Notes From "Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam" Karya Bambang Noorsena

Dalam perbincangan hubungan agama-agama, pemikiran teologis sampai saat ini masih dipercaya sebagai sebuah kunci untuk membuka hati penganutnya guna memupuk kesadaran ideologis. (dr. Komaruddin Hidayat)

Dalam kristen Ortodoks ada dua aliran, Kristen Kalsedonia dan Non-Kalsedonia. Kristen Kalsedonia meliputi kristen-kristen yang ada di barat (Roma, Yunan, dll). Adapun yang non Kalsedonia adalah meliputi kristen di Syria dan Koptik Mesir.

Para penganut kristen Non Kalsedonia adalah yang terbebas dari heresy (kesesatan), dimana penganutnya masih setia memegang ajaran-ajaran lama gereja. Aliran kristen ini populer di kalangan akademis Indonesia sebagai “Kristen Santri,” sebagai kita pahami bahwa santri adalah interpretasi dari penganut ajaran yang memegang teguh literatrur klasik sebagai sandaran beragama.

Dan memang, jika ditelisik lebih dalam, kita dapati bahwa ada semacam kesamaan ajaran yang terkandung antara Kristen non-Kalsedonia dengan Islam. Dalam Islam adalah ritual shalat 5 waktu, sedang dalam ritual kristen Non Kalsedonia ada shalat 7 waktu (Sab’u shalawat). Dan ternyata 7 waktu shalat tersebut senada dengan waktu shalat agama Islam, yakni Subuh, Dhuha (jam 9 pagi), Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya, Tahajud (jam 12 malam).

Penganut ajaran kristen non Kalsedonia sejalan dengan Islam dalam menyanggah pernyataan Injil tentang trinitas. Dalam literatur klasik didapati bahwa Isa adalah utusan Allah yang dlahirkan oleh Perawan Maryam, bukan sebagai Putra Allah.

Setiap agama memiliki klaim-klaim eksklusif yang jika dibawakan secara vulgar akan menjadi pemicu kesenjangan hubungan antar agama.

Di ruang pengadilan Pakistan (1984) kesaksian seorang pria kristen bernilai separuh pria muslim.
Isa al-Masih bersabda : “  Akulah terang dunia. Barangsiapa mengikuti Aku, ia tidak berjalan dalam kegelapan tetapi memperoleh terang hidup.” (Yohanes 8 : 12)

Pernyataan di atas yang dijadikan legitimasi oleh orang kristen sebagai pemilik agama paling benar adalah ambigu. Bagaimana bisa mereka menerima Injil sebagai kitab suci, namun mereka mengimani sebagian dan mengingkari sebagian yang lain. Mereka imani ajaran yang mendukung hawa nafsu mereka namun meninggalkan ayat-ayat yang memberangus tindak-tanduk keinginan mereka. Termasuk soal pelarangan LGBT, pelarangan minum Khamr, dan kepercayaan bahwa otoritas Nabi Isa sudah tergantikan saat Nabi Muhammad Saw tiba ke muka bumi. (pen)

Prof. Dr. Nurcholis Majid berkata : Islam itu semakin jauh dari pusatnya (Timur Tengah) semakin fanatik. Cak Nur mencontohkan kasus umat Islam di Pakistan, Malaysia, Indonesia dalam mengucapkan selamat Natal menjadi suatu masalah. Padahal, hubungan kekerabatan Islam-Kristen di negara-negara Arab : Mesir, Palestina, Syria, Libanin tidak mempermasalahkan hal-jal demikian.

Bukti toleransi beragama yang terjadi di negeri-negeri Arab salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh presiden Palestina, Yasser Arafat. Dimana beliau setiap akhir tahun pergi ke Gereja Kelahiran Yesus (Kanisah Al-Mahd) di Bertlehem, berpidato dalam bahasa Arab lalu mengucapkan selamat Natal “Kullu Amin Wa Antum Bikhair,” “Setiap tahun kiranya antum selalu baik.”

Begitupun dengan syaikh Al-Azhar yang jika tiba hari raya Paskah mereka berkunjung ke Anba’ Al-Muazhim Sehnuda III, Patriarkh Iskandariyah dan pemimpin tertinggi Gereja Koptik Mesir, seraya mengucapkan kata selamat  begitupun dari pihak gereja yang kembali mengucapkan selamat jika tiba hari-hari besar Islam

Kajian Kritik Atas Gagasan Bambang Noorsena dalam Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam

Keempat periwayat Injil, Markus, Yohanes, Lukas, Matius, mengisahkan perjalanan spiritual Nabi Isa hanya dengan terbatas. Di dalam Injil hanya dikisahkan saat-saat Yesus dilahirkan, disunat pada umur 8 hari dan diserahkan ke Bait Allah. Ia kembali muncul di Bait Allah yang sama pada umur 12 tahun. Yesus tampil di muka umum pada umur 30 tahun. Maka jarak yang tidak dikisahkan di dalam Injil, yakni antara umur 12-30, berkisar kira-kira 18 tahun, itu disebut dengan Silent Period atau the Lost Yeras Of Jessus.

Dengan tidak dikisahkannya perjalanan tersebut di dalam Injil, maka terbuka peluang untuk bermunculnya beragam tafsir yang dilakukan oleh pihak-pihak Gereja. Antara satu dan lainnya sama-sama berusaha untuk membuat rekaan apa yang dilakukan oleh Nabi Isa dalam rentang 18 tahun itu

Bambang Noorsena kemudian mengutip sebuah contoh kisah-kisah yang dianggap apokrif dan dijadikan rujukan oleh ahlul bid’ah pada Injil al-Tufuliyah (Arabic Gospel Of Infancy) yang berasal dari abd ke 7 masehi. Dalam buku ini dikisahkan bahwa Nabi Isa saat berada dalam buaian mampu berbicara “Akulah Yesus, Putra Allah,” kata bayi Yesus kepada ibunya, “yang dilahirkan sebagai berita gembira dari Malaikat Jibril kepadamu dan aku diutus untuk keselamatn dunia.”

Terlepas dari subtansi perkataan yang diucapkan oleh Yesus pada masa bayi itu, Nabi Isa memiliki suatu kemukjizatan yang melekat dalam dirinya, salah satunya adalah mampu untuk mengatakan “Aku adalah hamba Allah, aku diberikan kita dan Dia telah menjadikanku Nabi,” pada saat masih dalam buaian ibunya tercinta, Maryam As.

Maka tuduhan yang dilayangkan oleh Bambang Noorsena yang mengungkapkan bahwa Nabi Isa bisa berbicara pada masa bayi adalah kisah yang apokrif adalah tidak benar dan bertentangan dengan apa yang digambarkan oleh Al-Qur’an.


Jakarta, 25 Juli 2015

Komentar

Google + Follower's