Semua Sudah Di-Kadarkan . . .

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته 

Jalan takdir yang sudah digariskan oleh Allah itu amat rinci dan sudah di-SK dengan banyak perhitungan, dan sudah pasti mengandung hikmah buat hamba-Nya.

Kita Ahlussunnah bukanlah Qodariyyah, yang menganggap bahwa semua ketentuan dan garis kehidupan itu semuanya sudah diatur oleh Allah Swt., yang dengan demikian, manusia hanya menjadi makhluk pasrah, tanpa punya andil sedikitpun mengubah jalan hidupnya.

Dan, kita juga bukan Jabariyyah, kelompok yang menganggap bahwa manusia mempunyai hak preogatif dalam menentukan takdir hidupnya, maka Allah tak ikut andil untuk menanganinya, apa yang kita usahakan itulah apa yang akan kita raih, tak ada kekuatan di luar kendali kita, kitalah yang berhak memegang setir dan terserah kita hendak dikemanakan kendaraan melaju.

Setelah mengembara kemana-mana, kita tetaplah Ahlussunnah. Golongan yang meyakini bahwa Allah memang memiliki garis tertentu untuk mengatur jalan kehidupan manusia, namun itui tidak berarti manusia tidak memiliki campurtangan di dalamnya, manusia sedikit punya daya untuk mengubah arah kehidupannya sendiri.

Allah yang Maha Perkasa itu memberikan akal dan hati kepada manusia untuk berpikir tentang mana yang baik dan harus dikerjakan, dan mana yang buruk dan harus diitnggalkan. Selain diberikan dua senjata pembeda itu, Allah utus beberapa utusan dari hamba-hamba-Nya yang terpilih untuk mengingatkan manusia kalau mereka lupa, untuk mengentakkan kesadaran manusia tatkala kebanyakan kita sudah hilang dan lenyap di bawa ke alam bawah sadar oleh Syaithan dan para kerabatnya.

Dia berikan pilihan, kitalah pemain utama yang berhak memilihnya. Baik kebaikan atau keburukan yang kita ambil, itu hak kita. Semua beresiko dan telah diatur sesuai dengan kadarnya. Yang mengambil paket keburukan, seperti mencintai dunia, maka kesenangan dan umbar syahwat selalu  dilaksanakan, tak pernah ada puasa dalam hidupnya, hidup di jalani semaunya, seenak udelnya. Tak ada duri dan onak yang hadir di jalan yang dilaluinya.

Begitu pun dengan mereka yang memilih paket kebaikan untuk diterapkan dalam kehidupannya. Maka tantangan dan rintangan pun makin terasa ganas menggilas, puasa terhadap murka-Na harus senantiasa dilakukan dan dikembangkan, hidup harus dipola dengan sebaik mungkin, agar cita dan tujuan bisa tergapai dengan optimal.

Maka, jelas alasannya mengapa kemudian Allah memberikan ganjaran surga bagi hamba-Nya yang taat, dan menjerat hukum bagi yang durhaka. Allah sudah berikan pilihan, tentang kebaikan dan keburukan, maka terserah manusia untuk menentukan pilihannya. Fair, bukan?


Jika demikian, maka tinggallah kita insyaf diri dan me re evaluasi segala tindak-tanduk perbuatan kita. Apakah selama ini kita masih meniti jalan yang benar, atau sudah doyong ke jalur lain, ke jalan yang salah, dan bagaimana jika kita melakukan semua tanpa kesadaran total dalam diri kita? 

Ya Allah bantu, Amien.

 السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Komentar

Google + Follower's