Lagi, Cuap-Cuap Terkait Kopi! :)

Kutemani pagi ini dengan secangkir kopi. Kopi katanya mampu menumbuhkan inspirasi, kopi penuh kejutan, kopi sarat ide yang menyegarkan! Mengawali aktivitas dengan sesuatu yang bisa menguak cakrawala pemikiran. Agar tidak jenuh dan buntu pikiran, teguklah kopi. Terserah mau yang jenis apa, robusta, coffelate, dan lain-lainnya, intinya mengopi. Cerahkan diri dengan mengkhidmati setiap tetes yang tersaji dalam segelas kopi. Nikmati!

Tuhan, sudah sampai tiga mentari yang hilir mudik menemani langkahku, dan aku tengah mendera pilek serta batuk berdahak. Tuhan, sembuhkan aku. Mulai dari suara yang tersedak lantaran gumpalan-gumpalan dahak mendekam di tenggorokan, hingga bulir-bulir berwarna hijau yang mengalir dari dalam hidung membuat badan tak lagi performa sebagaimana sedia kala.

Mulai dari dari Vicks Formula sirup yang rasasnya manis-pahit dibalut rasa mint, menghirup Vicks Inhaler yang pedas namun menyegarkan, hingga menenggak obat Decolgen yang pahit ketulungan jika cara minumnya sambil disesap perlahan (tapi untungnya tidak demikian, saya lebih memilih dengan cara memasukkan obat ke mulut lalu tenggak air putih sebagai pendorong obat menuju lubang tenggorokkan, meluncur ke dalam, siap membumihanguskan segala bakteri yang menyerang).   
Demikianlah. Seorang yang dijangkit penyakit radang tak banyak yang bisa dilakukan. Bersuara tak boleh banyak-banyak, karena itu hanya menyiksa diri saja. Es, Gorengan, Pedas berlebihan, adalah hal-hal yang telah dipuasakan bagi saya selama berstatus sebagai pesakitan. Betapa mahal dan pentingnya sehat. Sehingga saat ia lenyap dri kehidupan, begitu pilu terasa. Saat sehat, harta yang paling berharga manusia, raib, maka sisalah sembilu yang menikam dada. Makanya, kalau sehat dijaga! J

Selain rutin mengonsumsi obat-obatan, membiasakan diri dengan meneguk minuman hangat adalah hal yang sunnah dilakukan. Dengan minuman hangat yang kita teguk diharapkan jelaga-jelaga hijau yang mengotori tenggorokkan lumer dan membuat pernafasan segera rapih kembali. Minuman hangat yang mimiliki esensi kehangatan sejati, perspektif saya, adalah Jahe Panas Dicampur Gula Merah.

Kemarin, Sabtu (22/08/15), saya berkunjung ke rumah BU Yaya, murid ngaji di daerah Pondok Betung, untuk mengajar. Seusai mengajar, saya sempatkan mencurahkan isi hati saya speutar penyakit yang saya rasa belakangan ini. Beliau memberi saya petuah yang begitu banyak, dan semuanya bermanfaat. Salah satu petuah yang dipersembahkan demi kesehatan saya adalah jangan dulu meminum minuman kemasan dalam bentuk es. Beliau menyarankan agar mengonsumsi yang hangat-hangat saja.

Saya tanyakan bagaimana dengan Jahe? Beliau menjawab, Iya itu bagus, kondusif untuk meredam ganasnya radang. Jahe Kemasan? Beliau menyentak dengan jawaban Tidak! Tidak dengan jahe yang berbentuk kemasan, itu sudah berintegrasi dengan gula serta pengawet yang tak beraturan, katanya. Tidak bagus untuk radang, minumlah yang murni jahe, jahe mentah yang ditumbuk lalu direbus dengan air panas, itu lebih mujarab dan menambah kehangatan! Lanjutnya, sambil kemudian saya menutup perbincangan.

Ahad, (23/08/15), pada sore menjelang Maghrib, saya dengan Idham, mahasantri Darus-Sunnah semester 5 berperawakan agak gemuk, mendudukkan pantat di atas kursi di warung remang-remang di pingggir jalan daerah Legoso. Warung yang berlampukan Philips berpancarkan cahaya orange kekuning-kuningan itu menyajikan Wedang Jahe, Kopi Hangat, Teh Hangat, Sego Kucing, Kepingan Bakso/Otak-Otak/Usus/Ati yang telah ditusuk lidi, Tempe/Tahu Bacem, dan lain sebagainya.

Saya pesan Jahe Panas Dengan Gula Merah, Idham pesan Jahe Panas Dengan Tumpahan Susu Kental Putih. Kami mulai diskusi ringan. Membicarakan geliat kehidupan yang selalu ada masalah demi masalah berkelindan. Membincangkan gelinjang politik yang kian menghambur tak tentu arah, terlunta-lunta tak keruan. Mengobroli perempuan dengan sejuta misteri yang terkandung di dalamnya. Merayu radang agar kiranya hengkang dari tenggorokan. Membujuk Batuk serta pilek agar lenyap dari tubuh yang telah rapuh ini. Enyahlah Engkau!

Genap sudah karakter tanpa spasi yang saya ketik berjumlah 3511. Ini semua ulah kopi yang saya seduh, warnanya yang coklat dikawani bubuk hitam Choco Granule, telah mendorong saya menggubah kata-kata. Jujur, kekuatan saya untuk menulis agak sedikit menuai kemerosotan, ada dekadensi semangat yang menyerang diri saya, maka saya hempaskan penyakit itu dengan membuka word dan ditemami genangan kopi. Semoga saja ide dan buah pikiran yang membeludak bisa tersalurkan karena tuangan kopi yang saya seruput, kiranya ia menjadi pelumas otak, pemacu kreasi, pembabat kebuntuan kreativitas. Lalu huruf demi huruf beranjak melompat keluar ke atas kertas yang sengaja dibentang. Mengalir perlahan membuat kalimat. Bermuara menjadi pola paradigma yang cukup memiliki signifikansi makna.

Saya berangan menciptakan sebuah buku. Buku, yang menurut pepatah adalah teman duduk terbaik yang pernah kita jumpai. Buku, yang  juga merupakan guru yang pandai menasihati tanpa ada kesan menggurui. Kita terlahir dengan daftar bacaan yang sampai kita menhembuskan nafas terakhir pun kita tak akan menyelesaikannya, demikian kata Maud Casey, seorang bijak bestari yang bunga rampainya saya temukan pada DP BBM kawan-kawan. Maka, landasan menuju manusia berkualitas adalah membaca. Iqra! Bacalah! Demikian Tuhan memulai wahyu-Nya, yang kelak akan membawa manusia padang pasir sebagai penguasa dunia!

Saya telah banyak berteman dengan buku-buku, dan itu menyegarkan pandangan. Betapa ilmu & pengetahuan yang kita serap dari kata-kata yang disajikan pada lembaran yang kita baca telah memicu peradaban gemilang dalam diri kita. ribuan lembar dari pustaka yang kita baca akan menciptakan mentari yang sinarnya mampu menumpas kegelapan. Intinya, membaca, berteman dengan buku, adalah laksana memacari wanita yang pintar, salehah, jelita, dan berbagai keistimewaan lainnya, yang bisa membuat kita tenggelam, terpesona dengan rupa yang ditampilkan, terpana dengan aura yang dihidangkan!

Saya ingin membuat sebuah buku. Yang dengannya orang paham bagaimana suaraku. Dalam sebuah buku biografi Quraish Shihab yang ditulis oleh...... dinukil sebuah wisdom, “Cukuplah orang mengetahui akhlak kita lewat karya yang kita ciptakan.”

Dan dalam hal ini, menulis tentu bagian yang tak bisa saya lepaskan. Ide pemikiran yang dituangkan dalam bentuk aksara adalah lebih awet dan menyala. Ibnu Hajar al-Asqolani, Imam Syafi’i, Imam Bukhari, Imam An-Nasa’i, Ibnu Battutah, Imam Suyuthi, al-Mubarokfuri, Adzim al-Abadi, Abdul Izz al-Hanafi, Albani, Hasyim Asy’ari, Zuhairi Misrawi, Adian Husaini, Hamid Fahmi Zarkasyi, Yasin Al-Makki al-fadani, An-Nawawi al-Bantani, Imam Tirmidzi, As-Syahrastani, Dewi Lestari, Zarnuji, Malcom Gladwell, Ignaz Goldziher, Josep Schact, dan berjuta-lainnya adalah bukti bahwa menulis bisa membuat kita lestari. Tulisan adalah eksistensi kita di bumi. Meski kita nanti sudah berkalang tanah, tulisan yang kita ciptakan akan terus hidup menemani anak dan cucu kita mengarungi kehidupan. Bahkan, saat dunia sudah hancur ditimpa runtuhan bintang, dilalap letusan gunung, disapu ombak samudra pada saat hari Akhir tiba, beberapa karya akan terus abadi selamanya. Menjadi saksi yang membela kita saat persidangan dengan Malaikat dan Tuhan. Mendukung kita agar kita dimasukkan ke surga yang telah Tuhan sediakan untuk hamba-hamba-Nya yang beirman dan senantiasa beramal kebajikan! J

Saya ingin melahirkan sebuah buku. Tapi kapan? Sebentar, biarkan saya asyik bersetubuh dulu, jangan diganggu, saat nanti sudah klimaks dan mengalami orgasme, cairan itu akan menjumpai sel telur, mengalami pengandungan yang tidak mesti berjangka sembilan bulan, lalu kemudian baru pasangan saya akan melahirkan! Pasangan? Iya, pasangan saya dalam konteks ini adalah otak dan hati.

Ssst. Biarkan, jangan dinganggu dulu. Saya sedang asyik-masyuk. J Mantap, Nikmat, Sedap...!!!


Darus-Sunnah, 24 Agustus 2015

Komentar

Google + Follower's