Review Buku "Sedang Tuhan Pun Camburu" Karya Cak Nun

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته



Judul : Sedang Tuhan Pun Cemburu

Penulis : Emha Ainun Nadjib

Penerbit : Bentang Pustaka

Tempat : Yogyakarta

Tahun : 2015

Tebal : xii + 444

Cetakan : Pertama

Genre : Filsafat Hidup

******((((((_______))))))*******((((((((_______))))))*******(((((((((_______)))))))******

Emha Ainun Nadjib telah menyadarkan banyak pembaca tentang arti hidup dengan lebih arif.

Lewat kumpulan esainya yang terbalut dalam sebuah buku berjudul Sedang Tuhan Pun Cemburu, Emha sekali lagi menyuarakan kegelisahan sosial dan spiritualnya dengan bahasa yang lugas dan penuh kualitas.

Penulis sekaligus seniman yang juga tanggap nilai keagamaan ini sedang berusaha untuk menyatukan ketiganya menjadi sebuah karya monumental yang hebat dan sarat makna.

Buku ini adalah kumpulan esai Emha yang beliau tulis pada rentang waktu 1980-1994 an. Buku ini pernah terbit pada tahun 1994, namun sempat mengendap entah kemana, dan baru-baru ini tumpukan kliping ditemukan, dan dibukukan oleh Toto rahardjo sang editor, dengan kemasan yang lebih segar dan lebih nyes.

Tema yang dibicarakan antara lain adalah ; ketidak-adilan pemerintah, menjamurnya seks bebas sebagai buah warisan dari generasi tua, merebaknya narkotik yang menjangkit kaum muda, kritik kontes aurat indah, kebijakan atasan yang mustahil bisa dibantah, nasib kakek-nenek Amerika yang tak dianggap, profesi bukanlah nilai kualitas seseorang, kecemasan Emha akan muslim yang enggan menyebarkan rahmat ke alam sekitar, pasang-surut teater rakyat, nasib ludruk, pesona yogya sebagai ibu kota budaya, dan lain-lain.

Buku dengan tebal 444 halaman ini dibagi menjadi 6 bab (Trotoar, Traffic Light, Halte, Parkir, Tikungan, Trayek), dengan setiap babnya berisi beberapa esai yang dirajut dengan bahasa indah dan renyah.

Dengan latar belakang muslim tanggap, seniman, dan budayawan. Ditambah dengan kepiawaiannya dalam merangkai kata, Emha hadir membawa angin segar buat pembacanya, pesan-pesan keagamaan yang sarat nilai kehidupan ia usung dengan bingkai ke-seniman­-annya, lalu ia poles dengan kearifan nya soal psikolog sosial dan budaya, maka hal itu menjadi keunikan tersendiri, dan mampu dengan tepat menikam sasaran.

Penguasaan penulis terhadap kata-kata ilmiah menjadikan buku ini lebih berbobot,  juga cocok buat kawula penulis pemula yang ingin membiasakan diri dan belajar menjadikan tulisan nya sedikit-sedikit tercampur dengan bahasa yang bakal mengundang decak kagum masyarakat pembaca sekalian. Bahasa yang kaya dengan istilah isme, trans, tas, dan sebagainya. Ya, bahasa ilmiah.

Ditambah ciri khas Cak Nun (Sapaan akrab Emha) yakni memperkaya tulisan dengan istilah-istilah pribadi yang unik dan terkadang membuat geleng-geleng kepala (antara takjub dan lucu), tapi tidak ada kesan pemaksaan, semuanya cocok dan ilmiah. Membuat karya-karya nya lebih beraroma sedap, cocok menjadi teman duduk semua lapisan.

Jum’at, 20 Maret 2015, 15:43 (10-20 Maret)


 السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Komentar

Google + Follower's