@156 Shalat Jama'ah Yuk ...

Assalaamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Islam adalah agama yang mementingkan masalah sosial, ia tidak bersifat individual saja, akan tetapi ia meluas dan menjangkau segala lapisan masyarakat. Islam bukanlah seperti sebuah sistem yang membatasi lapisan masyarakat dengan kasta-kasta yang menjadi dinding penghalang harmonisnya suatu kewarganegaraan. Islam merupakan sebuah solusi yang mampu mengatasi masalah tanpa membuat masalah baru.

Diantara cara islam menyikapi fenomena seperti ini adalah dengan disyariatkannya shalat berjama'ah di masjid ataupun musholla di suatu daerah.

Rasulullah saw bersabda dalam haditsnya,

Dari Ibnu Umar r.a. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, " Shalat jama'ah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat." ( HR. Bukhari Muslim )

Maka dari itu, sangatlah disayangkan jika kita umat muslim diberi kemuliaan seperti demikian namun kita menyia-nyiakannya dengan mengabaikan shalat jama'ah. Kita diberi kemuliaan dengan ibadah yang satu ini, maka bagiamana bisa kita tak mengindahkan rahmat dan nikmat yang besar ini?

Sedangkan mengenai masalah hukum pelaksanaan shalat jama'ah itu terdapat berbagai macam pendapat, hal itu dikarenakan beragamnya dalil entah dari Al-Qur'an ataupun Hadits yang berkisar pada masalah demikian, ada yang mengatakan Fardhu Ain, Fardhu Kifayah Sunnah Muakkadah, dsb.  namun pada akhirnya Jumhur Ulama mengatakan bahwa yang benar dari hukum tersebut adalah Sunnah Mu'akkadah, hal ini tentunya setelah meewati berbagai proses panjang dan penyesuaian antara kaidah dan dalil-dalil yang ada. ( Lihat Nailul Authar, Bab Shalat Jama'ah )

Sedangkan bagi para muslimat, maka hendaknya ia melakukan shalat di rumah saja. Hal ini dikarenakan takut akan timbul fitnah jika ia keluar dari rumah. Rasulullah sendiri tidak melarang para muslimat untuk melakukan shalat berjama'ah di masjid, asalkan keluarnya mereka itu tentunya aman dari fitnah dan hal-hal mudharat yang lain. Namun kata Rasulullah saw. selanjutnya, ( walaupun sebenarnya) ruamah-rumah mereka lebih baik bagi mereka. ( HR. Ahmad dan Abu Daud )

Untuk selengkapknya tentang pembahasan ini, anda bisa merujuk kepada buku Sekitar Masalah Shalat Jama'ah karya KH. Muhammad Idris Jauhari dan Ust. Moh. Suri Sudahri, S. Pd. I yang diterbitkan oleh Mutiara Press Al-Amien Prenduan.

Lebih dari itu, sebagaimana saya ungkapkan di muka, bahwasanya Shalat Jama'ah sangat ampuh jika digunakan sebagai media perekat umat. Jika saja kita bisa berkumpul dalam satu tempat sujud ( masjid) sehari lima kali, berjama'ah bersama, satu ma'mum dan satu rombongan menghadapkan wajah kepada Ilahi Ilahi, maka Insya Allah akan terjamin sebuah kerapatan dan kesatuan dalam bermasyarakat.

Rapatnya Shof dan lurusnya barisan sebuah jama'ah itu akan berpengaruh dan berlanjut makna subtansialnya kepada kesejahteraan dan kemakmuran suatu komunitas manusia, apalagi jika ditambahi dengan perkatan seorang Imam yang mengatakan " Jangan ada yang mendahului Imam ", maka Insya Allah akan tercipta sebuah komunitas yang bersemboyan kepada perkataan, " Kun Imaman Mutho'an Wa Ma'muman Muti'an " (1) , namun sebagaimana kita ketahui, bahwa untuk bisa menjadi Imam itu sendiri dibutuhkan juga syarat dan kriteria yang tidak mudah untuk dipenuhi.


Sampai disni, ada pertanyaan? Baiklah, jka tidak ada maka akan saya tutup.

 Wassalaamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...


Sumber Bacaan :

1. Buku " Sekitar Masalah Shalat Jama'ah " karya KH. Muhammad Idris Jauhari dan Ust. Suri Sudahri, S. Pd. I

Note :

1. Jadilah Imam yang Diikuti ( pemimpin yang perintahnya dipatuhi ) dan Makmum Yang Mengikuti
 ( rakyat atau yang dipimpin yang menaati apa yang diperintahkan oleh penguasa ataupun Ulil Amr' ).


Komentar

Google + Follower's