@175 SHALAT JAMA’AH

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته 
 

Entah untuk yang keberapa kali saya memposting tentang keutamaan shalat jama’ah, tapi walau saya tulis dengan seribu tulisan berbeda dan berbicara dengan satu tema yaitu shalat jama’ah, maka insya Allah tak akan pernah bosan saya membahasnya. Itulah, hebatnya shalat jama’ah, sebuah sunnah muakkadah yang ada dalam Islam yang manfaat dan buahnya amatlah nyata untuk bisa kita rasakan.

Shalat jama’ah sebagai perekat umat memang adalah semoboyan yang sangat dan pas dan akan selalu relevan untuk segala tempat dan zaman. Dengan shalat jama’ah kita bisa saling berbenah dan menginstropeksi diri. Sebagai contoh adalah apa yang terjadi barusan, di sebuah musholla di bilangan Pondok betung, Bintaro, Tangerang Selatan, tepatnya di sbeuah musholla yang bernama Al-Imron terjadi peristiwa yang mengunggulkan urgensi shalat jama’ah. Pasalnya seorang yang bershalawat ( sambil menunggu yang sedang melaksanakan shalat sunnah), itu terlalu keburu2, ketika seorang Imam yang akan memimpin mereka masih dalam posisi shalat sunnah-nya, sang muaddzin ini dengan lantangnya mengumandangkan iqamah. Maka yang terjadi kemudian adalah, begitu iqamah delesai dikumandangkan, semua jama’ah sudah membuat shaf shalat, akan tetapi di belakang sang Imam masih tengah melakukan sujud lalu kemudian salam, alhasil, makmum terpaksa menunggu sang Imam yang telah melakukan shalat sunnah agar tuntas dulu, untuk kemudian mengimami mereka. Maka dari itu, tak ayal jika ada salah seorang dari makmum, kemudian berkata dengan suara yang agak nyaring, “ kalo shalawat agak panjang “, dengan maksud menyindir kepada muaddzin yang terlalu terburu-buru dan terlalu tergesa-gesa dalam mengumandangkan iqamah.


Itulah salah satu fungsi dari shalat jama’ah, ketika kita berjama’ah, berkumpul bersama dengan tetangga dan masyarakat, kita akan bertemu dengan banyak sekali ragam manusia, ketika kita berjama’ah kita harus bisa menyesuaikan kebutuhan kita masing-masing yang sifatnya sangat individual untuk kemudian dikorbnkan demi kepentingan umum. Coba saja, kita lihat kejadian di atas, dimana sang mu’addzin yang sifatnya memang selalu terburu-buru jika mengerjakan sesuatu, bisa jadi itu baik menurutnya, namun jika dibawa kepada konteks ke-jama’ah-an maka semua sifat yang lebih mengedepankan masalah personal dan akan berdampak tidak baik buat masyarakat banyak maka harus ditinggakan jauh-jauh. Begitupun sang imam, ketika ia tahu bahwa di belakangnya ada orang tua yang lemah dan sudah rapuh, maka hal yang harus dia lakukan adalah dengn memendekkan bacaannya sehingga ia merasa mudah dan tidak lelah membawa beban dalam shalat.

Imam As-Syafi’i mengatakan dalam kitab Ar-Risalah¬ bahwasanya kita dianjurkan untuk selalu berjama’ah dalam segala hal, karena kata beliau selanjutnya, setan itu selalu menyerang dia yang selalu menyendiri dalam segala hal, ketika kita berjama’ah, kita akan mengetahui sampai mana posisi kita yang sebenarnya, seberapa besar cacat yang kita miliki yang kemudia setelah itu wajib bagi kita menginstropeksi dirinya sendiri.


Bukankah jug dikatakan dalam sebuah kata bijak bahwa : Al-Barokatu Ma’al Jama’ah / Keberkahan Selalu Ada Bersama Jama’ah.
Senin, 04 Agustus 2014, Kamar Ayahanda, Jam 22.00. Wib. Di malam yang tenang dan semua bintang berkerjap mempesona. Ya Allah, ciptaan-Mu saja ada yang indahnya sangat mempesona, apalagi Engkau yang MAHA INDAH DARI SEGALA SESUATU.




السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Komentar

Google + Follower's