Note From "Notes From Qatar"

Ini adalah langkah-langkah yang ditawarkan oleh Muhammad Assad, penulis serial Notes From Qatar, yang sukses menggapai impiannya untuk S1 di Malaysia dan S2 di Qatar, keduanya sama-sama mendapat Full Scholarship! dalam rangka menggapai cita-cita yang kita dambakan,  berikut kata beliau :

Dalam menggapai cita-cita, sebagai umat beragama yang benar-benar meresapi ajaran yang dibawa agamanya, kita diharuskan untuk selalu melakukan tiga langkah yang bakal mengantarkan kita menggapai apa yang telah kita impikan. Terhimpun dalam 3PPossitive, Presistence, Pray.”

Possitive : Berpikir positif dalam segala hal. Hidup tidak selalu beraroma kebaikan dan datang dengan begitu mudah, manakala datang hal yang menyulitkan dan memberatkan kita, ditimpa masalah bertubi-tubi maka mantapkan diri dengan mengatakan semua ini akan berakhir! Saat beragam rintangan datang menerpa, memasung langkah dan membuat manik-mani keringat bercucuran, yakinkan dalam hati dan positifkan pikiran lalu katakan dalam-dalam : Saya Pasti Bisa!
Begitu pula yang dipaparkan oleh Muhammad Asad saat mencari beasiswa, berpikir positif sambil terus melaju dengan Presistence.

Presistence : Yakni berusaha dengan se optimal mungkin. Berlandaskan pikiran yang positif yang terpancang kuat dalam benaknya, Muhammad Assad berlari menyonsgong impiannya dengan usaha yang menggebu-gebu. Ditolak dua beasiswa (Nanyang Technological University “NTU” & National University of Singapura “NUS”) tidak membuat dirinya terkapar pupus harapan, masih ada satu pintu lagi yang bakal mengantarnya menuju pintu beasiswa (University of Technology Petronas “NTP). Semangat belajar di pacu, kerah tangan disingkap, ikat pinggang dieratkan, Assad belajar bak kesetanan, siang berhiaskan tumpukan buku-buku, malam tenggelam dalam samudra ilmu pengetahuan. Digerataknya habis-habisan jika rasa malas datang menggodanya.

Pray : merafal do’a, menghamba kepada sang Maha Kuasa dengan segenap jiwa. Setelah kita menanamkan pikiran yang posiif dalam benak kita, kemudian diiringi dengan usaha yang meletup-letup, pada akhir dari kesemuanya kita wajib melancarkan do’a, meminta kepada sang Maha Kuasa agar kiranya semua usaha yang kita lakukan bisa berimbas kepada hasil yang memuaskan.

Do’a tanpa usaha adalah bohong. Usaha tanpa do’a adalah sombong. Demikian Assad, penulis yang super ini, mengingatkan kita.


Jakarta, 30 Juli 2015

Komentar

Google + Follower's