Orisinalitas Tafsir

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته



Al-Qur’an yang orisinil maknanya dari Allah itu ya al-Qur’an itu sendiri. Bukan yang lain.

Sebagaimana dituturkan oleh Ibu Dr. Nur Rofi’ah dalam satu kesempatan :

“Telah berkunjung saya ke berbagai kitab tafsir al-Qur’an, mengembara ke beragam literatur yang mengulas makna ayat-ayat al-Qur’an untuk mencari penafsiran yang murni yang hendak disampaikan oleh sang empunya al-Qur’an itu sendiri yakni Allah Swt, namun semua nihil dan berakhir dengan kebuntuan.”

“Ketika saya datangi tafsir al-Manar maka yang saya dapatkan adalah al-Qur’an versi Rasyid Ridha & Muhammad Abduh. Saya beranjak ke Mafatih al-Ghaib, tapi yang saya temui di dalamnya adalah al-Qur’an menurut Muhammad Fakhruddin Ar-Razi. Lalu saya coba kaji tafsir al-Misbah, malah saya menemukan Al-Qur’an dalam pandangan Quraisy Syihab.”

“Dan banyak lagi yang saya jumpai dari berbagai kitab-kitab yang khusus memberikan penafsiran ayat-ayat Allah (Al-Qur’an), namun berkali-kali pula saya menemukan ketidak-puasan, saya gagal mendapati makna al-Qur’an yang benar-benar orisinil dari Allah Swt. Akhirnya saya ingin menafsirkan sendiri, saya buka al-Qur’an saya kaji dan arungi, namun yang saya temui adalah al-Qur’an menurut versi saya sendiri.”

“Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa tafsir al-Qur’an yang hakiki itu yang ada dari Allah sendiri, ya dalam al-Qur’an yang sering kita baca itu, tanpa ada intervensi pihak kedua.” (1)

Tambahan saya :

“Saya berpendapat bahwa ternyata ada tafsir yang orisinil dari Allah selain apa yang tercantum dalam al-Qur’an itu sendiri. Yakni seperti yang kita jumpai di berbagai kitab tafsir dengan menggunakan hadits-hadits Nabi sebagai penjelas makna ayat. Bukankah Nabi diutus salah satu fungsinya adalah sebagai penjelas apa yang termaktub dalam al-Qur’an (lihat an-Nahl : 44). Dan pula, Nabi tidaklah berkata tentang sesuatu kecuali itu dituntun oleh Allah, ungkapan Nabi adalah wahyu. Maka, dari sini bisa dibulatkan, bahwa mufassir manapun yang menjelaskan al-Qur’an dengan menggunakan hadits-hadits Nabi sebagai penjelas sejatinya ia telah menggali penafsiran yang orisinil sejalan-selangkah dengan apa yang dimaksud oleh sang pemilik kalam mulia itu sendiri, Allah Swt. Karena apa yang disampaikan oleh Nabi itu datangnya dari Allah Swt sendiri.”

Darus-Sunnah, Selasa 07 April 2015. 21:09

(1) Dari perkataan Ibu Dr. Nur Rofi’ah, Dosen Wacana Tafsir Kontemporer, Institut PTIQ Jakarta Fakultas Ushuluddin Jurusan Ilmu Qur’an & Tafsir Semester 4. Pada hari selasa 07 April 2015.


 السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Komentar

Google + Follower's