@143 Studi Krirtk Hadits

Assalaamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Studi kritik hadits yang dalam bahasa Arab bisa disebut Naqd al-Hadits, merupakan salah satu cabang ulumul hadits yang sangat penting dlam khazanah ilmu hadits. Ilmu ini mencakup dua bidang yang amat penting, yaitu kririk sanad dan matan. Kritik matan itu sendiri itu sudah muncul pada masa-masa klasik awal generasi sahabat yaitu apa yang terjadi pada khalifah Umar bin Khattab ketika mendapat kabar dari sahabat lainnya tentang berita bahwa Nabi telah menalak salah satu istrinya, karena penasaran maka Umar pun langsung mengecek duduk perkara tersebut kepada nabi langsung, namun jawaban nabi bahwa beliau tidak menalaknya melainkan hanya bersumpah untuk tidak melakukan hubungan saja selama sebulan, maka inilah yang dilakukan kritik matan , kejadian ini belum menuntut untuk dikritik siapa pembawa berita tersebut, karena mayoritas dan sesuai dengan kesepakatan para ulama hadits tentang ‘adalatus-shahabah (adilnya para sahabat).

Namun seiring dengan bergantinya waktu dan umat islam mulai meluas, terutama setelah terjadinya kasus fitnah terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan,  yang kemudian setiap kelompok mencari legitimasi untuk kelompok masing-masing, mencari dalil atau nash hadits yang mendukung kelompoknya, maka sebuah keculasan yang amat dungu mulai merambat dalam tubuh umat islam pada masa itu, aura politik dan sindikat firqoh mulai merasuk ke dalam sebagian tubuh umat islam. Mereka yang tidak mendapati sebuah dalil (baca:hadits) untuk memperkuat kelompoknya, maka akan membuat hadits-hadits palsu yang bisa memperkuat status kelompoknya, sebagai contoh adalah kelompok yang sangat fanatik dengan Sayyidina Ali yang mengatakan bahwa sejatinya yang berhak menggantikan Muhammad saw, adalah ahlul bait yang dalam hal ini adalah Sayyidina Ali, selaku menantu Nabi, bukan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, ataupun Utsman bin Affan. Nah untuk melakukan legitimasi terhadap kelompoknya ini salah satu hadits diantara beribu hadits palsu yang mereka buat adalah hadits yang mengatakan bahwa “Ali adalah sebaik-baiknya manusia, barangsiapa yang mengingkarinya maka dia telah kafir”.

Maka mulai saat itu dibutlah naqd as-sanad , yaitu sebuah studi kritik sanad (transmisi hadits, silsilah keguruan) karena saat itu, ketika Nabi selaku sumber hukum tidak ada, mempercayai matan begitu saja tanpa ada penyelidikan yang pasti (terutama mengenai ihwal pembawa kabar) maka merupkan tindakan yang bodoh dan bisa saja menyesatkan, maka dari itu diberlakukanlah kritik sanad (transmitter), ketika sang periwayat (rawi) itu jika dinyatakan seorang ahlussunnah maka haditsnya bisa diterima, namun jika hadits itu dibawa oleh seorang yang sudah keluar dari manhaj ahlussunnah wal jama’ah semisal syi’ah, khawarij dan lain-lain, maka hadits itu termasuk hadits yang bermasalah, karena dikhawatirkan hadits itu hanya diusung motif politik atu kefanatikan semata, bukan dari kebenaran yang lansung dari Nabi saw.
Begitulah sejarah munculnya studi kritik hadits, atau dalam istilah arabnya biasa dikenal dengan istilah naqd al-hadits.

Naqd al-hadits ini menurut kaum orientalis barat merupakan hal yang akan menjatuhkan islam, anggapan mereka mungkin berpendapat bahwa sesuatu yang dikritik itu cederung akan memperlihatkan celanya, maka dari itu menurut mereka adanya naqd al-hadits  itu merupakan sebuah asumsi bahwa umat islam tidak lagi mempercayai kredibilitas hadits sebagai sumber syariat islam kedua setelah Al-Qur’an. Maka bisa dipastikan jika mereka sudah meninggalkan hadits, runtuhlah pilar terbesar islam yaitu hadits Nabi Saw.
Sebagai jawaban, umat islam melakukan semua itu tidak lain lantaran cintanya mereka kepada agama ini, karena sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an yang berbunyi, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti” (Hujurat : 6 ), maka sebuah berita yang datang kepada kita haruslah diteliti dan diperiksa terlebih dahulu, dicek tentang akhlak dan sifat pembawa berita itu, apakah ia seorang yang jujur dan memiliki akhlak mulia atau ia adalah sekedar seorang yang jahat dan sering berdusta? Dan banyak lagi anggapan lain yang akhirnya para ulama hadits bersepakat untuk membuat kriteria-kriteria yang amat ketat dalam masalah ini, sehingga jika semua kriteria-kriteria ini terpenyuhi maka hadits atau khabar tersebu bisa dijamin otensitasnya (keshahihannya), begitupun sebaliknya, jika sang perawi (transmitter) tidak berhasil masuk ke dalam babak kualifikasi “aturan” kritik sanad ini maka hadits yang dia bawa bisa tertolak.

Itulah kehebatan islam, yang mana dalam agama ini adalah sebuah istilah yang amat penting dan tidak dimiliki oleh kaum agama lain, yaitu SANAD. Bahkan banyak ulama yang mengatkan bahwa sanad adalah sebagian dari islam, sampai-sampai seorang ulama besar Abdullah bin Al-Mubarok berkata, “sistem sanad ini merupakan bagian dari agama islam, tanpa adanya sistem sanad, setiap orang dapat mengatakan apa yang dikehendakinya”. (Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, Daarul Fikr, 1/9)


(An-Naml, 06-04-2014 jam 10:27 PM)

 Wassalaamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Komentar

Google + Follower's