ALOKASI DAYA MANUSIA (sebuah renungan tentang efektifitas waktu)


Manusia diberi kekuatan oleh Tuhan dengan kapasitas terbatas. Ada dinding-dinding dimana mata tak mampu menembusnya. Ada jarak-jarak dimana telinga tak kuasa menangkap suara di kejauhan. Terbentang keterbatasan di hadapan manusia. Begitupun daya tenaga beraktivitas. Tidak bisa kita bekerja tanpa henti sebagaimana mesin. Tubuh yang membungkus ruh yang kita gunakan didesain sedmikian rupa dengan kaidah-kaidah yang harus diperhatikan. Tak bisa berbuat seenaknya. Ada undang-undang penggunaan yang wajib dipatuhi.

Alokasi Daya, demikian istilahnya.

Termasuk mensyukuri nikmat Tuhan, seorang hamba menghargai waktu dan daya yang diberikan Tuhan untuk mewujudkan amal kebaikan.

Rasulullah Saw bersabda : Termasuk dari kebaikan yang dimiliki oleh muslim, ia meninggalkan apa yang tidak membuahkan manfaat.

Daya penglihatan, daya berbicara, daya menulis, seyogyanya didistribusikan untuk membangun investasi masa depan.

Jangan melihat/mematuti hal-hal yang tidak berguna. Pergunakan untuk menyaksikan keajaiban-keajaiban Tuhan yang ditebarkan di muka bumi. Manfaatkan untuk merenungi hikmah-hikmah yang terkandung di balik ciptaan Tuhan yang begitu melimpah di muka bumi.

Jangan berbicara atau bercanca untuk hal-hal yang tidak jelas, yang hanya akan menguras tenaga saja. Energi terbatas maksimalkan dan optimalkan untuk berkarya. Gunakan untuk membaca al-Qur’an, lelahkan mulut untuk mentransfer ilmu ke murid, capekkan mulut untuk berkoar menguji ketahanan argumentasi saat diskusi ilmiah digelar.

Menyenangkan hati tidak meski dengan bercanda yang tak memiliki laba. Ada banyak metode untuk membuat jiwa bungah. Menenggelamkan diri dalam keasyikan berdikusi lepas, membaca yang ringan-ringan, menulis cerita-cerita pribadi yang unik juga berkhasiat sebagai pelipur penat.

Sibukkan diri dengan menulis yang bermanfaat. Jangan sampai disibukkan dengan maniak gadget. Gunakan perangkat elektronik seperlunya saja. Jangan berlarut-larut di dalamnya tanpa membuahkan manfaat buat kita. itu hanya akan menelurkan penyesalan di masa mendatang. Tidak percaya? Buktikan.


PTIQ, 31 Agustus 2015

Komentar

Google + Follower's