Harapan, Harta Berharga Milik Manusia


Jangan pernah berhenti berharap. Karena harapan merupakan salah satu kekayaan terbesar yang dimiliki manusia yang harus dijaga dan dilestarikan sekuat tenaga. Harapan yang selalu bersemayam di dalam jiwa, diikuti semangat yang menggelora, maka akan melahirkan karya nyata dalam hidup

Seorang pemenang yang berhasil menjinakkan ribuan tantangan dalam hidupnya adalah berawal dari harapan. Harapan yang mendekam dalam hatinya memacu dia agar terus bergerak membanting tulang dengan segenap kemampuannya. Hal itu dikarenakan dia sadar, ada secercah cahaya menggantung di kejauhan di sana yang harus disongsong dengan perjuangan berat nan menguras bulir keringat.

Para penemu, seperti Newton, Alexander Graham Bell, Avicena, Averost, Ibnu Khaldun, Alfa Edison, Wright bersaudara, Enstein, dan lain sebagainya juga memulai menggoreskan sejarah dari harapan yang bersemai dalam jiwanya. Harapan yang tumbuh subur di dalam dirinya disirami dengan air jernih, ditaburi rabuk, disiangi, dihempaskan hama yang mengganggu, dilindungi, dan dirawat dengan sebaik-baiknya. Maka tak usah kaget, dengan perjuangannya yang begitu trengginas, akhirnya ia mampu menuai pohon yang lebat dan rimbun buahnya. 

Ini adalah keajaiban yang lahir dari harapan. Ia menelurkan kebahagiaan sejati. Ia menghasilkan kesejahteraan abadi. Ia menciptakan formulasi bagaimana meraih kesuksesan dengan langkah terbaik dan dinamis. Sesiapa yang rajin memelihara harapan, menumbuhsuburkannya, maka akan memetik buah yang menjuntai dari pohon kesuksesan yang telah ia siram dengan pupuk pengorbanan dan perjuangan

Masalah yang datang silih berganti menemani kehidupan, seharusnya tak menjadikan kita putus harapan. Ingat, bahwa Allah Swt berfirman dalam al-Qur’an surat Al-Insyirah : “Sesungguhnya pada setiap kesulitan akan ada kemudahan.” Bahkan, demi meyakinkan manusia bahwa itu adalah benar adanya, Allah Swt mengulangnya pada kali kedua dengan redaksi yang sama. Maka, apakah kita tidak menangkap motovasi yang besar dari Allah yang diperuntukkan perbaikan manusia tersebut?
Dan juga, selama iman masih tinggal bersama kita, selama itu harapan akan selalu berkembang dan menghunjam akar-nya ke relung jiwa. pernah Allah berfirman dalam kitab-Nya, “Dan janganlah kamu putus asa, karena tidak ada yang putus asa dari rahmat Allah melainkan orang-orang kafir saja.”

Iman yang melekat di hati akan selalu menjadi cemeti demi berlarinya kuda di pentas balapan, berjibaku menggapai kesuksesan yang dijajakan di garis finish di hadapannya. Senantiasa ia yakin, ia melakukan perjuangan dan pengorbanan dalam hidupnya tak akan bernilai kosong di mata Allah, selalu ada ganjaran yang mengiringinya. Dan Janganlah kalian pangkas harapan yang tengah bersemai mencari klimaksnya di palung jiwa itu wahai orang beriman, karena tidaklah kalian memangkas tangkai harapan tersebut melainkan kalian telah lupa akan nikmat dan janji-janji yang Allah Swt tetapkan.

Berjuang, meski jalan kian gelap, pintu keluar tak kunjung dijumpa, mentari sudah redup diliputi kelabut malam, selama kita memiliki harapan, kita harus berjalan, tak boleh berhenti mati langkah, busungkan harapan dan terus berusaha, nobatkan dalam hati bahwa di depan sana ada sekelumit cahaya menunggu kita.

Orang yang tidak mempunyai harapan dalam hidupnya nyatanya ia telah mati sebelum Izrail benar-benar tiba untuk menjemputnya. Ia membunuh diri sendiri dengan cara meraibkan harapan dalam hati. Manusia apapun yang tak ada bersamanya sebilah harapan, laksana terjebak di tengah kegelapan, terengah-engah mengais cahaya namun tak kunjung mendekapnya.

Semoga kita mampu membaca sinyal harapan tersebut dengan benar. Semoga kode yang Allah berikan mampu kita telaah dengan baik dan fokus. Semoga semua indera kita, bukan hanya yang lima, yakni hati, bisa selalu terbuka dan mampu menerima siraman pelajaran yang Allah berikan kepada kita. Amien.

Hanya kepada Allah-lah kita menambatkan harapan. J

Selasa, 14 Juli 2015, 06:19, Warung Berkah.

Komentar

Google + Follower's