K.O.P.I

Menikmati udara pagi sambil menyeruput kopi adalah sesuatu istimewa. Apalagi jika  didampingi bundelan koran harian yang menyajikan ragam berita terkini, kian mencerahkan wawasan. Maka, nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?

Menyeruput kopi bukan karena kita memang pecandu kelas kakap seduhan hitam nan menyegarkan itu. Melainkan karena kopi telah menemani banyak orang menghasilkan karya. Ada seniman, artis, penulis, ilmuwan, kyai, pendebat dan penyair sekalipun melahirkan karya yang eksotis sarat emosional, salah satunya lantaran seduhan kopi yang mendampingi. Tuangan kopi ke dalam tegukan menyokong semangat berkarya. Hitam tidak semua bermakna menggelapkan, ada hal-hal yang terkesan temaram namun memberikan kesegaran ide, termasuk salah satunya kopi.

Salah satu penulis terkenal, Dewi Lestari, bahkan pernah menyajikan satu buku berjudul Filosofi Kopi. Dan banyak lagi penulis yang coba menguraikan apa manfaat dan makna filosofis yang dikandung oleh racikan bubuk hitam yang juga berfungsi membuat mata terjaga ini.

Sampai sekarang saya masih mempercayai bahwa kopi memang memiliki stimulus yang membuat mata tetap terbelalak di saat dimana seharusnya mata terlelap. Dan yang juga masih saya genggam adalah keyakinan bahwa kopi mampu untuk meleburkan segala strata social dalam perkumpulan. Tak ada pangkat sosial yang membedakan. Tak ada strata yang lebih unggul dibanding yang lain, jika serbuk hitam kopi telah dituang dalam cangkir, ditingkahi dengan curahan air hangat yang menemani jalannya perbincangan. Segar, nikmat dan merakyat.

Begitupun yang terkadang saya lakukan saat hendak menulis. Saya sajikan kopi hangat/panas untuk menemani jalannya proses penguraian kata-kata di atas word. Tancapkan saja ke dalam jiwa, sugesti bahwa kopi bisa menjadi pelumas ide saat menggagas kalimat yang bercokol di kepala ke atas lembar putih, lalu biarkan jari-jemari menari dengan tulus di atas tuts-tuts keyboard. Bergerak berkelindan menyajikan satu ide menyegarkan!

Pula saat membaca menekuni sebuah buku. Hidangkan kopi yang hangat/panas untuk diseruput perlahan, mengkawani laku kita mematuti kata demi kata yang tengah bertransformasi ke dalam rajutan memori di otak. Yakini saja bahwa kopi yang kita hidangkan ibarat pil penambah stamina yang mampu menggelegarkan semangat kita mereguk hikmah.

Selamat menyeduh kopi. Semoga kopi yang terhidang mampu menambah inspirasi!


Jakarta,Senin, 03 Agustus 2015. 08:25

Komentar

Google + Follower's