Tentang Cahaya, Cinta dan Canda Quraish Shihab (Biografi Quraish Shihab) Karya


Judul : Cahaya, Cinta dan Canda Quraish Shihab
Penulis :Mauluddin Anwar, Latief Siregar, Hadi Musthofa
Penerbit : Lentera Hati
Tempat : Jakarta
Tahun : 2015
Cetakan : 1
Tebal : 340 hal
Harga : 149.000
Waktu Membaca : 5 Hari 

_________________________________________________________________________________

Di usia 22 tahun, Quraish telah menulis buku berbahasa Arab, al-Khawathir, setebal 60 halaman. Hingga usia 70 tahun, Quraish menghasilkan puluhan buku yang seluruhnya berjumlah 24.251 halaman. Jika sebelum masa akli baligh (usia 14 tahun) tidak dihitung maka setiap harinya ia menulis rata-rata 1 ¼ halaman.

Sebagian besar bukunya berkali-kali cetak ulang dan menjadi best seller. Karya Quraish Shihab yang monumental adalah Tafsir al-Misbah setebal 10.000 halaman, terbagi 15 volume. Sebanyak 14 volume dituntaskannya dalam waktu kurang 3 tahun, saat Quraish menjabat Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir, Somalia, dan Jibuti.

“Popularitas di mata manusia bukanlah tujuan. Siapa yang mengidamkannya, sesunggunya ia kecil belaka. Luruskan niat, hindari gemerlap nya dunia, jauhilah aib dan keburukan.” Nasihat Habib, Bil faqih, pimpinan PP Darul Hadits, Malang, kepada Quraish Shihab.

“Satu hal yang sangat buruk, jika seseorang berhenti, di tempat dimana dia bisa berlanjut.” Penggalan Syair Mutanabbi, yang sering disortir Aba Abdurrahman, ayah Quraish Shihab, saat menggalakkan pengajaran keapda anaknya.

Qurasih menikah dengan fatmawati, gadis Solo pad umur ke 30. 2 Februari 1975, mereka disatukan oleh cinta. Qurash umur 30 dan fatmawati umur 20, umur keduanya terpaut 10 tahun.

“Tapi bagi fatmawati, sejak penrikahannya, sesungguhnya ia telah menjadi istri kedua. Quraish memiliki istri pertama yang lebih dicintainya. Quraish sering curhat, menangis, bercanda tawa, bahkan tidur dengan istri pertmanya, di kamar Fatma. Fatma kerap harus mengalah. Siapakah gerangan dia?

“Buku!”

Pesan Aba kepda Quraish Shihab, “berbaktlah kepada orang tuamu, niscaya anak-anakmu kelak akan berbakti kepadamu.”

“Namun demikian, dalam beberapa kesempatan, Quraish mengungkap kritik. Menurutnya, UIN saat ini, lebih lagi sekolah Pascasarjananya, berbeda dengan yang dikehendaki Harun Nasution dan Quraish. “Yang saya inginkan bukan menyandingkan ilmu agama dan ilmu umum. Bukan seperti al-Azhar Mesir, bukan seperti UII Yogyakarta. Bukan menyandingkan, tapi mengintegrasikan. Dan kritik saya, terutama untuk sekolah Pascasarjanaya, ruh keagamaannya makin tidak terasa. Sedangkan Pak Harun menghendaki sarjana UIN bisa menjadi mujtahid, menjadi pemikir yang melahirkan pendapat-pendapar baru, sesuai perkembangan zaman.” (195)

“wibawa itu tidak diciptakan lewat peraturan, tetapi dengan tingkah laku.”

“bertahun-tahun ia berkutat dengan beragam refrensi. “di depan saya ada 45 buku rujukan. Saya baca ini, ini, itu,” kata Quraish. Tiga tahun berlalu, 14 jilid tafsir al-Misbah rampung. Tinggal 1 jilid, digarap setelah pensiun (dari dubes RI di Mesir, pen). Ini buah kedisiplinan Quraish yang terasah sejak belia. Ia betah menulis 7 jam sehari. Bangun subuh, menulis 3 jam, baru ke kantor. Di kantor ia berkutat lagi berjam-jam.”

“keasyikan menulis menjadi obat penghilang rasa Nyeri.” (Quraish)

“Dalam berdebat, yang bersuara keras seolah-olah unggul. Yang banyak pendukunnya seakan-akan menang. Padahal belum tentu mereka benar.” (Quraish)

“Quraish juga menyukai tulisan-tulisan Anis Mansour (1925-2011), seorang jurnalis, filosof, sekaligus sastrawan. Sepanjang karir jurnalistiknya, Mansour pernah menjadi pemimpin redaksi pada 10 media besar di Mesir. Mansour mengidap penyakit Insomnia dan hanya tidur 2 jam per hari. Karena itulah ia sangat produktif, dalam sehari bisa menulis untuk 8 hingga 10 koran atau majalah.”

Pesan Harun Nasution kepada Cak Nur : “Kamu jangan ceramah terus. Menulislah! Kau punya tulisan itu kekal, ceramahmu dilupakan orang.”

Dalam bukunya Berguru ke Mahaguru, Muchlis M. Hanafi, manajer PSQ Jakarta mengungkapkan kekagumannya pada produktivitas kepenulisan Quraish. Di tengah kesibukannya yang padat, sebagai dosend an birokrat, Quraish mampu menulis. belum lagi undangan ceramah keagamaan atau seminar yang kerap dipenuhinya di sejumlah tempat. “Faktor utamanya, kare dia sangat menghormati waktu dan stiqomah. Ini juga menjadi tradisi para ulama terdahulu sehingga dapat mewarisi khazanah intelektual sedemikian banyak kepada kita,” ungkap Muchlis.

Quraish punya rahasia di balik produktivitas keoenulisannya : secangkir teh manis yang selalu menemani. Dan harus buatan sendiri. Bahkan teh racikan istrinya pun tak mempan di lidah Quraish. Kebiasaan ini sudah dijalaninya sejak kuliah di mesir. “Saya tidak bisa menulis tanpa minum teh buatan sendiri. Karena itu pada bulan puasa, saya tidak prodkti menulis.”

“Ilmu itu ibarat hewan buruan, dan tulisan adalah ibarat tali pengikatnya. Ikatlah hewan buruanmu dengan tali yang kuat.”

“pada kata pengantar tafsir al-Misbah, Quraish mengakui dirinya sangat dioengaruhi dan banyak merujuk tafsir karya Ibrahim bin Umar al-Biqa’i. Karya mufassi kelahiran Lebanon ini pula yang menjadi bahsan disertasi Quraish di Universitas Al-Azhar. Ia juga mengutip karya mufassir lain, seperti Muhammad At-Tanthawi, Mutawalli Sya’rawi, Sayyid Quthb, Muhammad Tahahir Ibnu Asyur, dan bahkan Sayyid Muhammad Husein Tabathaba’i yang beraliran Syi’ah. “Tapi sebagan lagi adalah pemikiran hasil Ijtihad Pak Quraish sendiri.”

“Allah merahmati seseorang yang mengetahui kadar dirinya. “ (Quraish)

Bersipongang : melengking
Humbalang : menghantam.


Buku ini saya beli tanggal 17 Juli 2015/ 1 Syawal 1436 H. Hari Jum’at. Dan lanngsung di lahap, tandas isi pada hari Rabu tanggal 22 Juli 2015 pukul 22.00

Komentar

  1. Sialan kau far... Kau habiskan semua buku2 itu..

    BalasHapus
  2. ... masih banyak yang ingin ku rengkuh. Namun fulus tak cukup memuaskan hasrat ini. :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Google + Follower's