Sekilas Mazhab Tafsir

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته




Al-Qur’an sebagai teks yang diam memberi kesempatan manusia yang bermulut untuk turut andil menyuarakannya. Diikuti dengan perkembangan zaman berikut gejala sosialnya yang bermacam-macam, al-Qur’an menunjukkan kemukjizatannya sebagai pedoman kehidupan yang tak lekang di panas dan tak lapuk di zaman. Ia kukuh tak tergoyahkan. Selalu relevan.

Dari sana, dari perpaduan dua realita yang mendukung-teks yang diam dan zaman yang berkembang- maka mulai muncul beberapa jalan pemikiran manusia dalam usaha menafsirkan al-Qur’an. Ragamnya pikiran dan ideologi yang diusung oleh manusia membuat al-Qur’an menjadi rebutan segala pihak. 

Ada segolongan yang memang menafsirkan al-Qur’an dengan kebenaran yang meyakinkan, yakni yang ditafsiri dengan nukilan-nukilan atsar dari Rasulullah Saw dan segenap sahabat ra., sebagai penjelas subtansi al-Qur’an, selaku pihak yang benar-benar paham dan arif pesan-pesan yang disampaikan dalam kitab suci tersebut, sehingga dengan demikian sirna keraguan dalam penafsiran.

Ada segolongan yang menafsirkan al-Qur’an dengan cara mengungkapkan makna al-Qur’an jauh dari kebenaran teks yang dimaksud. Pesan-pesannya yang sakral dibuat profan dibelokkan untuk memenuhi beberapa kebutuhan. Biasanya hal ini dilakukan sebagai legitimasi sebuah kelompok untuk memenangkan otoritas sebagai sekte yang paling benar.

Ada segolongan yang memang berusaha untuk sebisa mungkin membumikan al-Qur’an di setiap zaman sebagai pemecah solusi dan petunjuk menuju jalan kebenaran. Ia bisa kita nama-kan dengan tafsir realis, tafsir yang tanggap akan realita. Masalah yang terjadi dipreteli dengan se detail mungkin, kemudian diketemukan duduk permasalahannya, lalu usung pesan-pesan al-Qur’an yang diharapkan mampu menjadi pemecah permasalahan.

Al-Qur’an selain menjadi kitab pegangan umat beragama yang paling autentik dan ajarannya yang sakral dan mencerahkan itu, telah mengalami beribu-ribu penafsiran yang bermacam-macam. Ada yang tegas lantas hendak menyuarakan kebenaran pesan yang disampaikan oleh al-Qur’an, dan ada yang berusaha untuk menjadikannya sebagai legitimasi mazhab pemikiran saja. Al-Qur’an laksana madu yang diperebutkan oleh semut-semut.

Usai beratus-ratus penafsir melahirkan karya tafsir nya terkait al-Qur’an yang beribu-ribu jilid jumlahnya. Beberapa cendekiawan muslim mulai menyusun dengan cermat mazhab-mazhab atau metode-metode yang dipakai oleh mufassir dalm menafsirkan al-Qur’an.

Mazhab tafsir adalah kerangka berpikir yang dipakai oleh mufassir dalam menjelaskan makna-makna al-Qur’an. Peneliti yang berkutat dalam bidang ini ingin menjelaskan kepada khalayak seperti apa logika dan bagaimana cara berpikir para mufassir dalam menterjemahkan al-Qur’an ke dalam gambaran-gambaran pragmatis yang bisa dipahami masyarakat awam sekalipun.

Tokoh yang terkenal terkait pengklasifikasi an mazhab-mazhab tafsir adalah Husein adz-Dzahabi, Amina Wadud, GG. Jensen, Abdul Mustaqiem, Ignaz Goldziher, dll.

Dengan bermacam-macamnya hasil pemikiran mereka dalam pengklasifikasian mazhab-mazhab tafsir itulah yang kian memperkaya khazanah Islam terkait dunia al-Qur’an dan penafsirannya.

Selasa, 31 Maret 2015. 18:10
 


 السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Komentar

Google + Follower's