Uang dan kebahagian

Kemarin saya membaca koran harian kompas (02 Agustus 2015), dalam salah satu rubrik psikologi diurai relasi antara uang dan kebahagiaan. Sejauh mana uang memberi dampak kebahagiaan bagi jiwa seseorang. Apakah seorang yang tak ber-uang bisa dipastikan kebahagiaan lenyap dari kehdupannya. Semua dipaparkan dengan rinci dengan merujuk satu buku karangan orang barat.

Ternyata dalam realita kehidupan orang kaya, tebalnya uang di kantong terkadang  justru menjadi pelenyap kebahagiaan. Khawatir hilang, padatnya kesibukan yang amat formal, serta kesehatan yang kurang terkontrol akibat konsumsi makanan yang amat beragam tanpa memperdulikan kualitas gizi makanan yang dicerna, dan lain sebagainya berpotensi untuk mengundang keresahan dan kegelisahan dalam hati. Uang yang banyak tak lagi menjamin kebahagiaan.

Kebijakan dalam mengatur siklus pengaturan keuangan serta kepandaian merawat kesehatan adalah beberapa faktor yang akan membuat manusia meraih kebahagiaan. Karena jika boros dan berlebih-lebihan sudah menggerogoti pendirian harapan apa lagi yang akan datang, karena jika kesehatan tidak diperhatikan kebahagiaan apa yang diharapkan? Uang yang bermilyar-milyar pun tak akan mampu menjadi penawar sakit yang didera tersebut.

Kedua hal tersebut, mengatur jalan keuangan serta kesehatan dengan professional, memang benar mampu membantu manusia merengkuh kebahagiaan. Namun, Islam lebih memberi solusi yang praktis dan teruji melahirkan bukti yang nyata.

Dzikrullah dan Syukur adalah dua obat penenang tambahan yang melengkapi saran psikolog Kompas tersebut.

Dzikrullah yakni senantiasa mengingat Allah. Bukankah tersurat dalam al-Qur’an juz 13 pertengahan, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang tak keruan. Ketenangan yang klimaks dan optimal. Tips ini datang dari Allah sang pencipta manusia. Zat yang bukan hanya mengerti tentang keadaan jiwa manusia, melainkan Dia-lah yang menciptakan jiwa dengan segala kerahasiaannya yang banyak tidak diketahui manusia.

Syukur berarti selalu menikmati nikmat yang Allah limpahkan. Baik banyak ataupun sedikit, rizki yang kita terima harus kita syukuri agar diri ini merasa menjadi orang terkaya sedunia! Jika pandai bersyukur sudah melekat dalam diri kita, kekayaan mana lagi yang lebih waah darinya?

Maka, nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?


Jakarta. Senin 03 Agustus 2015. 11:50

Komentar

Google + Follower's