Tentang Rantau 1 Muara

Di sore ini aku tuntas membaca Novel Rantau 1 Muara, lunas sudah mengarungi trilogi yang ditulis oleh Ahmad Fuadi sang Pewujud Mimpi ini. Semoga menjadi pelecut semangat, pemantik nyala bara perjuangan. Apa yang ditorehkan di dalam lembar demi lembar buku ini benar-benar membuat bulu kuduk merinding, bukan karena takut, indahnya susunan bahasa dan padatnya makna serta pesan perjuangan yang tak kenal lelah tertuang dengan detail di dalamnya-lah yang mampu menggetarkan.

Berangkat dari kata-kata bijak yang dihafalnya di pondok, Alif sang tokoh utama berusaha menerjemahkannya ke dalam langkah nyata. Barangsiapa bersungguh-sungguh maka dapatlah ia. Barangsiapa yang bersabar, maka ia akan beruntung. Barangsiapa berjalan di atas jalannya, maka sampailah ia.

Dengan harapan yang bersemai dalam hati, ditingkahi semangat yang meletup-letup, dihiasi dengan energi raksasa hasil peragian kalimat-kalimat bijak dari kyai di pondoknya dengan keyakinan yang membara, Alif mampu menggapai cita-cita yang digambarkannya di masa silam. Menjadi penulis, pergi ke Amerika, mendapatkan perempuan yang bukan hanya menjadi istri tercinta, melainkan mampu pula menjadi sahabat dekat serta tempat bercurah kisah yang otentik, dynamic duo yang berhasil menakhluki daratan Eropa, meraih kesejahteraan hidup yang nyata, serta mampu membuat bangga agama, bangsa, dan keluarga.

Semua berkat kegigihan yang mendarah-daging. Daya juang yang tinggi, yang tak lekang di panas tak lapuk di hujan telah mengalir di urat nadinya. Manik-manik keringat bercucuran dari kulit tubuhnya. Siang bekerja, malam menjadi sahirul layali. Perjuangan serta pengorbanan yang tidak mudah telah ia gelontorkan demi terbukanya pintu pengharapan, maka Tuhan menjawab do’a hamba-Nya, maka Tuhan menghargai jerih payah hamba-Nya. Ini adalah hukum kausalitas, hukum timbal balik, sunnatullah, MAN JADDA WAJADA!

Pelajaran yang bisa saya petik dari tuturan Ahmad Fuadi tentang sepak terjangnya menjajaki trengginasnya kehidupan yang dikemas dalam bentuk kisah menakjubkan ini adalah :

1.      Bahwa untuk meraih cita-cita dibutuhkan perjuangan yang tidak main-main. Dalam sebuah pepatah disebutkan (dan ini selalu diucapkan oleh KH. Idris Jauhari, salah satu kyai Ponpes Al-Amein kepada segenap santrinya agar terus berkarya melebihi orang lain) ”I’malu Fawqa Ma Amilu... “Bekerjalah di atas rata-rata orang lain.” Jika orang lain tidur jam 10 malam, maka tidurlah engkau pada jam 11 atau lebih, dan ingat selalu gunakan untuk hal positif. Jika orang lain membaca al-Qur’an One Day One Juz, maka kau harus mengaplikasikan gerakan One Day Two Juz. Jika orang lain membaca buku satu hari limapuluh halaman, maka kau harus membaca 60 halaman. Jika orang lain menulis dalam satu hari satu tulisan, kau harus mampu melabrak dirimu dengan tegas bahwa telah diwajibak bagi mu dalam sehari untuk meluluskan dua tulisan. Dengan demikian, insya Allah, Allah akan selalu menghargai apa yang kau usahakan.

2.      Untuk meraih cita-cita diwajibkan menyusun agenda kegiatan, mengatur langkah, menyiasati musuh dengan startegi jitu. Dengan demikian, langkah akan lebih teratur, laju perahu akan rapi dipandu navigasi serta petunjuk bintang di langit sana. Buatlah semisal dalam sehari wajib bagi diri saya menghafal al-Qur’an sebanyak satu halaman, mengulang hafalan sebanyak 3 juz, membaca 50 halaman (buku apa saja), menulis minimal hari 1 halaman. Suatu hal yang sering dilakukan akan menjadi kebiasaan, kebiasaan yang disinambungkan akan menjadi karakter, karakter lambat laun akan berubah menjadi kepribadian. Selamat, jika anda mampu menanam kebaikan dalam kesehariaan, sehingga anda mampu menuai kepribadian yang istimewa!

3.      Untuk mempercantik gaya tulisan dibutuhkan jam membaca yang melimpah, jam menulis yang tercurah. Seorang bisa karena biasa, biasakan diri untuk menulis, menggores hitam di atas putih, memagut kata ditemani rajin membaca. Patuti kata-kata dalam lembar-lembar yang ditulis oleh orang-orang besar agar anda juga mampu meraksasa. Tangkap pesan dan dekap hikmah yang mereka tuangkan dalam tulisan. Jadikan sebagai panutan dan pelajaran. Anda akan merangkak, berjalan, lalu lari kencang menyusul untuk menjadi orang yang anda idolakan. Menjadi besar di ranah sejarah. Menjadi istimewa di mata dunia.

Sekian, begitu banyak pelajaran yang bisa saya rengkuh dari novel tebal 400 halaman ini. Yang jelas, kisah yang dialami oleh Alif sang tokoh utama dalam novel ini benar-benar membuatku iri bukan kepalang. Kebaraniannya dalam mencoba, meski harus dilalui dengan ribuan kegagalan, memotivasi diri ini, bahwa selama kita punya harapan dan mau untuk berlelah payah, maka akan selalu ada secercah cahaya yang akan menggiring kita menuju taman impian!

Selasa (14/07/2015) 23:41

#dilamun ombak ditampar badai

Komentar

Google + Follower's