Di Pos Jaga Darus-Sunnah

Disini aku, berdiam dalam keheningan malam. Menatap syahdunya raksasa angin mengibarkan sayapnya yang syahdu menentramkan. Derik jangkrik membuat orkesta alam bertambah khidmat. Aku tenggelam dalam lamunan. Terseret dalam pikiran yang tak berkesudahan.

Ini tentang masa depan yang jauh ke depan. Persiapan untuk hari dimana harta dan anak tak lagi bisa dimanfaatkan. Ketika manusia tak lagi bangga dengan harta dan keluarganya, sisalah mereka yang dengan jerih payahnya mencurahkan tenaga untuk meraup kebaikan. Ini terkait perbekalan akan perjalanan yang panjangnya tak keruan.

Akhirat adalah tujuan akhir kehdupan manusia. se ambisius bagaimanapun manusia untuk mengekalkan jiwanya terhadap dunia nan fana ini, ia akan tetap pulang ke kampung abadi. Manusia yang terlahir fitrah dari rahim ibunya telah ternodai bercak-bercak hitam yang menggurat di hatinya, meski demikian semua akan tetap dikembalikan kepada Tuhan Seru Sekalian Alam.

Salah satu jalan agar terbukanya kehidupan yang menjanjikan kemanisan di akhirat nanti adalah menggalakkan semangat dalam pencarian ilmu. Ilmu yang dipelajari diharapkan mampu membawa kehidupan di dunia ini lebih terarah lagi. Ilmu seperti pelita di tengah pekat kegelapan. Cahaya yang akan menuntun menuju pintu keberhasilan. Menggapai ridho Allah Swt.

Disebutkan dalam berbagai literatur keagamaan tentang kemuliaan sang pencari ilmu. Mulai dari dibentangkan sayap-sayap malaikat guna meneduhi langkah penggiat ilmu, doa-doa yang dipanjatkan oleh sekalian alam kepada pencari ilmu, dibukakan jalan alternatif menuju surga-Nya, hingga dinilai sebagai syahid jika wafat saat mencari ilmu.

Tentunya dibalik hasil yang membanggakan itu dituntut usaha yang besar untuk mewujudkannya. Dibutuhkan perjuangan yang maksimal. Peluh keringat harus dipersembahkan untuk merengkuh kemuliaan ini. Melestarikan semangat belajar agar tak lapuk di hujan dan tak lekang di panas. Meramaikan malam dengan nada ketikan di atas tuts-tuts keyboard. Mengiringi rembulan yang merekah dengan membaca wawasan pengetahuan.

Jika sudah mendapatkan hikmah pengetahuan, menggapai hasil yag mampu mengguratkan senyum di lesung pipi, maka saatnya tanggungjawab yang besar akan tiba menghampiri, menemani desah nafas keilmuan yang sudah bersemayam dalam diri. Bertambahnya ilmu bukan seperti bertambahnya harta yang bias manfaatnya bisa direguk secara individual. Jika sikap individualistis diterapkan dalam masalah ilmu pengetahuan, maka akan teralamatkan kepada sang pemilik pengetahuan berupa murka Tuhan yang amat mengerikan.

Seorang yang berpengetahuan bukan hanya beranggungjawab menjaga tingkah laku pribadinya kepada khalayak luas, namun juga dituntut untuk mencerdaskan umat agar memiliki sikap yang berkeadaban (meminjam tema muktamar Muhammadiyyah yang ke 47 di Makassar 3-7 Agusus 2015 kemarin : “Menuju Islam Indonesia Berkemajuan Dan Berkeadaban”). Menjelma pribadi intelektual yang mampu membimbing umat menuju kebaikan yang dikehendaki Tuhan.

Darus-Sunnah Dan Proses Meng-kristalkan Diri

Di malam ini, di bawah naungan pekat angkasa malam Ciputat yang bertabur milyaran bintang, di sebuah padepokan tempat para pegiat ilmu menyemai benih pengetahuan, aku tengah berjibaku dengan dunia keilmuan. Bergumul sekuat tenaga dengan bacaan dan tulisan, yang menurut saya pribadi, adalah dua senjata di khazanah kelimuan.

Seorang yang gemar membaca namun tidak mengakrabi dunia tulis menulis, maka juntaian ilmu pengetahuan yang mengakar dalam rajutan memori otaknya hanya bisa ditumpahkan lewat suara yang pada saatnya akan lindap disapu kemajuan dunia tulis menulis yang lebih menjanjikan keabadian.

Satu nada dengan pengakuan di atas, seseorang yang hanya rajin menulis namun tak rajin mematuti lembar-lembar yang dihidangkan di perpustakaan, maka tulisan yang dihasilkan akan getir dan hambar. Rantai kalimat dihasilkan tak membentuk pola yang memuaskan, yang mampu membuat pembaca tiba ke titik orgasme intelektualnya.

Di bawah lembaga pengkajian yang berkutat dalam bidang hadits sata mencoba untuk khusyuk menikmati entakan demi entakan irama keilmuan di Darus-Sunnah ini. Berdiskusi dengan kawan dan senior, menyimak paparan dari guru di pengajian, membaca al-Qur’an di waktu senggang, menyempatkan membaca buku di saat lapang, dan menulis sebisanya hasil pergumulan saya dengan segala aktivitas di atas di atas word yang tak seberapa. Saya hanya berharap, kiranya semua yang saya lakukan akan berbuah manis dan mampu membawa saya menuju hidup yang lebih berkualitas lagi. Mengatur langkah untuk mencapai integritas yang berkualitas.

Sekian untuk perenungan malam ini.

Semoga menjadi bahan intropeksi.

Semoga semangat bisa terus meletup-menggelegar meramaikan siklus kehidupan!

Semoga diberi petunjuk oleh-Nya. Amien J

Pos Jaga Darus-Sunnah. Ahad 09-08-2015. 22:56 

Komentar

Google + Follower's