@140 Agama Itu Mudah

Assalaamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Agama merupakan sebuah penolong umat manusia, ia menjadi penyelamat dari Murka Tuhan, namun di samping itu semua ia berperan sebagai undang-undang peraturan kehidupan yang cukup sempurna. Agama yang diturunkan oleh Allah yang paling terakhir ini, yaitu Islam, membuat siapapun yang meneliti kulitas dan kuantitas ajarannya maka akan berdecak kagum melihat kesempurnaan dan kerapian Islam dalam menetapkan aturan dan perundang-undangan umatnya.

Semua memang sudah diatur oleh Yang Di Atas (Allah SWT), ia mencanangkan beberapa amandemen dan keputusan yang mudah untuk dilaksanakan tanpa memberatkan beban, begitupun juga utusan-Nya, yaitu Rasulullah saw. begitu amat mementingkan masalah Rukhsah yang ada pada Islam, sampai jika ada seseorang yang tidak mengindahkan Rukhsoh agama ini, ia dianggap telah melanggar kebaikan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya secara Cuma-Cuma.

Diriwayatkan dari Imam Bukhori pada hadits ke 39,

“Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “sesungguhnya agama itu ringan, maka orang yang menyusahkan dirinya dalam agama ia tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna. Oleh karena itu kerjakan sebagaimana mestinya atau mendekati semestinya, dan bergembiralah (mohon pertolongan Allah) pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.” (HR. Bukhori)

Dari uraian hadits di atas, sudahlah jelas dimata kita bahwa beragama itu mudah dan tidak terlalu memberatkan, tapi ingat jangan digampang-gampang kan seenak jidatnya! Dalam islam ada rukhsah yaitu sebuah keringanan dalam menjalankan perkara agama, namun ada juga batasan-batasan yang harus dihindari tanpa ada toleransi untuk dipermudah lagi.

Ibnu Hajar al-Asqolani berkata dalam Fathul baari mengenai maksud bahwa “agama itu mudah”, “maksudnya, agama Islam adalah agama yang memiliki kemudahan, atau disebut dengan agama yang mudah karena berbeda dengan agama-agama lainnya, dimana Allah telah menghilangkan kesulitan-kesulitan seperti yang dibebankan kepada umat-umat terdhulu. Sebagai contoh, cara taubat umat terdahulu adalah dengan jalan bunuh diri, sedangkan taubat umat ini hanya meninggalkan perbuatan tersebut dan menyesalinya serta bertekad untuk tidak mengulangi lagi.”[1]

Adapun contoh umat yang melakukan taubat dengan jalan bunuh diri adalah umat Nabi Musa as., Allah memuliakan kita dengan cara mmepermudah jalan taubat ini menjadi hal yang tidak seberat umat terdahulu, dan masih banyak lagi hal semisal dalam masalah keringanan beragama ini.

Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa “agama yang paling disukai oleh Allah adalah agama yang lurus dan mudah.” (HR. Bukhori)

Al-Hafidz menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “agama yang paling disukai” adalah karakter agamanya, karena seluruh karakter agama-pada dasarnya disukai-, akan tetapi yang paling disukai Allah adalah yang paling mudah[2], dan itulah agama kita Islam, bukan Katolik yang mempunyai paham Trinitas maupun Yahudi sang penyembah Patung Sapi.[3]

Kemudian, -maka orang yang menyusahkan dirinya dalam agama, ia tidak melaksanakannya dengan sempurna, maksudnya adalah bahwa jika seseorang hanya sibuk ingin mengambil semua perkara agama, tenggelam dan tak mau mengambil keringanannya maka ia tidak akan smepurna dalam bermamal. Ibnu Mundzir berkata “dalam hadits ini terdapat ilmu para nabi. Kita dan para pendahulu telah melihat, bahwa setiap orang yang bersikap konservatif dalam agama, maka ia tidak akan dapat melaksanakan ajaran agamanya secara sempurna. Pernyataan ini tidak dimaksudkan untuk menghalangi seseorang dalam menyempurnakan ibadahnya, karena hal ini termasuk perbuatan terpuji. Akan tetapi dimaksudkan untuk mencegah sikap mengasingkan diri yang dapat menyebabkan rasa bosan atau berlebihan dalam melaksanakan ibadah sunnah, sehingga ibadah yang wajid ditinggalkan.[4]

Sebagai contoh, jika ada yang tidak tidur semalaman untuk mengerjakan shalat sunnah, kemudian ia merasa ngantuk pada akhir malam, kemudian tertidur dan dengan begitunya ia tidak melaksanakan shalat subuh yang mana itu merupakan hal yang lebih utama daripada sekdar shalat sunnah.
Jadi, janganlah kita mengamalkan sebuah perbuatan yang mana ia malah akan melalaikan yang wajib, bersikaplah adil dalam mengambil agama.

Hal ganjil yang pernah saya temukan dalam sbeuah buku adalah,  bahwasanya di antara kaum sufi terdahulu, ada yang sampai mengebiri kelaminnya lantaran ia takut akan melanggar aturan Allah yang berkenaan dengan syahwat lain jenis, maka menurut saya ia telah berlaku berlebihan dalam beragama, lalu buat apa Allah menghalalkan pernikahan bagi umat manusia? Wallahu A’lam.

Maka dari itu, kerjakanlah dengan baik dan benar (tidak berlebihan dan tidak menguranginya)[5], atau jika kamu tidak dapat mengerjakannya dengan sempurna, maka kerjakanlah yang mendekati dengan kesempurnaan.[6]

Maka bergembiralah atas balasan apa yang kalian perbuat, yaitu amal yang dilakukan secara terus menerus walapun sedikit, karena ketidakmampuan seseorang dalam menyempurnakan ibadahnya bukan karena unsur kesengajaan maka tak akan mengurangi pahalanya.
Kemudian minta tolong lah kepada Allah SWT pada pagi, siang dan malam hari, karena sesungguhnya hanya Dia lah yang pantas untuk dimintai pertolongan.

Wallahu A’lam Bis-Showab,

Perpustakaan PTIQ, Kamis 20 Maret 2014



[1] Asqolani, Fathul Bari, Pustaka Azzam:2002, hal. 168
[2] ibid
[3] Istilah ini dibuat sendiri oleh penulis
[4] Ibid, hal. 169
[5] Ibid.
[6] ibid

 Wassalaamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Komentar

Google + Follower's