Mengurai Arti Perpisahan Untuk Santri Serta Perbedaan Sistem Pondok Dengan Non-Pondok (Hanya Hipotesa, Berpeluang Untuk Disanggah)

Hari Senin tanggal 27 Juli 2015 pukul 14.00, terompet kereta bersipongang menyibak udara di staisun Senen, tempat beberapa anak muda resmi berpisah dengan pihak keluarga yang mengantar. Menandakan bahwa masa liburan pondok pesantren telah usai dan sebentar lagi akan menyusuri kembali aktivitas pendidikan di almamater tercinta di seberang pulau Madura sana.

Akrom, Bahru, Nafi, Kholil dan Keluarga serentak telah duduk manis di rangkaian kereta yang akan mengantarnya menuju tempat tujuan Surabaya Pasar Turi. Kemudian dilanjutkan dengan naik Bus AKAS menuju tujuan akhir, Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep, Madura.

Peristiwa semacam ini bagi santri lama, selain kholil dan keluarga, bukanlah hal yang mengejutkan, karena tak lama lagi akan terkeruk jarak yang memisahkan mereka dengan kawan maupun keluarga yang terkasih.
_____________________________________________________________________

Oleh sebab mereka sudah terbiasa dengan perpisahan bersama orang-orang tercinta, maka jadilah para santri-santri yang jika tiba masa liburan harus berpisah dengan keluarga tersayang, sebagai sosok-sosok yang tangguh menghadapi perpisahan. Secara sadar mereka mengamalkan prinsip bahwa setiap pertemuan akan ada perpisahan. Dan kita wajib untuk berlapang hati menerimanya. Demikian apa yang kita saksikan di atas dunia ini, semuanya hadir lalu pergi kembalik, datang dan datang dan hilang silih berganti. Karena sejatinya, tak ada yang kekal sesuatu yang mendekam di antara Timur tempat matahari terbit dan Barat tempat matahari mebenamkan diri.

Bukan hanya itu, para santri juga sanggup untuk menjalin komunikasi yang luas antar teman yang berasal dari berbagai daerah dengan masing-masing memiliki adat yang beragam. Kederhanaan yang mereka jalani setiap harinya di pondok juga secara bertahap mampu mencetak pribadi yang tangguh di tengah maraknya corak-corak materialistis menghinggapi wajah keidupan post-modern ini.

Bisa dibuktikan, siapa yang memang menseriusi segala macam filosofi kegiatan di pondok-pondok tempat pencari ilmu melimpahkan ekspresi keilmuannya, maka ia akan terbangun dan sadar bahwa sistem yang diterapkan di tempatnya adalah sistem yang jauh lebih produktif dibanding sistem yang dipakai oleh lembaga-lembga pendidikan luar pesantren.

Dalam menggerakkan roda pendidikan salah satu yang paling penting yang menjadi penunjang kesusksesan jalannya proses pendidikan itu sendiri adalah perhatian yang maksimal dari sang pendidik kepada murid didik. Controling dari lembaga pendidikan kepada siswa terdidik.

Jika mau dibandingkan, antara sistem pondok dengan sistem non pondok, terkait sistem controling pada lembaga pendidikan, maka sistem yang diberlakukan di pondok jauh lebih mengena.

Terhitung dari bangun tidur, hingga terlelap kembali, pondok dengan tenaga pendidiknya yang tulus dan dalam jumlah yang tidak main-main, laksana taman ilmu yang selalu ramai dan kental aroma persaingan menciptakan kebaikan. Aktivitas yang dilakukan oleh para santri dipantau oleh badan penanggungjawab yang bertugas secara bergantian selama seharian penuh.

Jadi, bukan hanya di kelas para santri dinilai aktif atau tidaknya mengikuti proses belajar mengajar, lebih dari itu, saat mereka berinteraksi dengan teman maupun kakak kelas, saat mereka pergi makan ke dapur-dapur, saat mereka pergi ke masjid melakukan ibadah, bahkan saat mereka berada di asrama bersama teman dan para pengurusnya sekalipun akan ada laporan pertanggunjawaban terkait siswa didik yang bakal diserahkan ke lembaga pendidikan yang berkerja. Untuk dinilai dan didiskusikan.

Yang bahkan, jika ada seorang siswa pintar di kelas, namun ia memiliki cacat moral dalam keseharian, maka kesuskesan sebagai siswa didik bisa dipertimbangkan dengan moral menjadi tinjauan utama. Akhlak mampu menandingi kapasitas otak dalam otoritas penilaian pribadi di mata sistem pondok.

Hal ini tentunya berbeda dengan apa yang didapatkan pada sistem pendidikan di luar pondok. Dimana nilai hasil di kelas (yang mana itu juga terkadang berkat belas kasih dari pihak penyelenggara ujian) terkadang mampu meruntuhkan mulianya akhlak yang dibangun siswa. Controling hanya berlaku saat di kelas, karena bagi mereka, setelah siswa pergi beranjak meninggalkan gerbang kelas itulah tugas tanggungjawab tiada, telah pindah ke orang tua.

Dan masih banyak lagi, dan bahkan yang paling penting, keikhlasan pengabdian dan ketulusan perjuangan pengajar patut di pertanyakan. Yang padahal, ruh pendidikan (ruh al mudarris) yang berintegritas itu lebih baik dari sekedar keproduktifan pendidik saat menyampaikan pesan pendidikannya, metode yang dipakai, atau materi yang disampaikan kepada siswa sekalipun.

Maka kembali ke awal, sistem yang baik tentu akan menempa alumus yang baik. Dan sebaliknya. Hidup ada pilihan, maka pilihlah yang terbaik buat orang tercinta di samping anda. 

Dan, oh iya. Perlu ditekan bahwa tidak semua sistem pendidikan di pondok itu sebaik apa yang saya gambarkan di atas. Dan saya tegaskan pula bahwa tidak semu pendidikan di luar pondok se-tidak baik apa yang saya paparkan. Saya hanya menggambil anggapan umum, ini adalah opini publik sementara yang bisa saya rangkum


Warung Berkah, Senin 27 Juli 2015, 17:00.

Komentar

Google + Follower's