Lestarikan Semangat Yang Meletup-Letup Itu Dengan Nutrisi Membaca!

Kemarin malam saat saya menemani saudara melawat ke Gramedia Bintaro Plaza, saya menemukan sebuah buku bagus dengan judul 99 Kebisaan Miliarder VS 99 Kebiasaan Orang Biasa. Di dalamnya diuraikan 99 kata-kata mutiara tentang kebisaan orang sukses disandingkan dengan kebiasaan orang biasa, yang jelas memiliki signifikasni perbedaan makna. Dari kata-kata yang ringkas itu kemudian penulis jabarkan dengan memberi contoh maupun studi kasus yang begitu nyata, menyulap hati sang pembaca menjadi terkesima.

Saya ingin sekali membeli buku tersebut, itung-itung sebagai latihan menjadi miiarder. Dan juga, saat saya menjelajahi lembar demi lembar buku tersebut, betapa semua yang terpikir dalam otak tentang kiat-kiat mnejadi orang sukses terangkum pula dalam buku tersebut. Seperti tentang bahwasanya perbedaan antara miliarder dan orang biasa adalah pada letak kemampuannya untuk bisa bangun lebih pagi memulai aktivitas. Miliarder memiliki sikap untuk menghargai siapapun dan pantang untuk merendahkannya serta tidak mengaku-aku bahwa dirinya adalah paling hebat di antara yang lain.

Namun apa daya, uang tak punya, bukupun akan tetap bertengger di rak-rak yang tersusun rapi itu. Dengan kamera handphone berkapasitas 2 MP, saya menjepret beberapa lembar buku tersebut yang saya anggap mempunyai kilauan makna. Sehingga bisa saya perdalami lagi nanti hikmah2 yang dikandung di dalamnya.

Bangun Lebih Pagi dan Menyedikitkan Waktu Tidur adalah pelajaran yang sudah dikenal publik perihal triks dan cara menggapai kesuksesan. Ini sejalan dengan semangat yang diusung oleh pepatah Arab, yang artinya, “Bekerjalah di atas rata-rata orang kebanyakan bekerja.” Penjelasan tentang ini telah saya singgung sedikit pada resensi buku Rantau 1 Muara karya Ahmad Fuadi yang kebetulan sudah saya posting di blog www.jafartamam.com.

Menghargai siapapun dan pantang merasa diri paling hebat dibanding yang lain. Ajaran ini amat humanis dan sarat moral. Betapa manusia adalah makhluk sosial yang mustahil untuk sempurna dalam kesendiriannya. Manusia individualistis tak akan lama menghirup udara jika tetap berpegang teguh pada sifat ke individualannya. Seorang ulama, penulis, kaya, dan rentetan kemakmuran yang tersemat pada dirinya tidak seyogyanya untuk merasa perkasa bahwa tak ada satupun yang menandingi kedigdayannya. Betapapun hebat pencapaiannya, jika kendaraan yang ia tumpangi rusak maka ia akan pergi ke bengkel guna menyembuhkan kendaraan miliknya. Saat suatu penyakit datang menghampirinya maka tinggal tunggu saja tanggal kematiannya jika ia tetap angkuh dan enggan pergi ke dokter mencari penawar dari penyakir yang ia dera, ia harus menggantungkan pengharapannya ke dokter dalam kondisi ini. Dan banyak contoh-contoh lainnya.

Sikap saling menghargai terhadap sesama akan menciptakan suasana yang kondusif dan nyaman. Selain fitrah dalam jiwa manusia akan terpenuhi, hal itu juga membuat kita mudah diterima oleh masyarakat, karena kita telah menanggalkan sifat yang amat dibenci manusia, yakni sombong dan merasa hebat daripada yang lain. Jika sudah demikian, kita terbantu untuk menyemai rasa damai di hati kawan, keluarga, serta handai taulan di sekeliing kita. akan terjalin komunikasi yang positif yang mampu mengantarkan kita menuju hidup yang lebih ideal lagi. Kesuksesan akan tiba, dengan segera!
Semoga kita ditakdirkan untuk bisa memupuk kedua tabiat di atas di persawahan hati dan jiwa kita. dan kita mampu untuk menuai hasil yang cemerlang berupa kesuksesan dalam hidup kita. hidup penuh pencapaian, maka persiapkan segala piranti yang akan menggiring kita mendekat ke arahnya. Salah satunya adalah dengan menanamkan dalam keseharian kita dua tabiat mulia ini.


Rumah Lt. 2, Senin 27 Juli 2015, 23:45 (Liat waktu-nya, saya menulis ini di saat sudah banyak orang terlelap, terbuai dalam mimpinya. Saya telah bekerja di atas rata-rata orang lain berkeja! Semoga menjadi tabiat yang menghunjam dalam diri saya. Dan kesuksesan akan datang segera. Amien. J)

Komentar

Google + Follower's