Shalat Sebagai Cahaya Dan Sabar Menjadi Penerang

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته 


 
Diriwayatkan dari Aba Malik al-Asy’ary ra. Bahwasanya Rasulullah Saw bersabda : Menyempurnakan wudhu adalah setengah dari iman, mengucapkan hamdalah memenuhi timbangan, bertasbih (menyucikan asma Allah) dan bertakbir (mengagungkan asma Allah) bisa memenuhi langit dan bumi, shalat itu cahaya, zakat itu bukti, sabar itu penerang, dan al-Qur’an ia bisa menjadi penolong atau saksi kedurhakaanmu terhadapnya. (HR. Muslim, Tirmidzi, Nasa’i no. 2436, Ibnu Majah, Ahmad)

Melalui hadits ini Rasulullah Saw memberitahu umatnya tentang keutamaan ritual-ritual keagamaan yang amat familiar dalam kehidupan umat muslim. Syariat atau hukum yang diturunkan oleh Allah Swt melalui utusan-Nya sudah barang tentu mengandung hikmah bagi hamba-Nya. 

Agama terakhir yang sekaligus menjadi penyempurna dari agama-agama sebelumnya amat indah jika kita mau memahaminya, bukan hanya penilaian subjektif yang dilakukan oleh umat muslim sendiri, melainkan apa yang diungkapkan oleh non muslim yang sehat akal pikirannya pun juga akan mengakui hal demikian.

Karen Amstrong dalam Sejarah Islam mengungkapkan bahwa agama ini tidak membedakan antara urusan dunia dan akhirat itupun menjadi keistimewaan sendiri. Baik politik, bisnis, mu’amalah dan lain sebagainya dari aktivitas-aktivitas keduniawian semua diberlakukan tanpa harus mengesampingkan subtansi pahala akhirat yang hadir di dalamnya, semua melebur demi tercapainya klimaks dan menguntungkan di dunia maupun akhirat. 

Tak ada pembedaan. Yang justru dengan itulah semangat berproduksi dan berkarya dalam kehidupan dunia yang dilakukan oleh umat Muslim menjadi optimal dan sarat ruh perjuangan.

Belum lagi apa yang diungkapkan oleh Michael Hart dalam Seratus Tokoh Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah-nya, yang dengan tegas menempatkan posisi Nabi Muhammad sang penyampai syariat Islam ke muka bumi ini sebagai tokoh nomor wahid paling berpengaruh sepanjang sejarah, jauh melompati 99 tokoh dunia yang hebat dan populer serta diakui pengaruhnya di ranah sejarah.

Meski menjadi kontroversial tapi beliau telah dengan tegas dan berani menyuarakan fakta dengan akurat dan dapat dipertanggung-jawabkan!

Keterangan Hadits : 

Sempurnakan Wudhu maka lengkap setengah dari keimanan yang kita punya. Tentunya dengan memenuhi syarat sah berikut sunnahnya. Wudhu adalah sebagai bentuk pemeliharaan diri kita dari apa-apa yang dikhawatirkan akan merusak moral. Dengan wudhu yang kita miliki kita terjaga dari bersentuhan dengan perempuan yang mampu menggiring kita menuju jurang kenistaan.

Dan banyak lagi yang bisa kita rasakan manfaatnya dari kegiatan pelestarian eksistensi wudhu kita. belum lagi ada sebuah hadits yang mengungkapkan bahwa orang yang senantiasa menjaga wudhunya maka kelak akan dibangkikan pada hari kiamat sedang wajahnya bercahaya.

Ucapkan hamdalah dan masukkan spirit ajarannya ke dalam sendi kehidupan, insya Allah hidup menjadi berkah dan bertabur rahmat. Bersykur adalah hal yang wajib dilakukan oleh seluruh manusia sekalian, bukan hanya muslim.

Mengingat dan menimbang bahwa kemurahan Allah atas seluruh manusia yang begitu melimpah memaksa kita untuk berterima kasih kepada-Nya. Dan juga wajib bersyukur dengan mengucapkan hamdalah karena Dia telah mampu bersabar atas kekufuran dan kemunafikan yang kita buat, dengan tidak menyegerakan azab.

Simaklah apa yang diungkapkan oleh Cak Nun dalam bukunya Tuhan Pun Berpuasa hal. 99
“Padahal bukankah Allah selalu demikian menahan diri?. Dengan dosa-dosa kita yang sedmikian bertumpuk, baik dosa pribadi maupun dosa kolektif, baik dosa personal maupun struktural, tidak pantaskan kalau sudah sejak dulu Allah murka dan melindas kita semua?

Tapi bukankah ia masih sangat menahan diri? Tetap memperkenankanmu berbadan sehat, bernapas, dan bergerak? Bukankah ia sangat menahan diri dengan tetap menerbitkan matahari, mengalirkan air, dan mneghembuskan angin-seolah-olah tidak peduli betapa malingnya kita. betapa munafik dan kufurnya kehidupan kita?”

Suci-kan serta agung-ka asma-Nya bukan karena Dia Yang Maha Segalanya butuh akan hal demikian. Kitalah yang amat membutuhkannya. Untuk tidak dibilang orang yang tidak tahu diri dan tak mau diuntung kita harus senantiasa berterima kasih kepada Sang Maha Pemberi dengan cara mensucikan dan mengagungkan nama-Nya.

Pula, hal itu sebagai peningkatan pundi-pundi pahala yang akan menjadi teman terbaik kita di akhirat kelak, di hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya. Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa siapa saja yang mengucapkan “Subhanallahu Wa bihamdihi” “Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya” sebanyak seratus kali maka dosa-dosa (kecil) nya akn terampuni meski melimpah bagai pasir di pantai.

Shalat adalah cahaya yang bakal menerangi tapak kehidupan. Hidup yang tak menjanjikan ketenteraman dan rumit akan fluktuasi persoalan ini sangat membutuhkan pedoman yang akan menuntun menuju jalan kemenangan dan ketenangan. Shalat-lah pedoman itu.

Shalat adalah saat dimana hamba berhadapan langsung dengan Tuhan-Nya. Semakin banyak seseorang berkomunikasi dengan Tuhan Sang Pemecah Masalah, maka masalah yang dia emban akan semakin teratasi dan derita yang menghimpit sedikit demi sedikit akan berkurang.

Jika sudah demikian, saat kita menjalani dunia teguh bertilas di atas pondasi yang kuat, yakni shalat, maka himpitan dan terjangan problematika kehidupan akan tidak menjadi hal yang mencekam dan menerkam seakan buntu segala jalan. Itu karena, kita sudah mau berdekat diri, mengadukan masalah kepada ahli segala masalah, Alllah Swt.

Zakat sebagai bukti bahwa kita telah mau menyisihkan sebagian harta demi penyucian untuk disalurkan ke mereka kaum yang kurang mampu dari kita. Perintah shalat yang selalu berdampingan dengan perintah zakat bagi amatlah memiliki koherensi subtansial.

Shalat adalah soal hubungan kita manusia dengan Allah Sang Pencipta. Sedangkan zakat adalah urusan manusia terhadap sesamanya. Dan shalat menjadi tidak sah saat zakat dilalaikan begitu saja. Meninggalkan salah satu darinya akan menimbulkan kepincangan esensi nilai, kita yang butuh terhadap Tuhan yang Maha Mengatur Segalanya sebagai peindung,  juga butuh terhadap sesama yang menjadikan indikator berlangsungnya kehidupan ideal dengan sikap sosial di antara kita.

Sabar itu penerang dikala kegelapan menyergap. Dinamika kehidupan yang tidak menentu sering membuat jiwa tidak stabil dan nafsu beralih menjadi penguasa tahta. Maka siapa yang tidak memiki kesabaran dalam dirinya, ia akan berbuat sesuatu yang akan mengantarkan diri menuju kehancuran.
Nafsu buruk yang maunya hanya kenikmatan pembawa kehancuran saja tidak cukup untuk membwa hidup menuju apa yang diharapkan, butuh kesabaran yang ulet untuk menyeimbanginya, agar tercipta prinsip ekuilibrium dalam hidup dan kehidupan.

Al-Qur’an menjadi pembela adalah harapan yang selalu kita nantikan. Meski untuk meraihnya bukan lah hal mudah, tapi setidaknya sudah ada langkah yang menggiring ke sana. Dan do’a yang selalu kita panjatkan usai mengaji di TPA atau TPQ “Waj’alhu Lana Hujjatan ya Rabbal Alamien” “Dan jadikanlah al-Qur’an sebagai pembela wahai Tuhan Semesta Alam”, semoga saja dikabulkan dengan cara senantiasa kita diberi daya dan kekuatan untuk selalu mengamalkan apa yang al-Qur’an katakan. 

Amien.

Al-Qur’an menjadi Saksi Keburukan kita kelak jika kita sudah senonoh menodai ke sakral annya dengan tingkah laku buruk. Dan semoga kita dijauhkan dari menjadi golongan yang menjadikan al-Qur’an sebagai omong kosong belaka lantas meninggalkan ajarannya. Amien.

Darus-Sunnah, Ciputat. 26 Maret 2015. 08:06
 

 السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Komentar

Google + Follower's