Menikah? Belum Waktunya!

Hari ini keluarga besan dari saudara perempuan saya tiba, melangsungkan ramah tamah pasca idul fitri 1436 H di rumah. Segala kebutuhan disiapkan, karpet, tikar, sayur asem, buah-buahan, dan macam-macam tetek bengek lainnya. Semua harus dipersiapkan dengan matang dan istimewa, karena yang akan melawat adalah keluarga istimewa dan jarang-jarang pula kita berjumpa, begitu batin kita.

Setibanya disini kami bersalam-salaman, melepas kangen, membuka pintu maaf antar sesama jika ditemukan kekhilafan yang terbangun di antara kita selama berinteraksi mewarnai kehidupan.

Kemudian mangan-mangan, bergegas menyambut meja makan, mencangkul nasi dengan sendok, mengeruk lauk, menimba sayur asem, serta menaburinya dengan sedikit sambal. Mantap, semua sigap dan lahap. Kemudian kenyang yang bergantian menyusul, mengubah keadaan. Ngobrol-ngobrol jadi kembali bersemangat, karena perut sudah tidak lagi mengkeriut meronta-ronta meminta siraman gizi.

Saya saksikan, mengapa kedua keluarga yang berbeda ini dipersatukan, lalu kemudian terjalin keharmonisan yang begitu indah, mengapa bisa demikian? Itu lantaran ikatan pernikahan yang telah dibentang pada April 2015 kemarin. Ikatan suci itu telah menyatukan beberapa orang yang semula tidak saling kenal menjadi sebuah keluarga yang sarat kerukunan. Betapa indahnya...

karena apa barusan? Pernikahan? Pernikahaaannn...?!

mendengar kata pernikahan sebagian orang merasa senang, namun tak jarang jika banyak orang yang menjadikan pernikahan semacam sosok yang menyeramkan dan bertaring seribu, yang sanggup mengoyak kesejahteraan hidup.

Pernikahan di samping memiliki janji yang menggiurkan tentang ketenangan hidup, juga dituntut di dalamnya sebuah tanggungjawab yang tidak main-main demi lancarnya laju bahtera rumah tangga. Suka dan duka berbaur menjadi satu. Senang dan sedih diragi menjadi adonan yang wajib dicecap bagi penikmat pernikahan. getir dan pahit kehidupan kerap menyambar, namun mereka yang tangguh dan gagah dalam melakoni musibah yang datang pada akhirnya akan bisa melibas hambar, menghantam dan menghempaskan luka yang mendekam di dada.

Kesimpulannya, betapa pernikahan adalah sebuah pilihan. Memilih untuk menyanggupi kehidupan yang lebih serius dan menanggalkan masa muda yang gemerlap tak tentu gelap terangnya. Dan untuk itu semua, dibutuhkan persiapan yang matang dan bijaksana. Butuh perhitungan langkah dan takaran pikiran demi menyambut pernikahan.

Pertanyaannya sekarang, sudah siapkan anda untuk menikah? Beprindah haluan dari masa lajang yang terkadang membosankan namun banyak juga keceriaan terkandung di dalamnya, atau melangkah lebih serius untuk menjajaki samudra penrikahan yang mewajibkan tanggungjawab dan percaya diri tersemat di dada para pelakon? Coba pikirkan!

Tanpa pikir lama, saya akan menjawab tidak siap. Masih banyak yang perlu dipersiapkan demi menyambut hari yang besar nan berat itu. Saya masih minim syarat untuk memenuhi permintaan agar terajutnya ikatan nan suci itu. Lagi pula, lanjut ke jenjang pernikahan laksana menahkodai bahtera yang besar di tengah samudra nan luas, Butuh pengetahuan yang dalam dan luas agar kapal tidak larut dilamun ombak berkepanjangan, supaya badai yang menampar tak membuat kapal timpang dan doyong lalu menghempaskan penumpang ke dekapan samudra yang buas nan menakutkan, semoga selamat melabuh di dermaga pelabuhan taman impian.

Saya masih harus banyak belajar. Menyusuri dunia pernikahan adalah safari yang amat jauh, membutuhkan bekal yang cukup. Wajib bagi saya untuk lebih dalam mengeruk harta melimpah yang tertimbun di dalam diri. Masih banyak potensi-potensi yang setiap manusia dianugerahi oleh Tuhan, yang harus dikuak, menambang berlian yang tertanam di dasar! Dan aku belum merengkuhnya. *

Warung Berkah, 21 Juli 2015, 11:50



·        S2, 5 Buku, 30 Juz, 1 Set Mobil-Motor. 

Komentar

Google + Follower's