Filosofi Gerhana Bulan

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته



Dalam satu kesempatan, Ust. Andi Rahman, MA. Menyampaikan sebuah ceramah di depan mahasantri Darus-Sunnah yang kira-kira subtansi perkataan beliau seperti ini :

“Pada saat ini, kita semua menyaksikan gerhana bulan tengah terjadi, dan merupakan sebuah sunnah Rasulullah Saw yang seyogyanya harus diikuti yakni melakukan kegiatan shalat gerhana bulan untuk mensyukurinya.

Tirulah filosofi bulan dan analogikan dengan kehidupan. Bulan, dari tiada menjadi sabit, dari sabit berubah menjadi purnama, kemudian menciut lagi menjadi sabit, lalu hilang dan berevolusi menjadi gerhana.” (1)

Penafsiran Saya :

Manusia awalnya adalah tidak berwujud, ia adalah makhluk yang memiliki permulaan dalam penciptaan. Di saat ini manusia adalah bukan apa-apa, ia belum berbentuk dan belum menjadi sesuatu yang diakui keberadaannya. Sadarilah bahwa kita ternyata bukan hanya pernah menjadi kecil, namun kita adalah makhluk yang pernah tidak ada, belum tercipta, belum menjadi sesuatu yang patut dipertimbangkan.

Kemudian manusia yang asalnya tidak ada itu diciptakan oleh Tuhan lewat serangkaian proses dan lahir sebagai anak kecil di muka bumi. Bulan berubah dari tiada menjadi sabit. Kehidupan dimulai. Layaknya bulan sabit, keadaannya memang sudah diakui namun pengaruhnya belum terlalu diperhitungkan oleh banyak orang. Ia masih menjelma sebagai makhluk yang masih kecil dan tidak memiliki banyak sumber tenaga. Daya sinar yang dia punya masih terlalu minim untuk menumpahkan tetes cahayanya ke dunia untuk meneranginya.

Seusai malang melintang dengan berbagai peristiwa fase awal kehidupan, melanglangbuana dari satu bagian ke bagian kehidupan yang lain, maka ia merekah menjadi purnama. Masa ini adalah masa matang usia kehidupan.  Waktu dimana tenaga dan pikiran sudah ditempa dengan berbagai persoalan yang menjerat. Manusia meng-kristal.

Purnama itu adalah masa muda. Di saat diri menjadi masak karena telah dipelihara oleh rentetan masalah yang mendewasakan. Pada tahap ini, manusia terpecah menjadi dua bagian. Ada bagian yang memang bersinar dan mampu menyinari lingkungan dengan cahayanya. Ada pula sebagian yang tidak bercahaya, tak mengeluarkan sekelumit cahayanya demi menerangi bumi.

Pada masa inilah seharusnya setiap manusia benar-benar menggunakan kesempatanya untuk menjadi sentral kekuatan, menggalang daya untuk kehidupannya kelak saat diri menjadi sabit lagi. Bukan sabit apalagi gerhana yang bisa membuat dunia terang benderang disirami cahaya rembulan. 

Purnamalah yang memiliki otoritas untuk menentukan arah jalan sejarah. Gunakan masa-masa purnama ini untuk mendedikasikan diri menjadi investasi kehidupan di masa mendatang.
Setelah purnama sudah puas dengan tahtanya, datang sabit kembali menempati singgasana. Usia sudah tak lagi muda, lanjut usia datang menempati bangku supir. Yang mengemudikan kendaraan sudah tidak lagi awas matanya, pendengarannya sudah mulai menuli, lapisan kulit yang melekat di tubuhnya menggelambir tanda kekuatan diri sudah melemah. 

Kalau pada saat ini baru menyesal dan semangat berkarya baru menyala, tenaga sudah tidak lagi prima menopangnya, kaki untuk bertumpu sudah doyong, tangan untuk menyangga sudah gemetaran, hasil tak akan optimal. Tidak maksimal.

Hari sudah tidak lama lagi. Saat gerhana tiba ia harus mengucapkan bye-bye kepada semua. Proses yang panjang dan dramatis, dari gerhana menjadi sabit, mekar menjadi purnama, gradasi menjadi sabit, sirna menjadi gerhana lagi.

Sekian, kira-kira begitu potongan waktu hidup manusia. Seperti pengembaraan bulan dari gerhana menuju gerhana. Manusia sama dengan bulan. Dari tiada menuju tiada lagi. Namun, Tuhan letakkan kesempatan di antara keduanya suatu masa dimana kita menjadi ada, saat kita menjelma purnama. Satu kesempatan yang berpotensi meng-emas kan kehidupan yang singkat ini.
Semoga kita bisa beranjak menjadi purnama. Dan menerangi semesta.

Darus-Sunnah, Selasa 07 April 2015. 14:21

(1) : Disampaikan saat Khutbah Shalat Gerhana Bulan (Kusuf) di Masjid Munirah Salamah, Darus-Sunnah, Sabtu 04 April 2015.


 السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Komentar

Google + Follower's