Belajar Dari Zarnuji, Penakhluk Laut-Pemahat Karya!

Menulis lagi-lagi membuat saya terkesima. Sebuah buku yang tengah saya genggam saat ini berjudul “Ekspedisi Menantang Laut” adalah karya Zarnuji, seorang wartawan Jawa Pos yang menjabat sebagai Kepala Radar Madura Daerah Sumenep.

Buku setebal 286 halaman ini hasil penerbitan Jawapos yang bekerja sama dengan Pemkab Sumenep. Di dalamnya dituang sederet pengalaman penulis saat mengunjungi 48 dari 126 pulau yang berada di daerah Sumenep, Madura. Abnetal Omba’ Asapo Angen, “berbantal ombak bersapu angin” adalah prinsip yang dipegang oleh nelayan Madura, yang juga merupakan pegangan Zarnuji saat mengunjungi gugusan pulau eksotik yang ada di Sumenep.

Terhitung dari tanggal 30 Desember 2011, Zarnuji, penulis, beranjak dari daratan diiringi dengan teman redaksi di Jawa Pos, menaiki kapal melepas sauh menuju laut luas. Menantang laut.

Dua bulan ia melanglangbuana bertemankan ombak nan dahsyat menggoyang bahtera. Ditemani Tokce, kawannya yang mengurus segala perkakas kelautan, mereka berjibaku melawan rasa takut yang menggumpal di dada, menakhlukkan hamparan laut yang kerap menggelora dahsyat demi satu tugas mulia. Membuat laporan jurnalistik ke media nasional, Jawa Pos, secara maraton.

Zarnuji, yang juga putra Sumenep, dengan naluri jiwa kepulauannya ditingkahi kepiawaiannya dalam mengolah data dan kata, maka perjalanan ini berbuah manis. Hasil perjalanannya diabadikan dalam catatan yang diterbitkan oleh Jawa Pos radar Madura secara berkala berkesinambungan.

Pada akhirnya, guna memuaskan dahaga pembaca terkait rerfrensi kepulauan yang terbentang di Pulau Garam yang menakjubkan ini, akhirnya lahirlah sebuah buku khusus yang berisi kumpulan catatan Zarnuji selama kurang lebih dua bulan ini menjelajahi sejengkal demi sejengkal daratan pulau-pulau yang terbentang di jajaran daerah Sumekar yang kaya panorama alam ini.

Itu sekilas tentang sebuah buku yang tengah saya genggam, yang saya pinjam dari saudara Fadlullah, teman seperjuangan di PTIQ.

Belajar dari uraian diatas, betapa kecakapan dalam menulis membuat seorang begitu dihargai dan mampu memetik manfaat yang melimpah.

Dalam waktu dekat-dekat ini setidaknya ada dua beban soal tulisan terlimpah. Satu dari Pak Kyai, terkait pembahasan dalam hadits Shahih Bukhari. Yang lain adalah amanah ilmiah dari pihak Nabawi, majalah milik Darus-Sunnah, yakni menulis speutar riwayat tokoh sarjana Hadits awal yang dinilai memiliki keistimewaan dan punya pengaruh signifikan dalam pengembangan dunia hadits. Ini adalah dua tugas yang tidak muda namun tidak terlalu menyulitkan. Asal mau bersungguh-sungguh, insya Allah bisa.
Menulis, ketika sudah tidak lagi menjadi kebiasaan, maka akan terasa berat dan menjadi beban berkepanjangan. Saya sering mengatakana bahwa menulis adalah soal kebiasaan, seorang yang rajin menulis maka akan mudah dalam mengolah kata lalu membentuk pola yang indah. Sebagaimana Zarnuji, menulis bagi seorag wartawan adalah kewajiban yang ia tak akan bisa hidup tanpanya.

Berangkat dari hal tersebut, saya mempunyai tugas rutin setiap harinya. Yakni melahirkan satu tulisan setiap hari. Tidak banyak, minimal 1 halaman Word dengan font Times New Roman dengan Font Size 12.

Meski hal ini tak menjadi kewajiban, mengkonsistenkan tugas mulia ini adalah upaya terbaik saya agar mampu menjadi penulis yang bemroral kelak. Saya yang bodoh dalam dunia tulis menulis meyakini betul, bahwa saya laksana air lembut yang menetes ke atas batu, berkerja terus menerus untuk menghempas bebatuan keras agar tercipta lubang.

Ya Allah, bantu. Berharap dalam keadaan sibuk bagaimanpun menulis harus tetap dilestarikan. Menulis bukan karena ingin menggalang tepuk tangan. Masih ada yang lebih mulia dan lebih berharga. Yakni menulis untuk menggapai ridho Allah Ta’ala.


Ciputat, 13 Agustus 2015

Komentar

Google + Follower's