Takhrij Hadits Menurut Imam Besar Istiqlal Jakarta

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Hadits dengan ribuan kejaibannya menjadikan para pengkajinya tak kunjung puas dan belum lagi mencapai titik klimaks yang bisa menginterpretasikan khazanah hadits secara keseluruhan. Sebagai sumber pengambilan hukum nomor 2 pasca al-Qur’an, hadits dinilai sebagai suatu hal yang sakral, yang ajarannya senantiasa dari tahun ke tahun selalu terpelihara dan terjaga, telah disebutkan dalam buku sejarah, bahwa ribuan ulama dan cendekia yang dengan semangat membara serta pengabdian penuh keikhlasan, menghabiskan waktu dalam hidupnya untuk berkecimpung melelahkan diri demi memperkaya khazanah ilmu hadits.

Di antara langkah pemeliharaan eksistensi hadits adalah dengan cara memahami takhrij hadits, mengeluarkan hadits dari akar-nya, serta mengetahui metode dan tata cra memahami hadits dengan benar. Ma’had Darus-Sunnah, sebuah institusi khusus pengkaji hadits yang berlokasi di Ciputat, menghelat sebuah acara yang bertema demikian. Bekerja sama dengan lembaga semi otonom bernama Lembaga Kajian dan Riset Rasionalika (Lemkaris Rasionalika), Darus-Sunnah mengadakan acara ini terhitung sejak 22-4 mei 2015 tepatnya di Masjid Munirah Salamah di Mahad Darus-Sunnah yang pesertanya berjumlah kira-kira seratus lebih terdiri dari mahaiswa berbagai institusi perguruan tinggi di Jakarta seperti UIN, PTIQ, IIQ dan lain sebagainya.

Tadi pagi ( Sabtu 23 Mei 2015), dalam sebuah rentetan acara ini, tampil seorang Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta yang sekaligus menjabat sebagai Khadim Ma’had Darus-Sunnah Ciputat, Prof. Dr. KH. Ali Musthafa Yaqub, MA, sebagai pembicara dengan tema “Metode Memahami Hadits Dengan Benar”.

Dengan penuh antusias, peserta pelatihan “Relevansi Takhrij Di Masa Kini & Metode Memahami Hadits Dengan Benar” ini, mendengarkan dengan saksama apa yang dituturkan oleh seorang ahli hadits Indonesia ini. Dan saya, selaku panitia, juga ikut menyimak dengan perhatian ekstra apa yang beliau paparkan. Semua itu saya abadikan dengan beberapa catatan, yang antara lain sebagai beikut,

Ada 3 jenjang  dan tingkatan dalam horizon ilmu hadits :

Yang pertama adalah Musthalah, pembahasan ini berkutat seputar teori dan istilah-istilah dalam ilmu hadits. Contohnya adalah penguraian tentang apa itu hadits shahih, bagaimana kisi-kisinya, serta apa syarat yang harus dipenuhi dalam hadits hingga pantas disebut shahih. Disiplin ilmu ini yang banyak tersebar di institusi-institusi perguruan tinggi di Indonesia.

Yang kedua adalah Takhrij Hadits, dalam hal ini kita diajak untuk mengetahui hadits sampai ke akar-akarnya. Hadits-hadits yang tersebar di berbagai kitab-kitab keagamaan haruslah diverifikasi terlebih dahulu keautentikannya, harus ditakar ke shahihannya sehingga bisa dengan jelas diketahui bahwa hadits tersebut adalah bersal dari Nabi dengan jalur yang otoritatif, bisa dipertanggungjawabkan dan bisa diamalkan. Ataupun membongkar kebobrokannya jika ternyata didapati bahwa hadits tersebut telah sampai kepada taraf pemalsuan atas nama Nabi Saw.

Yang ketiga adalah metode memahami hadits dengan benar. Hadits yang datang dari Rasulullah Saw., amat beragam dan tak bisa dipahami dengan akal telanjang. Dalam satu hadits dijelaskan bahwa umat Islam diperintah untuk  membunuh seorang yang kafir sampai ia mengucapkan syahadat, namun dalam hadits lain diungkapkan bahwa kita tak boleh menyakiti orang non-muslim. Kenyataan seperti ini jika dipahami dengan pemahaman yang dangkal dan minim pengetahuan hanya akan meghasilkan sebuah ijtihad yang nihil, dan berpotensi melahirkan interpretasi subtansial yang salah dari maksud hadits itu sendiri, sehingga dengan demikian bisa lahir gerakan semacam ISIS, Radikalisme kelompok dan lain sebagainya, yang memahami teks teks keagamaan hanya setengah-setengah saja.

Butuh metode tertentu yang mampu mengatasi problem trsebut, ada tata cara dan kitab pegangan untuk menanggulangi permasalahan yang cukup pelik ini. Dan pak Kyai Ali Mustafa Yaqub mengatakan bahwa mempelajari ini adalah hal yang signifikan dan urgen, wajib dimiliki bagi seorang muslim yang mendambakan pemahaman hadits yang sehat dan tidak keluar dari koridor subtansial Islam selaku agama yang penuh dengan rahmat.

Demikian 3 jenjang yang ada dalam tataran khazanah hadits. Yang pertama adalah yang sudah marak diajarkan di berbagai lembaga pendidikan, maka harus senantiasa dipertahankan dan dikembangkan. Yang kedua dan ketiga masih hal yang ambigu di tatanan kurikulum keagamaan di berbagai institusi, merupakan tugas kita bersama untuk memperkenalkan hal ini kepada khalayak masyarakat, sehingga umat muslim mampu memahami agamanya secara kaffah dan paripurna.

Kemudian beliau mengisahkan sedikit tentang potongan perjalanan mencari ilmunya di Saudi Arabia. Menuturkan bahwa ketika sudah ditentukan siapa-siapa yang sudah masuk ke Universitas Madinah Islamiyah yakni sejumlah 300 orang, hanya 4 orang yang berani masuk ke fakultas Ilmu Hadits. Ketika ditanya mengapa dari jumlah sebanyak itu hanya 4 orang yang masuk ke sana, mereka yang tidak mengikutkan diri masuk ke fakultas Ushuluddin mengatakan bahwa mereka tidak mampu jika nanti disuruh untuk menghafal tahun wafat orang se-Madinah!

Sejenak sesudah menceritakan kisah perjalanannya, Pak Kyai mengatakan bahwa diantara ciri-ciri orang yang mendalami hadits adalah berani mengkritik dan siap dikritik. Kajian hadits, mulai awal kelahirannya sampai menua di masa kini, kaya akan penelitian. Sarat perbedaan pendapat, dunia hadits dunia yang ramai kritik, semua berhak untuk menyuarakan kebenaran, semua berhak untuk menghilangkan keraguan yang hinggap dalam dunia hadits. Maka mengkritik dan dikritik merupakan bagian yang tak tak terpisahkan dalam kajian ini.

Dengan tutur kata yang jelas sekaligus menggetarkan, Pak Kyai bercerita tentang keutamaan Ummu Aiman, seorang perempuan paruh baya yang mengurusi Nabi pasca wafatnya Abdul Muthallib, kakek beliau. Kemudian dikisahkan pula cerita dan sepak terjang Anas bin Malik, sang pembantu keluarga Rasulullah Saw. betapa keduanya, yang merupakan sama-sama sebagai pembantu dalam kehidupan Rasulullah Saw., namun oleh Allah tinggikan derajat mereka sedemikian mulia.

Ia bukanlah pembantu kerajaan ataupun pengabdi seorang kaisar yang memiliki tanah kekuasaan setengah bumi, mereka adalah pembantu Rasulullah Saw., pengabdi sekaligus kekasih-nya, namun Allah Swt angkat derajatnya jauh melebih seorang raja dan kaisar sekalipun! Hingga kini, tertulis ataupun terucap, jika menyebut nama mereka (para pembantu Rasulullah Saw) selalu diiringi dibelakangnya kalimat “Radhiyallahu Anhu/Anha”, “Semoga Allah Meridhai-Nya!”. Sungguh betapa agung dan mulianya pangkat itu!

“Maka, apakah kita bisa menjadi seperti mereka, menjadi kalangan yang semoga saja diridhoi Tuhan?” Dengan nada suara yang agak mengecil, seakan runtuh tangisnya, beliau (Pak Kyai) menjawab : “Bisa!”, dengan nada yang mengguntur

Salah satunya adalah dengan cara mencemplungkan diri menjadi seorang yang bergelut dalam kajian hadits. Menjadi pengkaji hadits yang punya nalar kritis, menyebar hadits shahih dan memberantas habis segala macam pemalsuan atas nama Nabi Saw. membela keautentikan sunnah-nya dari tangan-tangan jahil yang hendak menodainya.

Dan anda, yang mengikuti pelatihan relevansi takhrij masa kini dan metode memahami hadits dengan benar, bisa jadi termasuk dalam barisan mereka, para pengkaji hadits sekaligus menjabat sebagai pembantu Rasulullah Saw., yang semoga saja, dengan demikian, derajat kita di angkat oleh Allah Swt sebagaimana Allah mengangkat derajat para sahabat dan pembantu Rasulullah Saw yang rela mengabdikan dirinya untuk mengabdi menjunjung tinggi kalimat Allah Swt lewat bidang satu ini, yakni sebagai pemelihara Sunnah-nya di tengah gempuran musuh yang berniat untuk menghancurkannya.

Wallahul Muhdi Ila Ahdas-Sabiil,

Sabtu, 23 Mei 2015. Darus-Sunnah, asrama kamar 4. 23:17

 السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Komentar

Google + Follower's