Rekontruksi Spirit Uzlah Di Zaman Sarat Gelisah

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته 

 
Uzlah atau mengasingkan diri merupakan sebeuah upacara wajib yang harus dilakukan oleh setiap manusia. Dalam bahasa lain ia juga bisa disebut sebagai meditasi, bertapa, dan sejenisnya yang berbau “pengasingan” batin dari khalayak ramai. Nilai inti dari kegiatan ini adalah menjauhkan diri dari riuh dan hiruk-pikuk kehidupan untuk lebih jernih menatap diri lebih dalam lagi.

Hati atau qolb itu berasal dari akar kata qollaba yuqallibu, yang bermakna membolak-balik, mudah terkena fluktuasi perasaan, dan berbagai macam gejolak yang berhimpun di satu pusat bernama Qolb atau hati. Ringkasnya, disebut hati itu jika isi yang dikandung di dalamnya mudah menggelinjang dan tak pernah diam, ia tak akan diam, selalu berbolak-balik keadaannya.

Maka, manusia selaku makhluk yang mempunyai hati, pasti akan merasakan guncangan yang hebat, setiap ada masalah yang ditemuinya, maka sontak hati mengalami turbulensi rasa, entah itu menyenangnkan atau bahkan hambar menyisakan duka. Dari yang mampu membuat sungging senyum merekah di pipi, sampai yang bisa menikam jiwa dengan tombak besi tajamnya. Itulah hidup yang sarat ke-terbolak-balik-kan

Uzlah atau meditasi merupakan salah satu jalan untuk lebih mendewasakan diri. Seringkali kita lupa dan terlalu tenggelam dengan apa yang kita lakukan selama ini, sampai evaluasi diri sering kita acuhkan dan kita anggap barang yang tak terlalu urgen. Jauhnya manusia untuk melakukan ritual Uzlah ini telah memicu gradasi esensi diri yang dahsyat dalam drinya. Mereka yang tidak mengakrabinya mudah frustasi, dan cepat menuduh betapa busuknya semua rentet aktivitas kehidupan.

Nabi Muhammad Saw melakukan Uzlah di gua Hira sebagai unjuk rasa atas kepenatan beliau mengenai problem yang dilakoni umatnya yang gemar membelot dakwah Nabi, disana ia mengadukan permasalahan yang membelitnya kepada Tuhan Semesta Alam, meminta solusi dan trik pemecahan masalah, sebenarnya hal itu bisa beliau lakukan di tengah keramaian Mekkah, namun, sekali lagi, Uzlah yang meng intim kan kita dengan masalah yang kita tanggung menjadi sebuah perpaduan yang eksotis, dengan demikian, beliau bisa lebih khusyuk mengkaji diri dan sesekali menjadikan masalah sebagai sosok yang berdiri di hadapannya, ia sadap dan telisik sosok masalah dengan jeli dan penuh kecermatan.

Hasil yang didapat amat efektif. Beliau menjadi tenang dan bisa lebih dewasa menyikapi permasalahan, salah satunya lantaran Uzlah tersebut. Teladan dari manusia terbaik semesta ini harus diambil hikmahnya. Lalu diaplikasikan dalam jenjang kehidupan. Dan, ini banyak ditempuh oleh para pengikutnya, banyak sekali dari ulama-ulama kita yang menjadikan salah satu kegiatan pemecah masalah.

Bukan hanya sufi, yang rajin mempraktekkan cara Uzlah ini sebagai jalan keluar masalah dan menjadi semacam jalan suluk menuju Rabb, melainkan Imam Asy-Syafi’i, salah satu Imam Mazhab yang masyhur, kalau beliau mempunyai permaslahan Fiqih yang tak bisa diatasi, maka beliau lantas berlawat ke Makam abu Hanifah, dan sebelum pulang ke rumahnya, masalah yang belum kelar itu segera tuntas dan teratasi.

Hal yang saya tangkap disini Imam As-Syafi’i pergi ke Makam Abu Hanifah bukan hanya untuk berziarah dan mendo’akan salah satu ulama pendahulunya itu saja, melainkan ia memilih tempat tersebut karena terbukti tempat yang ia kunjungi itu memiliki daya raksasa untuk memaksimalkan serta mengoptimalkan kerja Uzlah yang bakal ia jalani, yang dengan itu, salah satunya, permasalahan bisa dipecahkan. Otoritas Uzlah dalam hal ini, yakni terkait kiat penenang jiwa, adalah hal aksiomatis dan praktis.

Mari, klarifikasikan teori ini dengan praktek anda langsung. Saat anda terjerat sebuah masalah yang menghimpit dada dan menyesakkan tata nafas anda, cobalah ber-Uzlah mengasingkan diri, mengasinglah dan men-jernih-lah, pahami dan renungi serta jiwai diri anda yang besar dengan masalah yang anda dera yang sejatinya begitu kecil, hembuskan nafas kepenatan dan hirup udara sejuk yang menenteramkan rongga dada anda. Sudahi, bangkit, dan mulai hadapi lagi masalah yang sedang menghadang anda dengan keyakinan baru anda yang lebih mentereng dan berkilau penuh harapan.

Kamis, 19 Maret 2015. Jam 19:27 Asrama Darsun kamar 4.
   

 السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Komentar

Google + Follower's