Ikhlas Menulis, Menulis Ikhlas

Aku menulis bukan karena mengharapkan tenar dan meraup pujian banyak orang. Aku menulis karena aku senang saja bisa menulis. Perkara dari tulisan tersebut ada yang mengomentari positif maka itu tak akan membuatku melayang lalu lupa daratan, mengubah haluan jadi menulis karena hendak memenuhi hajat pribadi. Namun, jika yang muncul adalah komentar negative, maka itu adalah pelajaran tambahan buat saya. Belajar dari kritikan adalah lebih menyegarkan dibanding terbuai dengan pujian.

Baru saja aku menyaksikan flm You Are Is My Apple In Eye. Didalamnya dikisahkan perjalanan sekumpulan kawan yang akrab dan menggemaskan. Dimulai dari masa-masa SMA hingga s2, pertemanan yang mereka rajut tak pernah usang. Selalu ada warna yang menghiasi lengkah demi langkah yang mereka ayunkan. 

Canda dan tawa serta perasaan cinra yang timbul di antara mereka selama mengiringi jalannya pertemanan, membuat salah seorang dari mereka, Ko-Teng, yang rajin menulis,  membuat sbeuah novel yang mengisahkan tentang sepak terjang persahabatan mereka.

Sungguh mengharukan.

Aku ingin seperti mereka, yang kisah kehidupannya bisa diabadikan dalam sbeuah tulisan. Suka duka, sedih gembira, getir gembira, hambar dan senang semua bisa dirangkum dalam sebuah tulisan yang menakjubkan.

Menulis adalah soal kebiasaan. Siapa yang sering menulis maka tangannya akan lincah menari mengurai kata. Siapa yang enggan menoreh kata-kata, maka ia akan ketinggalan tunggangan. Zaman yang terus berputar ini memaksa kita sang manusia modern agar piawai dan bijaksana dalam merangkai kalimat-kalimat. Untuk sampainya pesan ke hati pembaca saat ini dibutuhkan guratan pena yang menggugah.

Dibutuhkan latihan yang berkesinambungan untuk mempertajam kualitas tulisan. Pisau yang rajin diasah tentu akan lebih mudah membelah cabai menjadi berkeping-keping. Pedang yang sering dihunus tentu akan lebih mampu meluluhlantakkan musuh di medan perang!


Jakarta, 11 Agustus 2015

Komentar

Google + Follower's