Meet With Mun'im Sirry

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Pada sebuah malam di Legoso, di Cafe Takuy, kami anggota IKBAL berkumpul bersama dengan pak Mun’im Sirry, PH. d. alumni Ponpes Al-Amien Prenduan Madura, sekaligus penulis yang dikenal Liberal yang kemarin baru saja menulis sebuah buku yang cukup menarik  berjudul Kontroversi Islam Awal. Menamatkan gelar doktor nya di sebuah Universitas di Chicago.

Dalam kalimat panjang yang dia uraikan, ada beberapa hal yang saya catat :

Untuk memahami sebuah aliran, anda harus masuk dan terlibat di dalamnya. Beliau pernah ingin mendalami gerakan salafiyah, maka kemudian beliau memasuki gerakan tersebut dan berusaha melebur di dalamnya.  Tanpa ada tendensi dan keraguan saat menyelami doktrin yang tengah dia perdalami. 

Bahkan beliau sempat masuk ke dalam barsan kaum fundamentaslime di Pakistan, ikut latihan perang, menembaki replika musuh di angkasa dengan sbeuah basoka yang besarnya lebih raksasa dari bahunya yang melekat di pundaknya. Pengalaman yang amat menarik untuk diingat kata beliau adalah saat ia berusaha menembakkan basoka tersbut maka saking apinya yang keluar terlalu besar dari mulut basoka, maka membakar alisnya yang sebelah kanan dan menghanguskannya.

Ini adalah sebuah harga yang harus dibayar untuk sebuah pendalaman

Tak lama setelah itu, ia berpindah ke aliran wahabiah.  Saat-saat ia berkutat dengan paham yang diusung oleh Abdul Wahab ini ia benar-benar meraskan ketenangan, karena dengan langsung ia berinteraksi dengan dua kitab utama milik umat islam yang teramat kokoh, Al-Qur’an dan Hadits. Namun,entah karena alasan apa, ia mulai jenuh dan semakin janggal untuk diterima akal.

Beliau juga memaparkan alasan mengapa umat wahabiah begitu konservatif dan cenderung memaksa siapun agar masuk ke dalam pemahamannya. Itu dikarenakan mereka pun ternyata dipaksa oleh guru-guru mereka, dan guru-guru mereka diancam oleh para amir-amir kerajaan. Maka ini merupakan tindakan intimidasi pemahaman keagamaan berantai yang dilakukan oleh kaum puritan tersebut.

Konsep kenabian antara islam berbeda dengan kristen. Dalam Islam Nabi dikenal sebagai sosok pembawa wahyu yang bertugas untuk menyebarkan risalah kepada umat manusia dan mereka merupakan orang yang maksum, yang telah dijaga oleh Allah Swt dari dosa-dosa. Sedang dalam kristen adalah tidak. Maka dari itu, kita dapati dalam beberapa literatur dalam alKitab menyebutkan bahwa Nabi Daud as pernah menyetubuhi tetangganya, dan lain sebagainya.

Bagi mereka (nasrani) konsep seperti itu adalah benar. Karena Nabi yang memiliki kesamaan dengan manusia, yakni sama-sama berstatus sebagai orang yang memiliki dosa, bisa lebih diterima ketimbang Nabi adalah sosok mnausia pilihan laksana malaikat yang tak bisa disepadani dengan manusia biasa.

Padahal tidak demikian. Nabi yang Allah utus untuk manusia merupakan sebuah suri tauladan yang harus dicontoh oleh manusia demi tercapainya kebaikan, maka tentunya ia harus berasal dari manusia pilihan. Bukan hampa akan dosa, mereka juga sama-sama bisa berbuat kesalahan, hanya saja Allah telah mengaturnya agar dosa dan kesalahan yang mereka lakukan tidak berdampak negraif atas perintah para Nabi sebagai penyampai wahyu dan juga sebagai tokoh panutan umat manusia.

Toleransi adalah mentolerir apa yang tidak sejalan dengan hasrat kita.

Cafe Takuy, Legoso, Rabu Malam 10 Juni 2015


 السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Komentar

Google + Follower's