Galileo Galilei & Paham Heliosentris


Penulis : Tasman Mahmud Syukri
Judul : Galileo Menyingkap Kebenaran
Penerbit : Gema Insani
Tempat : Jakarta
Tahun : 2005
Tebal : 192 halaman

Sebuah perdebatan dua opini tentang hakikat semesta mencuat ke permukaan pada abad 15 di dunia katolik Roma. Pendapat pertama menyebutkan bahwa bumi sebagai pusat peredaran alam semesta, matahari dan milyaran planet lainnya bergerak

berotasi mengelilingi bumi, pendapat ini dikenal dengan paham Geosentris. Pendapat kedua berbunyi bahwa yang berdiri sebagai pusat rotasi adalah Matahari, bukan bumi, berbeda dengan pendapat pertama, pendapat ini mengatakan bahwa yang bergerak mengelilingi matahari adalah bumi dan sekian planet lainnya, paham ini dinamai dengan Heliosentris.

Pendapat pertama, yakni paham geosentris, dipegang kuat oleh Pihak Gereja Katolik Roma yang berpusat di Italia, pernyataan ini diambil dari apa yang telah dikemukakan oleh seorang filsuf Yunani yang hidup pada abad 4 sebelum Masehi, Aristoteles.

Gereja pada abad ke 15 dan beberapa abad sebelumnya (pra-renaissans) merupakan pemilik otoritas hukum dalam dunia kristen, dogma yang dibawa oleh pihak gereja memiliki hak preogatif dalam menetukan baik atau tidaknya sesuatu. Maka segala macam tindakan dan hasil penelitian yang bertentangan dengan doktrin Gereja Katolik saat itu, ia berhak disalahkan dan dieksekusi.

Bagi pihak gereja, segala sesuatu yang menurut al-Kitab itu salah dan bertentangan, maka ia tidak bisa diterima oleh masyarakat. Segala macam produk ilmu pengetahuan saat itu sebelum diluncurkan ke muka publik haruslah di lulus-ujikan oleh pihak gereja.  Dan paham Heliosentris termasuk satu bagian yang menurut mereka bertentangan dengan al-Kitab dan wajib untuk ditentang.

Pendapat kedua, paham heliosentris, digenggam erat oleh Copernicus, matematikawan dan fisikawan ternama abad 15 di asal Polandia, yang kemudian dilanjutkan oleh Galileo Galilei, fisikawan dan astronom ternama abad 16-17 kelahiran (05/02/1564) Italia, sebuah daerah pusat pemerintahan katolik Roma. Paham yang diusung oleh kedua tokoh ini dengan amat terang bersebrangan dengan dogma kristen katolik. Yang atas dasar itu, suatu hal yang tak bisa dielakkan, Galileo sang jenius yang menjabat sebagai matematikawan dan fisikawan istana ini dipaksa untuk hadir untuk menjadi terdakwa di Mahakmah Agung Dinas Suci Inkuisisi Gereja Katolik Roma.

Galileo dan beberapa orang yang sepaham dengannya dikcuilkan di sebarluaskan fitnah untuk menjatuhkannya oleh pihak gereja. Dengan tegas, akhirnya pihak Mahkamah Gereja mewajibkan Galileo untuk melapor secara rutin ke pihak Mahkamah, buah karyanya dihentikan beredar dan ruang penelitannya dipersempit, meski demikian, ia tetap produktif menelurkan ide pemikirannya dalam bentuk tulisan dan dikirim ke luar Italia untuk disebarluaskan kepada dunia.

Karena intimidasi fisik dan batin yang dilayangkan kepadanya, maka mulai bersemai dalam dirinya penyakit yang melemahkan tubuhnya. Ia mengalami komplikasi penyakit seperti gagal ginjal, demam, dan lain sebagainya. Sampai pada sore hari tanggal  8 Januari 1642 Galileo menutup nafas, ruh nya meninggalkan raganya saat ide pemikirannya telah dengan berani menyuarakan kebenaran ke muka dunia, meski telah menanggung beban panjang nan berat tak berkesudahan.

Bukan hanya dia, disebutkan dalam literatur sejarah bahwa seorang ilmuwan abad 17, pastor Dominikan Bruno, lantaran mengatakan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari ia terpaksa diseret menuju tungku pembakaran, dibakar hidup-hidup karena pendapat yang ia kemukakan bertentangan dengan otoritas gereja Katolik.

Semua yang dipaparkan di atas adalah interpretasi bahwa Injil yang dimiliki oleh umat nasrani tidak lagi asli dan banyak intervensi pemuka agama di dalamnya. Dalam buku ini (Galileo Menyingkap Kebenaran : 2005) disebutkan bahwa beberapa sarjana mengadakan penelitian terhadap eksistensi al-Kitab di seluruh dunia selama 6 tahun, dan hasil yang mengejutkan lahir, hampir 50 persen injil-injil yang ada tidak tetap, dalam artian ia selalu berubah tiap tahunnya, ada intervensi pihak gereja yang mengutak-atik kesakralannya.

Lagipula, jika dia murni inti kebenaran dari Tuhan, mana mungkin bertentangan dengan hasil penelitian para ilmuwan yang semakin berkembang tiap zamannya. Akankah Tuhan yang Menciptakan Semesta keliru dan luput dalam menanggapi fakta penemuan ilmiah itu. Sudah jelas bahwa ini merupakan kebobrokan kaum nasrani dalam mengimani kitabnya.

Jauh berbeda dengan itu, Islam tampil dengan gaya yang mengagumkan. Agama dan Sains mampu berjalan bergandengan, sepaham dan saling topang menopang antara teks agama dengan realitas penemuan. Kita saksikan banyak sekali fakta penemuan ilmiah yang memang sudah tersurat dalam al-Qur’an, al-Qur’an tak menyangkal malah menjadi bahan penguat hipotesa yang dijajakan.

Termasuk dalam teori Heliosentris yang dikemukakan oleh Copernicus dan Galileo, yang meski asumsi tersebut kaya dengan bukti ilmiah, namun mendapat tentangan keras dari pihak Gereja[1] dengan mengatakan bahwa itu adalah bagian dari bid’ah, Al-Qur’an[2] hadir menjawab tudingan tersebut dan membenarkan apa yang dikatakan oleh Galileo.

Semoga kita mampu mengambil hikmah dari semua ini, berikut saya kutip penggalan kalimat yang diucapkan oleh seorang pengkaji keagamaan ternama, Karen Amtrong, terkait Islam yang dalam doktrinnya mengungkapkan bahwa agama dan sains mampu berjalan bersamaan :

“Kaum Muslim didorong untuk memperhatikan tanda-tanda alam dan menelitinya dengan hati-hati. sikap ini membantu melahirkan rasa ingin tahu yang cerdas, yang memungkinkan kaum muslimin mengembangkan tradisi ilmu alam dan matematika yang menonjol. Tidak pernah ada pertentangan antara penyelidikan ilmiah rasional dan agama dalam tradisi Islam, seperti yang terjadi pada (tradisi) Ktisten. Dalam ajaran Kristen kadang-kadang terdapat pandangan yang agak pesimistis tentang alam yang diyakini terjerumus dari kesempurnaan awalnya akibat dosa manusia.”[3]

Warung Berkah, Pondok Betung, 01 Juni 2015, 21:09         

Galileo adalah seorang kristen yang taat yang secara tidak langsung mengkritik subtansi yang dikandung alkitab. Itu terbukti saat ia dengan teguh membela paham heliosentrisnya. Bahwa ternyata anggapan bumi sebagai pusat semesta, roma sebagai pusat dunia, dan paus adalah manusia yang anti dosa itu semuanya keliru.

Galileo, meski pada akhirnya ia menyatakan tunduk kepada gereja, mengakui kesalahan dan kekeliruannya dalam berpandangan tentang semesta sekaligus mengutuk paham heliosentrisnya, namun, saat ia bangkit dari ruku (untuk menyatakan tunduk kepada otoritas gereja tersbut), ia tetap menggumamkan kalimat “Eppur Si Muove” (Namun bumi masih bergerak), sambil mendongakkan kepalanya ke angkasa raya.

Bukan hanya dalam hal itu, dalam masalah gravitasi pun keduanya berbeda pendapat. Aristoteles mengatakan bahwa dua buah benda yang berlainan beratnya jika dijatuhkan dari ketinggian sekian maka yang akan tiba duluan di muka bumi adaah yang berat dahulu. Namun Galileo mengatakan bahwa meski berlainan massa benda yang dijatuhkan, jatunya tetap akan serentak.

Galileo merupakan ilmuwan eksperimentalia yang termegah pada abad ke 17 di Benua Eropa. Cendekiawan yang sezaman dengan Paus Urbanus VIII ini dikenal sebagai orang yang lincah dalam penelitian. Hatinya mudah gundah kalau menmukan sebuah ide namun tertunda mengeksprimenkannya.

Pada tahun 1992, kira-kira 350 tahun pasca pemasungan paham heliosentris, Paus Yohanes Paulus II, Paus yang dikenal sebagai yang paling bijak dari beberapa Paus yang ada, menyatakan permintaan maaf atas eksekusi yang dilakukan oleh Pihak Gereja kepada Galileo. Itu semua diungkapkan tatkala ide-ide yang dibawa kan oleh Galileo, yang dengan jelas bertentangan dengan teks Injil Kitab Mazmur, telah bersinar terang dan nyata terbukti dalam fakta penemuan ilmiah modern. Karena jika Gereja tetap ngoyo mempertahankan argumentasinya, hal itu tentu hanya akan mengundang tawa saja.

 Tasman mahmud syukri (penulis buku ini ) adalah bagian dari wahabi. Karena dalam satu tulisannya di  halaman 127 buku ini ia menerangkan bahwa kebenaran yang dihasilkan oleh prasangka adalah tidak otoritatif dibanding yang murni dari hasil penelitian. Dan ia menanggap bahwa orang-orang yang menganggap bahwa bid’ah hasanah sebagai perbuatan yang baik itu termasuk di dalamnya. Yakni golongan yang hanya dituntun oleh prasangka semata. Ia juga menganut paham Arab sentris (lihat hal. 128). Dan faktanya beliau adalah murid dari murid langsung Imam Nashiruddin Al-Albani.

Diselesaikan di kamar 5 asrama Darus-Sunnah, Sabtu 06 Juni 2015, 23:40



[1] Disebutkan dalam Mazmur (104) : 1-5 “Oh Tuhanku, Kaulah Mahabesar... Kau Pancangkan bumi pada fondasinya, tiada bergerak untuk selamanya.”
[2] Isyarat dalam al-Qur’an, pada surat ali Imran ayat 190 : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit-langit dan bumi, dan (dalam) perbedaan malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.”
Al-Qur’an memang tidak menjelaskan secara gamblang, namun perasaan ingin tahu yang menggebu-gebu dalam jiwa Galileo saat membuktikan paham Heliosentrinya cukup menginterpretasikan bahwa dia termasuk orang yang berakal.
Dan penemuan-penemuan ilmiah di kemudian hari yang mengamini asumsi Galileo ini memperkuat otensitas asumsi Galileo.
[3] Tasman Mahmud Syukri, Galileo Menyingkap Kebenaran, (Jakarta: Gema Insani, 2005), hal. 55-56

Komentar

Google + Follower's