Laysa Kullu Bid'ah Dholalah!

Tadi pagi, ketika kami tengah mengkaji sunan Nasa'i dan Ibnu Majah, kami tiba pada hadits yang ada di sunan Nasa'i tepatnya di hadits no. 1577, dalam kitab "'iedain" pada bab "kaifal khutbah".
Di dalam hadits tersebut, diungkapkan sebuah perkataan Nabi ketika tengah berkhutbah "man yahdihillahu fala mudilla lahu..... wa syarrul umurr muhdatsatuha..... wa kullu bid'atin dolalah, wa kullu dolalatin fin naar"
Setelah salah seorang dari kami membacanya, beliau menjelaskan :

"Perlu diketahui tidak semua yang baru (bid'ah) itu sesat, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum wahhabiyyun"
"Imam ibnu Taimiyyah yang diduga imam mereka itu membagi bid'ah sendiri menjadi dua, yaitu bid'ah syar'iyyah dan lughawiyyah (bahasa), dan yang dilakukan oleh Umar ra. Sendiri itu adalah bid'ah secara bahasa (ni'ma l bid'ah hadzihi/tentang shalat tarawih), itu beliau kemukakan dalam kitab "iqtidha' shiratal mustqiem", jadi saya katakan bahwa tidak setiap bid'ah itu sesat"

"Imam ibnu qayyim al-jauziyyah sendiri (yang juga diduga sebagai pelopor gerakan salafi) mengatakan secara tersirat dalam pembahasannya ketika mengupas hadits tentang "habbatussauda' adalah obat buat segala penyakit", beliau mengatakan bahwa ternyata tidak setiap penyakit mampu disembuhkan oleh "habbatussauda'", akan tetapi yang dikira cocok oleh pertimbangan medislah yang bisa terobati, jadi sekali lagi, dari sini kita bisa memahami bahwa pada kata "kullu" itu ada yang bersifat "kulliyah/keseluruhan" dan ada yang bsersifat "juz'iyyah/sebagian", maka dengan sendirinya tidak semua yang bid'ah itu adalah sesat."

Begitu apa yang diungkapkan oleh Ustadz Rozi ketika kami mengkaji hadits An-Nasa'i no. 1577 di atas. Dan kami terpana dengan penjelasan beliau yang gamblang itu.

Bertepatan dengan itu saya juga tengah menerka2 apa hikmah yang tersirat dari hadits tersebut. Saya mencoba menelusuri syarah dari hadits tersebut yang tengah saya pegang, disana diungkapkan dari Imam An-Nawawi bahwa beliau menukil dari salah seorang ulama salaf mengatakan bahwa bid'ah ternyata ada 5 bagian (wajib, mandub, makruh, haram, mubah) , dan saya kira mengatakan ini adalah syaikh rajab hanbali, sebagaimana dikutip pula pada buku "bukan bid'ah" karya Syaikh Ali Jum'ah (mufti Mesir).

Dan bukankah Imam Asy-Syafi'i, sang pembela sunnah juga pernah mengatakan bahwa bid'ah itu ada dua ; hasanah dan sayyi'ah/baik dan buruk? (Manaqib Asy-Syafi'i karya Imam Al-Baihaqi).
Kesimpulannya, tidak semua bid'ah itu sesat dan bisa memasukkan kita ke Neraka. Wallahu 'A'lam. Begitu kata beliau sambil menutup pengajian dan membaca do'a kaffarotul majlis. Kemudian salam.

Pesantren Darussunnah, Ciputat. Kamis, 4 September 2014.

Komentar

Google + Follower's