Ayok, Semangat Lagie...!!!

Di pagi yang bersih udaranya ini biarkan aku menoreh kata-kata, menggurat hitam di atas putih.

“Waktu adalah kekayaan terbesar yang dimiliki manusia. Layaknya kekayaan, ia bisa membuat kita hebat dan bersinar, namun kerap melemahkan dan menciptakan temaram. Maka, kualitas seseorang ditentukan dari seberapa hebat ia mengatur waktu, mengendalikan dan mengapresiasikannya ke dalam kegiatan yang bernilai positif dan memiliki laba!

Ambillah sebuah contoh, yakni Issac Newton, seorang pakar fisika abad 19 yang namanya terpagut di deretan no 2 di antara 100 tokoh berpengaruh sepanjang sejarah menurut sejawan ternama Michael Hart, namanya yang kini membumbung tinggi adalah berkat kerja keras dan upaya kesungguh-sungguhanya dalam menggunakan waktu.

Pagi ia isi dengan membaca, siang menulis, malam melakukan eksperimen hasil temuannya. Semua dilakukan dengan konsisten, keringat mengucur berkesinambungan, semangat yang menyala terus membuat dirinya bergerak layaknya mesin uap yang dipadati tumpukan arang yang membara. Sedikit istirahat, karena ia yakin hidup ini adalah ladang bekerja, hidup yang singkat ini amat sia-sia jika dibuang untuk istirahat yang berlebihan, maka bekerja menggapai temuan dan meraih prestasi adalah hal yang harus wajib dilakukan. Sedikit makan, makan hanya sekedar meluruskan tulang belakag, tidak kurang sehingga melemahkan daya gerak, tidak lebih sehingga tubuh terasa berat untuk beraktifitas.

Bisa juga kita petik pelajaran dari Ir. Habibie, mantan presiden RI sekaligus pakar ilmu tekhnik dan penerbangan, akibat rentetan semangat yang beliau gagas dalam berbagai aktifitas positifnya, diiringi dengan manajemen waktu yang baik dan rapi, maka waktu 24 jam yang dia miliki itu mampu menelurkan hasil yang cukup gemilang.

Saksikan, antara beliau dengan para penganggur yang mangkal di pinggir-pinggir jalan memiliki kesamaan, keduanya sama-sama memiliki waktu dalam sehari sebanyak 24 jam, seminggu sama-sama ada 7 hari. Lantas mengapa keduanya berbeda? Mengapa yang satu dikenal sejarah dan yang satu luput dari tinta kenangan peradaban? Ada apa gerangan?

Pengaturan waktulah yang menyebabkan itu semua terjadi. Pak Habibie tentu amat ketat dalam menggaris peta perjalanan kehidupannya, waktu yang diberikan oleh Tuhan adalah karunia besar yang harus ia syukuri, syukur itu ia presentasikan lewat pengaturan detik yang begitu rapi dan terencana, target jangka pendek maupun panjang telah dihunjamkan dalam peta kegiatan. Berbeda dengan para penganggur, waktu yang mereka miliki tidak diatur dengan baik dan tampak berantakan. Pagi-malam tak ada agenda yang mengungkungnya. Tak ada target, tak ada batas pencapaian, tak ada kejutan besar yang ingin mereka raih!

Maka, di Kamis tanggal 09 bulan 07 tahun 2015 ini, semoga datang kembali semangat yang beberapa hari sempat kabur meninggalkan diri. Badai hitam berupa kemalasan tiba meredam cahaya mentari. Ghirah menjadi temaram. Ini adalah posisi yang amat tidak menguntungkan, lebih baik bodoh namun sudi bekerja keras, daripada pintar tapi punya sikap Malas! Begitu petuah tetua.

Berharap tungku semangat kembali menyala! Mentari tiba menyibak pekat nan gelap! Air bah tiba mengobati tanah yang gersang dicekam kemarau! Kopi menjadi stimulus pelibas rasa kantuk! Kekasih menjadi pelipur lara yang dikasihi! Tuhan menjadi tempat bermuara segala keluh dan kesah hamba!

Sekian, atur waktu dan gagas garis pencapaian hidup anda! "

Jakarta, 09 Juli 2015. 09:17


Komentar

Google + Follower's