Hadits Proposal & Beasiswa

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته 

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah Saw bersabda : Barangsiapa meminta-minta sedang dia dalam keadaan berkecukupan, maka kelak akan datang pada hari kiamat dengan keadaan muka penuh bekas cakaran (HR. An-Nasa’i hadits no. 2591)

Hadits tersebut disampaikan oleh penanggung jawab (PJ) Sunan An-Nasa’i pada Rabu 15 April 2015 di Mudzakarah Usrah al-Bukhari, Hammad Abal Alam.

Sesuai menjelaskan makna kandungan hadits yang juga diriwayatkan oleh Imam Abu Daud tersebut, seorang berkaca mata duduk tak jauh dari PJ mengacungkan tangan dan bertanya : “Lantas bagaimana dengan hukum mengajukan proposal? Bukankah itu juga sifatnya meminta? Tolong dijelaskan!”

PJ dan beberapa orang di sekitarnya menyebutkan sekian jawaban untuk memuaskan batin sang penanya. Diantaranya ada yang menjawab : ya, kalau tidak ada unsur menipu, dengan gambaran bahwa biaya yang dicantumkan di dalam tidak di lebih-lebihkan maka tidak apa-apa. Dan lain sebagainya.

Saya terdiam dan tidak ikut nimbrung memberikan jawaban. Tapi bukan berarti saya tidak punya jawaban. Begini pikiran saya menjawab : Mengajukan proposal dan mengharapkan donatur memberikan sumbangsih dana kepada pengaju itu layaknya transaksi jual-beli. Kita yang mengajukan adalah pedagang, sedang yang disodori map berisi lembaran-lembaran itu adalah pembeli. Kita  menawarkan barang dagangan berupa kegiatan yang akan kita laksanakan dalam sebuah event, lengkap dengan tujuan acara serta apa manfaatnya buat sang penyumbang.

Kita me-marketing-kan program yang akan kita helat. Berbicara tentang esensi, tujuan, dan manfaat acara buat peserta atau sang donatur. Bicara luas layaknya seorang penjaja obat-obat herbal yang keliling dari pintu ke pintu. Berusaha meyakinkan bahwa jika anda menyisihkan harta dalam acara ini maka anda akan begini, begini. Dengan berpartisipasi memberikan sumbangsih berupa bantuan bapak sejatinya telah mendapatkan begini, begini. Dan berbagai macam sanjungan lainnya. Sang pembeli luluh dan menyalurkan dananya untuk mensukseskan acara.

Kita menjual program mereka membelinya. Tak ada unsur meminta, ini seperti jual beli. Meminta adalah jika salah satu pihak merasa dirugikan, sedang ini tidak, tidak ada yang rugi, semua siembang mendapat laba perniagaan. Jadi, mengajukan proposal bukan bagian dari macam-macam modus meminta-minta, yang jelas dilarang oleh mash.

Kemudian ada yang menyambung pertanyaan, bagaimana dengan beasiswa, apakah dihukumi sama dengan meminta-minta? Jawbannya adalah tidak.

Sebelas dua belas dengan proposal, beasiswa juga memiliki subtansi yang serupa dengan transaksi jual beli. Ada dua macam beasiswa ; satu untuk menaggulangi dana pelajar lantaran tidak mencukupi biaya instansi, satu memang sebagai penghargaan akademik, diberikan untuk akademikus yang berprestasi di ranah pendidikan.

Untuk jenis pertama ia menjual nasib kemiskinan nya dengan sebuah harga tunjangan pendidikan, yang kedua menjual kualitas diri dengan sangu pembelajaran. Keduanya menjual produk dan penyedia beasiswa membeli barang dagangannya. Tak ada unsur meminta, tak ada kecacatan yang perlu dipermasalahkan. Tuntas.  

Institut PTIQ, Kamis 16 April 2015. 09:42
 

 السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Komentar

Google + Follower's