اللهم انا نعوذ بك من الهم و الحزن...

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Ya Allah kami berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan.
Ya Allah kami berlindung dari sifat lemah dan pemalas.
Ya Allah kami berlindung dari sikap pengecut dan kikir.
Ya Allah kami berlindung dari lilitan hutang dan kejahatan seseorang.

Do’a ini terkadang atau mungkin seringkali kita dengar dari seorang imam jama’ah di surau-surau di negeri kita.  Kandungan maknanya yang memukau membuat kita ingin terus memanjatkannya setiap saat, berharap bahwa Allah semoga mengabulkan do’a para hamba-Nya yang tengah memelas meminta rahmat dan kasih sayang-Nya.
______________________________________________________________________________

Ya Allah kami berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan.

Pada baris pertama berisi unjuk kemelasan kita di hadapan-Nya. Siklus kehidupan Manusia yang ramai dengan tumpang-tindih permasalahan amat berpotensi menjadikan manusia mengalami kegalauan dan kesedihan. Berbagai pelik kehidupan terkadang tidak seimbang dengan kebahagiaan yang datang menghampiri. 

Sebenarnya jika kita sudah arif dengan kehidupan, permasalahan yang tiba itu menjadi tidak begitu menyakitkan. Tidak ada manusia yang tidak tertimpa musibah, malah aneh jika hidup ternyata hanya berjalan mulus tanpa masalah. Maka ini adalah urusan hati. 

Saat kita meminta kepada Allah dengan ucapan ini sejatinya kita mengharap bahwa Allah sudi kiranya mengingat kan kita saat tertimpa sebuah kepelikan hidup untuk selalu menggantungkan dan mengaitkan diri dan pikiran kepada Allah, Sang Pemecah Solusi. 

Memohon diri agar saat musibah melanda hati menjadi ingat kepada-Nya. Sehingga jika sudah demikian, saat kita paham betul bahwa Allah tak mungkin bermaksud menyengsarakan hamba-Nya lewat perantara musibah tersebut. Malah, jika kita meresapi makna ujian, justru itu adalah bukti bahwa Allah masih sayang kepada hamba-Nya. Tak ada kegundahan dan keresahan. Semua akan berbuah hikmah. 

Mengapa demikian? Manusia yang terkadang menjadi raja bagi dirinya sendiri seringkali bertindak di luar batas. Sombong dan tak jarang membusungkan dadanya. Hartanya melimpah dan wanitanya membeludak. Ia bertindak tidak senonoh ; menghamburkan harta dan tidak pernah bersedekah memaklumi kefakiran kaum lemah. 

Maka pada saat demikian Allah menurunkan musibah kepadanya. Ia menderita kanker. Ludes, harta melimpah yang ia punya tak lagi bisa ia nikmati. Fasilitas yang meruah kini hanya tinggal pajangan. Bagaimana dia bisa menikmati, kalau untuk jalan tegak berdiri saja ia kesusahan setengah mati? Pada saat itu ia insyaf, bahwa ternyata begini, begini, begini. Hidup itu harusnya begini, begini, begini. Musibah ternyata menjadikan dirinya lebih baik. Allah telah menegurnya lewat musibah yang dialami, mengembalikannya menuju jalan yang diridhai.

Darus-Sunnah, Rabu 15 April 2015. 18:48
______________________________________________________________________________

Ya Allah kami berlindung dari sifat lemah dan pemalas.

Melangkah ke baris kedua, kita memelas dan menghinakan diri dengan menyebutkan dua sifat alami manusia yang rapuh. Menjadi lemah dan pemalas. Menginsyafi dalam batin bahwa dua sifat ini, lemah dan malas merupakan dua diantara beribu penyakit yang menjangkit manusia, yang jika dibiarkan akan menjadi borok, dan lama kelamaan bisa menjurus pada luku serta berujung pada kelumpuhan.

Menjadi lemah bisa bermakna banyak. Lemah tatkala terkena musibah. Lemah terhadap godaan. Lemah terhadap ujian. Lemah saat mendapati kemewahan. Lemah jika berhadapan dengan kefakiran. Lemah saat menyikapi permasalahan. Lemah saat mendapat tantangan. Dan masih banyak lemah lainnya. Manusia sarat kelemahan, dan karena demikian mungkin kita dinamakan manusia. Tapi, di tengah sekian banyak kelemahan yang menjadi stigma eksistensi manusia, tidak menjadi alasan bagi kita untuk menjadi lemah. 

Buktinya do’a tersebut. Kita berharap untuk menjadi kuat dan tegar. Kukuh saat terhempas badai. Gagah menangkis terjang permasalahan. Sigap menghalau godaan yang menggiurkan namun mematikan. Tegap dan tidak doyong. 

Meski demikian, kita tetap lemah Dalam beberapa hal, kita insyafi diri yang sebagaimana tersurat dalam al-Qur’an sebagai makhluk yang lemah. Khuliqol Insanu Dho’ifan. Maka dari itu kita tak layak sombong. Kita tak akan pernah bisa membakar bumi dan melampaui pegunungan yang menjulang. Camkan itu.

Semoga Allah berikan kekuatan untuk kita sebagai sangu umtuk mengarungi kehidupan yang sarat liturgi dan turbulensi. 

Dan jangan masukkan kami dalam barisan para pemalas! 

Ayah saya pernah berkata kepada saya : Lebih baik bodoh daripada malas. Orang yang bodoh jika dia rajin masih ada kemungkinan untuk menjadi hebat dan berpotensi. Lain halnya jika ada orang yang sudah dihinggapi rasa malas. Sepintar dan se berbakat apapun dia, jika dia adalah pemalas, maka tak akan membuahkan apa-apa kecuali kesia-siaan belaka. 

Malas ialah penyakit akut yang menjerat manusia. Ia menjadi batu raksasa yang menghalangi jalur anda menuju kesuksesan. Atas dasar demikian, maka seringkali kita dapati seorang yang tidak pandai-pandai amat IQ nya namun rajin ia menjadi orang. Namun banyak juga kita dapati orang yang secara IQ dapat nilai lebih, namun lantaran ia malas, ia gagal menjadi orang.*

Darus-Sunnah, Rabu 15 April 2015, 22:29

*Bersambung


 السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Komentar

Google + Follower's