Hikmah Yang Tertabur Lalu Dihimpun

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

“Barangsiapa diberi hikmah, maka seakan ia diberi kebaikan tiada terkira”
(Firman Allah Swt)

Terlepas dari ragam pendapat yang dikeluarkan oleh para ahli tafsir terkait interpretasi dari ayat ini, saya mengartikan bahwa hikmah adalah pelajaran yang bermanfaat. Jernihnya penglihatan, awasnya pendengaran, tajamnya penciuman, dan bentuk kemumpunian indera kita yang lainnya dalam menangkap hikmah yang ditaburkan oleh Tuhan merupakan sebuah karunia yang luar biasa.

Bukan dengan hampa makna dan miskin pelajaran Allah Swt membentangkan semesta dan menaruh di dalamnya kehidupan. Setiap yang bergerak dan segala yang terhempas semua telah tersurat di dalam perbendaharaan kitab-Nya lengkap dengan hikmah yang dikandungnya. Allah menghendaki sesuatu peristiwa lengkap dengan kehebatan subtantif yang dilahirkannya. Allah Swt merupakan Tuhan yang amat pengasih dengan hamba-Nya, curahan rahmat-Nya yang begitu meruah ditumpahkan kepada makhluk-Nya, yang dikehendaki berhak mengambil dan mengonsumsi, dan tugas kita untuk mensyukurinya.

Begitupun saya, begitu banyak hikmah yang dipersembahkan namun kerap kali jiwa kurang siap untuk menerimanya. Gunug yang megah dan indah terasa kabur karena pandangan dihinggapi jelaga yang menyekap. Mata yang terpancang belum lagi tajam, telinga yang bertengger belum lagi peka, hati yang tercipta belum lagi terbuka untuk menyaksikan curahan niikmat-Nya.

Hal ini yang tengah kuasah. Sebuah ketelitian amat diperlukan, butuh metode yang cerdas dan berani untuk menemukan sebuah hakikat hikmah. Berikut akan saya uraikan perihal hikmah yang mampu saya himpun dan mampu saya ikat dalam benak dari apa yang tercecer di sekeliling, menghimpun yang berserakan untuk diambil pelajran, lalu tak lupa untuk kemudikan ditanamkan dalam relung terdalam jiwa. Dan semoga itu terpatri dalam hati. Dan berpotensi mengkristalkan diri.

Ayah : Usianya yang sudah 63 tidak membuatnya berhenti untuk bekerja menyambung kehidupan anak dan keluarganya. Sosok yang tabah dan pemberani. Sesekali mendorong antaran galon, di kali yang lain berdiri tegak melontarkan  kalimat-kalimat tinggi membahana di depan muridnya agar selalu bekerja keras mencari ilmu, berlelah-payah menggapai hikmah.

Pak Kyai Ali M. Ya’qub : Sama, di usianya yang mendekati 64 beliau maih tetap gagah. Uban yang memutih dan kulit yang mulai menggelambir meretas anak sungai tak menyurutkan tekadnya untuk berdakwah menebarkan kebenaran. Jalannya yang tegap, suaranya yang menghentak, keberaniannya yang memuncak, serta ilmunya yang melimpah membuat dirinya disegani oleh segala lapisan masyarakat.

Ust. Andi : Organisatoris Hafidz dan Muhaddits. Tiga jabatan itu dipegang secara bersamaan oleh satu orang. Sungguh bukan pekerjaan yang mudah manakala ketiganya bisa mendapatkan hasil yang sama-sama memuaskan. Merupakan kendala dan bisa dikatakan pemghambat, jika pegiat salah satu bidang yang tiga itu berkecimpung pula di bidang yang lain. Namun, di tangan beliau, semua bisa diatasi. Kalau kita mau menseriusi kita akan menguasai, katanya kepada kami. Mampu? Mampu!

Satu ungkapan yang saya ingat dari beliau : Terus pekerjakan diri anda selagi muda, anda tidur atau tidak tidur, bekerja atau menganggur badan pada akhirnya akan sama-sama merasa lelah. Maka dari itu, lebih baik kita berlelah yang menghasilkan, serta meninggalkan jauh-jauh perkara yang merugikan! Bisa? BISA!!! Yakin? Haqqul Yaqiin!!!

Kang Hanif : Guru, Penulis, Orator, Bergerak dinamis tanpa kenal lelah. Saya salut dengan beliau karena kesehariannya yang begitu bersemangat dan mampu memantik bara kehidupan. Lantaran keseriusannya dalam mengabdi kepada pondok, ia rela dengan umur yang sudah seharusnya kepala 1, tetap membujang, mendermakan tenaganya untuk menjaga pondok tetap menyala. Bukan hanya itu, di belakang masjid Munirah Salamah, ada sebuah ruangan yang dia sulap menjadi ruang untuk ber-kontemplasi, mentafakkuri serta menikmati kehidupan. Buku dan pena adalah sahabat dekatnya. Diskusi dan debat adalah saudara karibnya. Beliau istimewa karena disamping kesibukannya memperkaya potensi dan menebar ilmu kepada yang kehausan, tetap rajin menyimpuhkan diri rumah Allah, masuk ke dalam barisan orang-orang yang ruku’ dan bersujud menyungkurkan dahi. Subhanallah.

Dan masih banyak lagi. Entah mengapa, baru mengurai beberapa tokoh tangan terasa letih, ingin diistirahatkan...

Warung Berkah, Selasa 09 Juni 2015, 13:18


 السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Komentar

Google + Follower's