaknya yang memisahkan diri dan masuk ke dalam daerah tersebut.[19]

Wallahu Muwafiq Ila Aqwami Thoriq...

 
BAB III 
Kesimpulan dan Penutup

Dari uraian makalah di atas, dapatlah kita mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut, yaitu bahwasanya sesuatu yang halal dan haram itu sudah jelas statusnya, hal ini bisa dilihat dari beberapa sumber hukum islam yang mengatakan bahwa itu halal dan haram, namun di antara keseluruhan hukum, akan ada beberapa hukum yang tak jelas status hukumnya, ia terlihat samar dan abu-abu, maka tindakan kita atas ke-syubhatan ini adalah menghindarinya sebagaimana yang dikatakan hadits rasulullah saw. di atas.
Akhirnya, hanya kepada Allah-lah kita mengadukan segala masalah, jika ada kesalahan dan kekurangan dari tulisan ini, pemakalah sadar bahwa ini adalah kesalahan pemakalah sendiri, namun jika ada kebaikan dan kelebihan yang terkandung di dalamnya, semata-mata itu datangnya dari Zat Yang Maha Sempurna yaitu Allah Azza Wa Jalla .
 
BAB IV
 Daftar Pustaka

Zuhaili, Wahbah, 2011. Fiqih Islam Wa Adillatuhu  jil 1, Daarul Fikir (Gema Insani), Jakarta

Koto, Alaiddin, 2004. Ilmu fiqih dan ushul fiqih (sebuah pengantar), PT. Rajagrafindo Persada

Dahlan, Abdul Aziz (editor), 2001. Ensiklpedi Hukum Islam  jil. V, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta

Dahlan, Abdul Aziz (editor), 2001. Ensiklpedi Hukum Islam  jil. II, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta

 Hajar, Ibnu, 2002. Fathul Bari (penjelasan kitab shahih Bukhari), jil. 1, Pustaka Azzam, Jakarta

Al-Lu’lu’ Wal Marjan


[1] Ensiklopedia Hukum islam, II, hal. 505
[2] Ibid, hal.506
[3] Wahbah Zuhaili, Fiqih Islam wa adillatuhu, hal. 60
[4] Ibnu Hajar, Fathul Bari,pustaka azzam (ind)  hal. 233
[5] Ensiklopedia Hukum islam, hal. 507
[6] Alaiddin, ilmu fiqih dan ushul fiqih (sebuah pengantar), hal. 48
[7] Ensiklopedia Hukum Islam, V, hal. 523
[8] Wahbah zuhaili, fiqhu islam wa adillatuhu, hal. 59
[9] Ensiklopedia Hukum Islam, jil 1, hal. 523
[10] Ibid, hal. 524
[11] Ibid, hal. 525
[12] Ensiklopedia Hukum Islam, jil V, hal. 1715
[13] Ensiklopedia Hukum Islam, V, hal. 1716
[14] AL-Lu'lu' Wal Marjan, II, hal 153, hadits no. 1028

[15] Ibnu Hajar, Fathul Baari, pustaka azzam (ind), I, hal. 232
[16] Ibid, 233
[17] Ibid, 234
[18] Ibnu Hajar, Fathul Baari, pustaka azzam (ind), I, hal. 233
[19]  Ibnu Hajar, Fathul Baari, pustaka azzam (ind), I, hal. 235





السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Google + Follower's