WRITING IS AMAZING!


Seni menulis adalah kehidupan setelah kehidupan. Manusia siapa saja, yang tekun menenggelamkan dirinya dalam samudra kepenulisan, maka ia akan memasuki pagi dalam keadaan tubuh berisi dua nyawa. Ia menjadi kuat dan kekar. Hari yang datang dihadapinya dengan tidak memikul duka. Guratan senyum adalah kawan terbaik sepanjang masa. Itu adalah kekuatan kata-kata. Betapa ia mampu untuk menggugah jiwa, memancal selera kehidupan!

Salah satu penikmat bidang ini adalah sosok fenomenal bernama Quraish Shihab, alumnus Al-Azhar Mesir, ini begitu menggilai dunia membaca dan kepenulisan. Sepanjang hidupnya ia padati dengan semangat yang membara menjajaki dalamnya ilmu pengetahuan yang tertuang dalam kitab-kitab karya bijak bestari. Dan hebatnya, semua ilmu yang beliau serap mampu ia curahkan ke dalam karya-karya yang cerdas nan brilian. Ia tidak ingin pintar sendiri. Ia ingin berbagi kebaikan kepada semesta alam lewat dunia tulis menulis yang ia geluti. Dan dia ingin menjadi awet muda selamanya, karena mengutip ungkapan Pramoedya Ananta Toer, bahwa “menulis adalah bekerja untuk keabadian!”

Bisa dibayangkan, jika pada umur 22 tahun ia mampu menelurkan karya dalam bahasa Arab berjudul “Al-Khawathir” yang bermakna “Lintas Pikiran,” dengan tebal 60 halaman. Buku serius ini yang kelak diterjemahkan oleh Ahamd Al-Attas pada tahun 2005 dengan judul “Logika Agama; kedudukan Wahyu & Batas-Batas akal dalam Islam.”

Pada umur yang ke 70 tahun diperkirakan beliau telah menulis sebanyak 24.251 halaman. Angka yang fantastis dan cukup mengejutkan! Dalam kesibukannya sebagai pendakwah dan birokrat beliau mampu menyisihkan waktunya kurang lebih 7 jam dalam sehari untuk menceburkan dirinya dalam laut kepenulisan. Wahai, betapa anggun perilaku beliau! Rasa hormat kepada waktu serta Istiqomah yang melekat pada diri beliaulah yang membuat namanya kian harum. Indah dicatat di buku perjalanan sejarah.
Simak pula bagaimana geliat seorang penulis, filosof, sastrawan berkebangsaan Mesir, Anis Mansour (1925-2011). Penyakit yang diidapnya adalah Insomnia, ia hanya tidur dalam sehari sebanyak 2 jam saja. Meski demikian, penghormatannya kepada waktu yang dilimpahkan oleh Tuhan menggubah penyakit yang ia dera menjadi anugerah, ia begitu produktif dalam menulis. Dalam sehari  mampu menghasilkan 8 hingga 10 tulisan untuk koran atau majalah.

Betapa bungah nya hati mereka yang mencecap manisnya buah menulis. Menulis yang selain berfungsi sebagai pemenuh syarat perakademikan juga bisa menjadi pelampiasan rasa yang lahir di benak kita; sedih, gembira, senang dan duka. Jadi, masalah yang kerap menimpa kita tidak selamanya berarti musibah. Taruhlah misalnya anda kena masalah, kemudian anda luapkan perasaan anda ke dalam uraian kata yang disertai penjiwaan, kemudian edit dan rangkai sedemikian rupa, kirim ke media, mengalirlah pundi-pundi uang ke rekening anda. Demikian ungkap Ust. Nurcholis Majid, guru Bahasa & Sastra Indonesia di PP. Al-Amien Prenduan. Sosok yang cukup mengerti lika-liku dunia pena.

Jika redaksi belum tertarik setidaknya itu bisa menjadi ingatan yang indah untuk dkenang kelak. Menulis mengabadikan peristiwa. Menggambarkan sosok kita di saat kita tidak lagi berada di dunia. Di saat nyawa yang mendekam di tubuh kita pergi keluar menyelinap meninggalkan jiwa. Lanjut saya.

Tulisan adalah zat penyambung nyawa. Tulisan adalah ceramah yang terus bersuara meski sang penceramah sudah berakalang tanah. Tulisan adalah dakwah yang tiada putus meski yang menyampaikan sudah tenang berbantal gedebong pisang di perut bumi yang gelap dan pekat. Tulisan adalah sosok yang mempresentasikan diri kita saat kita meninggalkan dunia ini untuk selamanya. J J J

Menulis adalah kemampuan yang bisa dihasilkan karena kebiasaan. Semakin rajin kita melukis kata di kanvas putih, maka akan semakin lihai goresan yang kita toreh. Semakin pandai kita membagi waktu, menggelontorkan waktu untuk menulis, maka semakin lincah kita bermain aksara. Semakin trengginas kita dalam menghormati konsep ke istiqomah an, semakin tajam dan terhunus pedang yang kita genggam. Siap melibas pekatnya kehidupan. Sanggup merobek temaram suasana di persimpangan jalan. Termasuk temaram karena ketidakbisaan kita merajut tenunan kata-kata indah.

Bergidik hati saya, manakala menyimak tuturan seorang tua yang meremehkan masa mudanya. Kemudian ia mengandai-andai, seandainya saya melakukan begini dan begitu dulu......

Jakarta, Kamis 23 Juli 2015. 23:09

Komentar

Google + Follower's