Tiada Muara Untuk Belajar (Catatan Wisuda Fushilat Oleh Khadim Ma'had)

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Dalam sebuah acara wisuda angkatan ke 13  yang dihelat oleh Darus-Sunnah kemarin, Khadim Ma’had memberikan ungkapan yang cukup menarik.

“Wisuda bukanlah akhir dari proses pembelajaran, akan tetapi ia adalah proses perpindahan kepada pembelajaran yang lebih serius dan bertanggungjawab!

Wisuda adalah akhir prosedural belajar kita di sebuah institusi pendidikan, namun tidak secara subtansial. Proses belajar yang membutuhkan waktu lama diakhiri dengan acara wisuda sebagai penutup. Banyak orang yang salah kaprah tatakala wisuda diartikan sebagai penutup belajar total, jadi pasca wisuda tak ada lagi pergelutan dengan buku-buku maupun diskusi atau berkunjung ke peprustakaan, dengan diadakannya wisuda lunaslah masa pembelajaran kita. Dan begitu realita mayoritas mengatakan.

Maka dari itu, Darus-Sunnah, selaku institusi pendidikan yang mengedepankan ke Istiqomah-an dalam belajar dan mengabdi, menekankan pentingnya agar wisuda tidak dijadikan sebagai puncak proses belajar mengajar. Masih ada tahap-tahap selanjutnya yang harus lebih diseriusi dan semakin dituntut untuk memikul tanggung-jawab yang lebih tinggi.

Kalau saat di pondok kita hanya berhadapan dengan teman dan guru, yang jika kita bertindak keliru masih ada dispensasi dan bisa dipahami, namun saat kita lulus masyarakatlah yang menjadi juri dari apa yang kita lakukan, yang tentu tingkat pemahamannya bisa dikatakan tidak se tolerir teman dan guru dalam ikatan akademis.

Ungkapan Khadim Ma’had amat realistis dan patut direnungkan secara mendalam. Seorang alumnus yang mengakhiri tindakan pembelajarannya maka seakan ia tak pernah belajar selamanya. Ilmu yang didapat itu harus selalu dikembangkan untuk kemudian diamalkan dan disebarluaskan. Dan itulah yang disebut dengan ilmu yang bermanfaat, yang darinya bisa mengalir berbagai kebaikan berupa manisfetasi pahala tatkala kita sudah tergolek diam berkalang tanah.

“Tiada muara dalam belajar, kita adalah penuntut ilmu hingga Hari Akhir nanti”

Kalimat pertama korelatif dengan kalimat kedua. Tak ada titik klimaks yang membatasi kita untuk berjuang menjemput ilmu pengetahuan. Tak ada garis Finish yang menghentikan kita untuk bergegas menyonsong hikmah yang ditaburkan. Kejar dan raih sebanyak-banyaknya, karena kita tetaplah menyandang gelar pemburu ilmu hingga ajal tiba. Jadilah orang yang kehausan akan ilmu pengetahuan sampai jantung tak lagi berdetak.

Khazanah ilmu yang ada di dunia ini adalah ruang tanpa batas. Tak akan pernah ada manusia yang mampu mahir dan cakap dalam segala bidang keilmuan. Mesti ada ketidaktahuan di balik kepandaian yang melekat dalam diri seseorang. Maka dari itu, tak ada batas akhir dalam belajar. Jangan tersekat dengan ruang dan waktu. Belajar itu bisa dimana dan kapan saja. Kalau kita memang niat melakukannya. Serius.

“Meski saya dan kalian berpisah, namun kalian adalah tetap anak-ku sampai kiamat”

Semoga kalian tidak menjadi Bangau yang mentang-mentang sudah mampu terbang mengangkasa lantas lupa tempat asalnya. Harus tetap terpatri dalam hati bahwa kita bisa seperti ini tidak dengan tempo sehari dua hari, ada masa yang menempa anda menjadi pribadi handal seperti ini, ada yang berkorban dengan tenaga yang ridak sedikit yang menyulap kita seperti ini. Meski kalian akan melanglangbuana usai ini, berpisah dengan kami dan pondok ini, tapi jangan jadikan semua itu hal yang bisa melalaikan kalian untuk terus mengharumkan citra pondok ini.

Merantau dan berkeliling dunia lah, tapi jangan dilupakan pondok di Pisangan Barat ini ayang telah membesarkan kalian. Semoga jerih payah dan peluh keirngat yang kami korbankan untuk mendidik dan menggembeleng potensi kalian menetes jatuh ke bersatu dengan darah kalian. Jadi kemanapun dan apapun yang anda lakukan selalu ada resonansi ke pondok ini. Maka dari itu, jangan men-stigmatisasi kan ladang tempat kalian memakan rumput-meminum sungai  dulu ini, akan tetapi harumkan dengan karya yang mampu membawa dunia menuju peradaban gemilang.

“Tetaplah jadi pembantu Rasulullah, yakni menebar hadits shahih, menjelaskan mana hadits yang shahih dan mana yang tidak, membela eksistensi hadits dri tangan-tangan usil, menyadarkan umat urgensitas hadits.”

Mahasantri Darus-Sunnah adalah segolongan manusia yang diperuntukkan menjadi pembantu Rasulullah Saw. Pembantu disini tidak diartikan dengan sosok yang berkhidmat saat yang dihidmati itu masih ada, akan tetapi Pembantu disini berarti lebih ekstensif, semua yang membantu dan memudahkan serta meringankan maka ia bisa disebut sebagai pembantu, meski yang dibantu telah tiada.

Kemudian beliau melanjutkan, membantu dalam artian menebarkan hadits-hadist shahih kepada masyarakat sebagai penunjuk menuju jalan kebenaran sebagaimana jalan  yang telah dititi para generasi terdahulu yang mulia. Shahih dalam hal matan, sanad, dan tata cara pemakaian hukum (Istidlal) hadits.

Memberi penyadaran kepada masyarakat tentang hadits yang cacat dan bahkan mengandung kepalsuan. Saat ini saat yang genting. Dimana para da’i-dai bersurban dengan ringan dan lantangnya mengutip hadits yang sudah dinilai lemah bahkan palsu tanpa menjelaskan kepalsuannya! Nah kita, selaku mahasiswa pengkaji hadits wajib untuk menyelamatkan manusia dari kekeliruan tersebut.

Turut andil dalam memberantas tangan-tangan usil yang ingin menodai ke sakral an hadits. Termasuk di dalamnya ulah orientalis serta beberapa gelintit umat Islam yang terpengaruh yang hendak mengoyak-ngoyak Signifikasni hadits sebagai otoritas hukum Islam.

Memberi penyuluhan kepada masyarakat awam tentang pentingnya hadits dalam Islam juga merupakan salah satu langkah membantu Rasulullah Saw. Maraknya paham dan ideologi sesat tak berdasar di tengah masyarakat membuat kita merasa empati untuk mengajarkan mereka hal ini. Bukankah Islam adalah agama wahya, yang maka semua pengantunya haruslah meniti jalan di atas jalur-jalur intuitif. Agar tetap selamat dan mendapat rahmat-Nya yang melimpah kelak.

(Prof. Ali Ya’qub, Syahida INN, Sabtu 06 Juni 2015)

Demikian yang bisa saya uraikan, kurang lebihnya mohon maaf.

Wallahul Musta’an Ila Sabilir Rahman,


Rabu, 10 Juni 2015, Warung Berkah, Bintaro


 السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Komentar

Google + Follower's