Tiada Hari Tanpa Menulis

Tiada hari tanpa menulis. Sesibuk apapun anda menjalani aktivitas, tetap curahkan sedikit waktu untuk sekedar menggoreskan pena, untuk mencipta kata-kata. Kepandaian menulis adalah hal yang menjadi barang primer buat kaum akademik. Bagaimana setiap harinya akan selalu ada tugas yang bertautan dengan dunia kepenulisan. Maka akademikus siapapun, yang tidak gemar untuk menulis, patut dipertanyakan, seberapa serius ia menjajaki bangku perkuliahan?

Menulis tidak lengkap tanpa membaca. Merangkai kata seperti tubuh yang bergerak, untuk melahirkan gerakan butuh asupan tenaga berupa makanan dan lain sebagainya. Maka, dalam hal ini membaca merupakan gzi terbaik yang wajib dikonsumsi untuk kawula yang merasa memiliki jiwa kepenulisan. Baris tulisan di buku-buku yang kita baca memberikan penyegaran pola pikir. Untaian bahasa dan kalimat yang memukau yang kita konsumsi saat membaca amat membantu kita dalam menggalakkan pengindahan serta pengayaan kata-kata saat menulis.

Beberapa kali saya dapati, bahwa ternyata banyak sekali penulis yang mahir mengolah kata adalah pernah bekerja sebagai warrtawan di suatu kabar harian. Sebut saja Ahmad Fuadi, penlis trilogi novel 5 menara, beliau merupakan seorang wartawan Tempo. Dan banyak lagi. Saya mengiyakan statement betapa menjadi wartawan amat berpengaruh untuk melanjutkan jenjang karir nya menuju penulis yang berharga. Seorang wartawan selain dituntut untuk mempunyai pola pikir yang kritis, juga diwajibkan untuk membaca sekian refrensi yang banyak, demi memperkaya perbendaharaan kata dalam tempurung kepalanya. Yang tentunya akan melancarkan kerja kepenulisan.

Kemudian saya berpikir, mungkin ada baiknya jika nanti setelah lulus melamar ke media harian seperti Republika, Kompas, Jawa Pos dan lain sebagainya. Hitung-hitung untuk mengasah kepandaian, kelak ketika sudah mumpuni, bisa pamit dan bersikap independen mnenjadi penulis berhaluan bebas. Saya berpikir bahwa mnejadi wartawan di harian media merupakan sekolah menulis yang baik.
Ayah, yang sedang bersama saya ketika membicarakan hal tersebut berpendapat, bahwa tak usah harus menjadi wartawan dulu untuk mahir dalam mengurai kata. Anda rajinkan saja membaca, galakkan memburu kalimat bertuah yang dijajakan di kitab-kitab istimewa, lalu tuangkan dalam bentuk tulisan, buat refleksi kehidupan anda dalam bentuk aksara. Demikian halnya dengan kerja wartawan di balik dinding-dinding kantor kerja mereka. Gemar membaca dan rutin memagut kata.

Belakangan ini rasa malas tampak hinggap menyelimuti tubuh. Inginnya selalu berkelumun di balik sarung, menutup mata, merajut rangkaian mimpi yang begitu indah. Puasa terkadang membuat badan lemah dan memotivasi untuk merebahkan tubuh di atas gundukan kapuk berbalut kain lembut.

Padahal jika mau ditakar dengan kualitas, berselancar di dunia kata-kata jauh lebih mengasyikkan daripada melanglangbuana di buaian mimpi. Selain memuaskan juga mencerdaskan.

Mematuti buku-buku dengan pembahasan berat, macam wacana sekuler dan liberal (ala Adian Husaini yang tegas menyerang kaum “Pemuja Kebebasan”), membuat dahi berkerut dan otak gerah mneyaksikan debat dan pertempuran intelektual yang begitu ramai mengisi ruang. Hal itu kadang membuat deg-degan, sampai juga pada titik yang jenuh membosankan.

Meski ilmu yang didapat jelas lebih akurat dan faktual dibandung karya-karya fiksi, namun terlalu serius menekuninya juga akan membuat kita menggaruk kepala. Kesulitan harus diimbangi dengan kemudahan. Masih dalam petualangan menakjubkan yang sama, yakni menyusuri dunia membaca, maka novel dengan ulasan ringan dan menariklah yang berpotensi pelipur lara.

Kemarin saya berkunjung ke Gramedia. Betapa senang hati jika diberi waktu menysuri selangkah demi selangkah rak buku yang tersedia. Tenggelam dalam lembar-lembar kertas yang memukau. Hanyut dalam kumpulan ilmu-ilmu baru yang dijajakan dengan sistematis dan tertata. Dalam sebuah toko cerah, ditemani karyawati yang jelita, dingin oleh AC pula. Indah dan membuat saya terkesima.

Pada satu rak khusus dipajang puluuhan buku dengan judul yang sama, ditata dengan rapi dikemas dengan tampilan yang menawan, sebuah novel berjudul Ayah karya penulis yang melegenda namanya, Andrea Hirata, nongkrong disana.

Menurut hasil penelusuran yang ditemukan, buku ini dubuat oleh penulisnya dalam krurun waktu 6 tahun. Bisa dibayangkan jika penulis Laskar Pelangi yang mumpuni membuat satu karya hingga 6 tahun lamanya, maka akan seranum apa buah yang dituai?

Ayah adalah sosok yang amat istimewa. Darinya kita banyak belajar tentang falsafah  kehidupan. Semua gerak-gerik yang kita punya adalah replika dari guru pertama, Ayah. Tokoh yang banyak berkorban demi sambungnya kehidupan. Kehidupan dalam arti bukan hanya membuat dapur mengepul karena tungku yang menyala, lebih dari itu semua, beliau-beliaulah yang telah membuka semesta pengetahuan, cakrawala hikmah yang luas nan menakjubkan.

Maka atas semua itu, sebagai dedikasi dan apresiasasi atas perjuangan yang kaum ayah berikan kepada anaknya, maka dibuatlah sebuah novel yang menarasikan sosok terhebat yang pernah ada, yang pernah kita jumpai di dunia-dan semoga di akhirat- nanti.

Dan insya Allah,lebaran yang diprediksikan akan turun dana dari saudara dan handa taulan yang berbaik hati akan menjadi momen yang cukup menggembirakan. Karena dengan lembaran uang yang saya punya, saya mampu membwa pulang novel Ayah yang saya idam-idamkan itu. Atau syukur2 jika sebelum masa itu tiba, saya bisa menikmatinya. Biarkan kasih sayang Tuhan menjawab do’a hamba-Nya yang hina ini, yang tengah berharap kiranya Ayah bisa segera hadir temani hari Raya Lebaran nan fitri tahun ini.  J J J


Warung Berkah, Ahad 12 Juli 2015, 15:03

Komentar

Google + Follower's