Wacana Tafsir Kontemporer & Debat Malam Jum’at

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Wacana Tafsir Kontemporer adalah salah satu nama mata kuliah yang diajarkan di PTIQ semester 4 Fakultas Ushuluddin jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir. Dengan pengajar Bu Dr. Nur Rofi’ah, salah seorang alumni sebuah kampus di Turki yang juga menjadi pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta.

Mata kuliah ini menitikberatkan wacana sebuah tafsir di era kontemporer. Caranya adalah setiap kelompok diberi sebuah kasus yang berbeda-beda yang sedang marak terjadi dewasa ini, kemudian masalah tersebut dikaji lebih mendalam dari sudut pandang penafsiran. Kasus yang tengah terjadi adalah kasus yang telah mendapat legitimasi dari ayat-ayat atau nash agama lainnya.

Tugas kami adalah mengkaji penafsiran sebuah ayat dan disambungkan dengan konteks yang ada. Meneliti lebih mendalam makna ayat versi pelaku pelestari problem dan versi pemecah problem. Teks-teks keagamaan yang dasarnya adalah diam telah membuka berbagai macam penafsiran yang unik dan beragam. Ada yang mengafiliasikannya dengan kebaikan. Tak jarang juga ada yang menjadikannya sebagai legitimasi se pihak.

Pada akhir diskusi kami diminta untuk mencantumkan penafsiran ayat lintas pemikiran itu. Seperti apa bunyi penafsiran yang ingin menjadikan ayat sebagai alat untuk mendukung kebijakan kelompok dalam melestarikan problem, sehingga menodai ke sakral annya. Dan bagaimana gaung penafsiran yang ideal dan mengajak manusia untuk menyelami kebenaran, memecahkan masalah dan menempatkan kalam Ilahi tersebut benar-benar sebagai rahmat buat semesta. Plus diperintahkan untuk membuat solusi bagaimana agar tindak penyalahgunaan nash ini segera berhenti dan masyarakat segera menyadari tentang betapa vandilistis nya sebuah problem yang tengah dikaji itu terhadap kehidupan sosial manusia.

Debat Kursus Malam Jum’at adalah kegiatan yang dilakukan oleh pengurus Ma’had Darus-Sunnah untuk mahasantri semester 1 & 2. Dalam satu kelas yang dibagi menjadi kira-kira 20 orang kami dipecah menjadi lima 6 kelompok, 1 kelompok 3 orang. 

Tugasnya adalah sang pembimbing mengangkat sebuah masalah kontroversial keagamaan untuk dikaji ulang. Ada kelompok yang pro dan ada yang kontra. Semua harus menguatkan argumen masing-masing. Dan tak ayal bahwa dalil dan komentar cendekiawan dan ulama Islam harus dibuat legitimasi pembelaan.

Hal ini sebelas dua belas dengan wacana tafsir kontemporer di atas. Sama-sama hendak mengkaji nash dan penafsirannya. Bukan esensi al-Qur’an yang berbeda namun pemikiran manusia-manusia yang mengkajinya lah yang seringkali berbeda sudut pandang penafsirannya.

Wallahu A’lam

Darus-Sunnah, Senin 20 April 2015, 13:37
 

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Komentar

Google + Follower's