Kritik-Pujian, Bumbu Penyedap Kehidupan


Berangkat dari sebuah asumsi bahwa manusia adalah makhluk yang dikepung oleh keterbatasan, maka sudah sepatutunya kita memaklumi serta benar-benar menjiwainya. Menancapkan dalam doktrin terdalam kita bahwa kita tetaplah manusia, meski begitu hebat berkarya, selalu ada sekat yang mampu membawa kita menuju sempurna.

Dalam al-Qur’an ditulis, “Dan, janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan sombong. Sesungguhnya engkau tak akan mampu membakar bumi dan menjulang tinggi melebihi pegunungan.”

Seorang pemikir besar, Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub, pada suatu kali pernah mengatakan, yang mungkin juga sebuah hadits, “Barangsiapa yang dipuji (dan ia menikmatinya), maka ia telah dibunuh tanpa menggunakan belati.”

Pujian dan kritik adalah bunga kehidupan. Kehadiran keduanya adalah bumbu penyedap siklus kehidupan umat manusia. Di setiap lapisan manusia  pada setiap zamannya selalu muncul komunitas yang gemar melancarkan pujian, ada pula yang rajin mencurahkan kritik. Keduanya bergerak simultan. Meramaikan laju hiruk pikuk aktivitas manusia.

Lantas Bagaimana Kita Menyikapi Keduanya?

Hadirnya pujian dan tepuk tangan atas segala yang dianggap prestasi adalah hal yang bisa dikatakan mutlak mengkawani derap langkah kita. Maka langkah yang harus diayunkan adalah dengarkan apa yang diselorohkan penggemar kita tersebut, renungi secara mendalam, apakah benar yang mereka katakan? Apakah kalimat yang dia keluarkan relevan dengan sikap yang ada dalam diri kita?

Seringkali kita terkecoh dengan bualan tersebut. Mengamini dalam hati bahwa pujian itu memang pantas dialamatkan untuk kita yang telah meraih ini dan itu. Bahwa kita telah berada di atas rata-rata orang kebanyakan, kita patut menerima riuh tepuk tangan.

Iya, kalau hal tersebut mampu mendorong diri kita lebih semangat lagi. Namun, dikhawatirkan rasa bangga dan busung dada keburu menyelinap menaruh bibit di dalam hati kita. membuat kita malah gede rasa, kemudian muncul keyakinan bahwa diirnya adalah lebih baik dibanding yang lain. Ini sudah beraroma penyakit.

Pujian yang kerap melambungkan hati juga berpotensi untuk membunuh kepribadian. Percaya atau tidak, pujian yang tidak disikapi dengan bijak akan membuat kita lupa daratan¸lalu membuat kita malas memancal aktivitas. Dekadensi moral akan tiba. Siap meluluhlantakkan bangunan yang telah kita bangun. Manusia jika sudah merasa hebat, ia merasa bebas, dan semakin leluasa untuk merusak. Ilmu yang ditabur pun akan terasa kabur, kala pekat kesombongan sudah mengungkung jiwa. Layaknya jelaga menghitami atap-atap di rumah kita. Innal Insana Layatgha An Ra’ahus Taghna.

Ada baiknya kita berpikir lebih cermat, sudah benarkah tujuan itu dilayangkan. Sudah objektif kah ungkapan penggemar kita barusan. Simak secara jauh dan mendalam. Insyafi diri yang sarat keterbatsan. Bahwa kita tak akan mampu untuk menjadi sempurna dalam segala sektor dan dsiplin kehidupan.

Bisa jadi seorang pakar kedokteran bangga (dan bisa berakhir menjadi sombong) lantaran dia sudah meraih pengharagaan atas karya yang ia telurkan. Namun perlu dipikirkan, apakah ia mampu untuk menandinigi Salim Ghazali, juara Internasional MHQ yang diadakan di Iran, dalam bidang hafalan al-Qur’an.

Mungkin saja ada seorang pilot yang piawai dalam menerbangkan pesawat terbang, menukik dan melakukan manuver di angkasa dengan lincah dan mampu mengundang decak kagum, tapi coba suruh dia mengendalikan kapal laut. Jika kapal limbung dan terbalik dilamun ombak ditampar badai, apakan ia akan mencoba melebarkan parasit untuk menyelamatkan diri? Atau dirinya akan tenggelam disapu laut yang diisi gelombang menggelinjang. Tentunya harus ada seorang nelayan yang telah menelan asam garam lautan yang menolongnya.

Demikianlah. Manusia, satu sama lain harus saling melengkapi. Tak ada yang tidak penting, semua adalah penting, semua berhak memberikan sumbangsih kepada dunia. Jangan bersikap sebagai manusia hebat yang merasa paling hebat lalu merendahkan segala pihak. Jika demikian, maka ia telah menutup pintu pembelajaran yang terbentang luas. Takabbur yang kita lestarikan sama halnya dengan memasang kacamata kuda di kepala kita.

Soal Kritik yang pula menjadi elemen berkehidupan harus disikapi dengan bijaksana. Manusia yang dasarnya jauh dari kesempurnaan harus dengan lapang dada jika ada pihak yang mengkritik dan memberikan masukan. Didengarkan dan ditimbang, untuk kemudian dijadikan bahan instropeksi diri. Bedakan dengan saksama. Ada kritik yang hanya berupa hujatan tak bermakna layaknya salakan anjing, hal ini tak perlu digubris, anggap saja angin berlalu mengepakkan sayapnya di keheningan malam. Ada kriitk yang ilmiah dan sarat hikmah, pesan yang dikandung dalam setiap lontarannya begitu menggugah, maka ambillah dan sematkan dalam langkah-langkah pembenahan pribadi kita!
Anda akan selamat!

Selamat menjalankan hari-hari. Selamat menikmati keragaman hidup yang terkadang tak sejalan dengan apa yang kita harapkan. Selamat berlaku bijaksana menghadapi pujian dan kritikan. Jadilah terus orang yang bodoh yang selalu dahaga akan ilmu pengetahuan. Jadilah orang yang berada dalam kegelapan, sehingga ia akan terus mencari sekuat tenaga menyongsong cahaya yang terang benderang!


Darus-Sunnah, 18 Agustus 2015

Komentar

Google + Follower's